OPINI  

Urgensi Ekoliterasi demi Biofilia

Kasdin Sihotang, Dosen Filsafat Moral Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta; Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia. Foto: Istimewa

Oleh Kasdin Sihotang

Dosen Filsafat Moral Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta; Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia

DI TENGAH hancurnya lingkungan hidup di republik ini, kata ecoliteracy dan biofilia merupakan dua kata yang relevan dan penting diangkat ke ruang publik, minimal sebagai wacana, dan tentu sangat baik, menjadi upaya konsientisasi, meminjam istilah Paulo Freire atau penyadaran warga tentang lingkungan hidup. Upaya ini tentunya dapat menjadi bagian dari tindaklanjut sikap pemerintah yang mencabut ijin dan hak konsesi sejumlah perusahaan sebagai penyebab terjadinya bencana ekologis yang menimpa bangsa Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera di akhir tahun 2025.

Kata ecoliteracy digunakan oleh Fritjop Capra dalam bukunya, The Web of Life (2001). Kata ini lengkapnya adalah ecological literacy.  Kata ecology adalah paduan dua kata Yunani, yakni eco dan logos. Kata eco dasarnya kata oikos, artinya rumah tangga atau dalam pemahaman luas berarti alam semesta, bumi tempat tinggal semua khidupan, habitat atau rumah tinggal semua kehidupan. Sedangkan kata logos berarti ilmu. Dengan demikian ekologi berarti ilmu tentang bagaimana merawat dan memelihara alam semesta tempat tinggal makhluk hidup.

Secara luas dapat juga dikatakan, ecology mengandung pengertian ilmu yang mengkaji hubungan antara anggota rumah tangga di alam semesta atau lingkungan sekitar.  Dalam bukunya, Ekoteologi (2025), Matius Mali menandaskan bahwa kata oikos lebih dikaitkan dengan bumi sebagai habitat dari seluruh makhluk ciptaan.

Makna Ekoliterasi

Selanjutnya kata literacy dalam Bahasa Inggris artinya adalah melek huruf. Kata ini menggambarkan keadaan orang yang tidak lagi buta huruf, orang yang sudah tahu membaca dan menulis. Dapat juga diartikan literasi sebagai keadaan di mana orang sudah paham atau tahu tentang sesuatu.

Dari pengertian etimologis di atas, ecoliteracy atau ecological literacy berarti keadaan di mana orang sudah tercerahkan tentang pentingnya lingkungan hidup. Singkatnya, ecoliteracy menggambarkan kesadaran tentang pentingnya lingkungan hidup. Dengan demikian orang yang sudah sampai pada taraf ecoliteracy adalah orang yang sudah sangat menyadari betapa pentingnya lingkungan hidup, betapa pentignya merawaat bumi, ekosistem dan alam sebagai tempat tinggal dan berkembangnya kehidupan.

Atas dasar gerakan kesadaran ini, manusia menata pola dan gaya hidupnya menjadi pola dan gaya hidup yang selaras dengan lingkungan hidup. Dengan kesadaran itu manusia menuntun hidupnya dalam segala dimensinya sampai menjadi sebuah budaya yang merasuki semua anggota masyarakat dengan tujuan tercipta sebuah masyarakat yang berkelanjutan.

Nekrofilia vs Biofilia

Sementara kata biofilia digunakan oleh Erich Fromm dalam bukunya, War within Man: A Psychologycal Enquiry Into the Roots of Destructiveness (1963). Dalam buku tersebut Erich Fromm memperlawankan kata biofilia dengan nekrofilia. Kata nekrofilia berasal dari kata nekro (Y) yang artinya adalah mayat, dan philia (Y) atau filia (I), artinya cinta atau hasrat. Fromm menjelaskan bahwa kata tersebut digunakan untuk menandai perverensi seksual. Di kemudian hari, konteks maknanya diperluas, yakni terkait dengan sifat-sifat atau perilaku yang merusak, dan menghancurkan kehidupan orang lain.

Artinya, ciri nekrofilia adalah sikap negatif yang sering didasarkan pada kekuatan untuk merusak kehidupan orang lain. Di sini terjadi polarisasi, yakni yang memiliki kekuasaan membunuh dan yang tidak memiliki kekuatan untuk itu. Jadi, nekrofilus (orang yang mencintai kematian) memiliki kecenderungan mencintai kegelapan dan segala arah yang berlawanan dengan kehidupan.

Lawan dari kata nekrofilius adalah biofilia. Kata ini merupakan paduan dari kata bio, yang artinya “hidup” dan philia/filia, artinya adalah kecintaan. Jadi, biofilia adalah temperamen atau karakter, ciri perilaku seseorang yang sangat peduli pada kehidupan, bukan hanya kehidupan bagi dirinya sendiri, melainkan juga kehidupan bagi makhluk yang lain.

Fromm menyatakan bahwa biofilia mewujud dalam proses jasmaniah seseorang, dalam emosi, dalam pikiran, dan gesturnya. Jadu, orientasi biofilius mengungkapkan dirinya dalam keutuhan. Bentuk paling dasar orientasi ini menurut Fromm terletak pada kecenderungan seluruh organisme hidup untuk hidup.

Bagi Fromm, seorang biofilius melihat kecenderungan hidup dalam semua substansi di sekitarnya seperti rumput yang merengsek di sela-sela bebatuan demi memperoleh cahaya dan hidup, hewan yang berjuang mencari makan, manusia yang berjuang berkarya demi mempertahankan hidup.

Jadi, orientasi biofilius adalah kecenderungan mempertahankan kehidupan dan berjuang melawan kematian. Dan kecenderungan mempertahankan kehidupan dan melawan kematian itu mewakili satu aspek dari dorongan hidup.

Artinya, ada aspek yang lain terus menjadi perhatiannya, dan aspek itu bersifat positif seperti hidup yang cenderung berpadu dan menyatu, bersatu dengan entitas-entitas yang berbeda da berawanan namun tumbuh saling mendukung. Penyatuan dan pertumbuhan terpadu adalah ciri segala proses hidup, termasuk rasa dan pikiran.

Karakter Biofilia

Menarik juga penegasan Fromm bahwa orang yang berkarakter biofilus memiliki orientasi produktif, artinya menghasilkan hal-hal yang baik, yang dapat dirasakan oleh orang lain. Ia yang sangat mencintai kehidupan, tertarik dengan proses hidup di semua bidang, dan terus berusaha membangun, bukan menghancurkan.

Dia mampu berpikir dan lebih suka mencari sesuatu yang baru daripada merasa nyaman di zonanya sendiri. Dia lebih mencintai petualangan dan perjuangan bersama demi kehidupan itu. Baik bagi biofilus adalah yang membawa dan menghormati kehidupan, sebaliknya jahat adalah yang membawa kematian, menceraiberaikan satu sama lain dan memporakporandakan alam.

Nurani biofilus digerakkan oleh ketertarikannya pada kehidupan dan sukacita, tepatnya usaha moral yang menguatkan sisi cinta kehidupan dalam dirinya. Orang ini tidak tenggelam dalam rasa sesal dan bersalah yang hanyalah aspek benci diri dan kesedihan. Justru dengan segera dalam situasi itu ia berpaling pada kehidupan dan berupaya berbuat kebaikan.

Dengan melihat uraian tentang makna kata ecology, literacy dan biofilia, nampaknya tidak salah kita mengatakan bahwa ecoliteracy merupakan kegiatan yang sangat penting demi mempertahankan kehidupan itu sendiri.

Secara lain dapat dikatakan, ketika orang memiliki kesadaran dan pengetahuan yang baik dan memadai tentang alam dan hubungannya dengan manusia, maka sangat jelas dari sana akan tumbuh rasa tanggung jawab dan kepedulian pada kehidupan.

Konkretnya, orang yang peduli pada alam semesta adalah orang yang peduli kepada kehidupan. Dan kepedulian itu dilatarbelakangi, bahkan digerakkan oleh kesadarannya yang besar tentang makna kehidupan itu sendiri.

Melek Prinsip Ekologi

Pertanyaan kita tentunya: apa yang perlu disadari, tepatnya diketahui? Menurut penulis, hal utama adalah ciri mendasar alam dan hubungannya dengan manusia. Dalam kerangka ini prinsip-prinsip alam yang digagaskan oleh Fritjop Capra menjadi substansi atau isi pengetahuan yang penting demi menjaga kehidupan pengisi alam.

Socrates pernah mengatakan bahwa pengetahuan merupakan dasar untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu. Tanpa pengetahuan tidak mungkin ada dasar bagi seseorang untuk memberikan penilaian. Dan dalam hal ini persis itulah yang ingin disasar oleh Fritjop Capra dalam ecoliteracy itu.

Terkait dengan itu Fritjop Capra memperkenalkan lima prinsip ekologi. Prinsip pertama, prinsip interdependensi. Kenyataan hakiki dalam alam ialah bahwa semua anggota komunitas ekologi berada, dan hidup serta berkembang dalam satu kesatuan mata rantai yang saling terkait.

Di sana ada jejaring dan relasi yang luas dan rumit antar organisme. Di sana pula masing-masing hidup sesuai dengan jati dirinya. Namun satu hal yang menandainya adalah interdependensi artinya ketergantungan timbal balik dari semua prosesi kehidupannya.

Perilaku setiap kehidupan dalam ekosistem tergantung pada perilaku anggota komunitas ekologis lainnya, bahkan keberhasilan seluruh komunitas ekologis sangat tergantung pada keberhasilan setiap anggota kehidupannya. Ini menuntut cara bereksistensi yang kolaboratif, utuh dari setiap organisme kehidupan di dalamnya.

Di sini berlaku pars pro toto, artinya sebagian bagi keseluruhan, sekaligus totem pro parte, artinya keseluruhan menentukan yang sebagian. Inilah prinsip independensi alam. Prinsip kedua adalah recycling atau daur ulang. Fritjop Capra mengakui bahwa hubungan yang terjalin di dalam interdependensi alam merupakan hubungan siklis.

Dalam relasi ini tidak ada sebab atau faktor tunggal yang menentukan keberlangsungan kehidupan lainnya. Kesadaran akan prinsip ini sangat diharapkan oleh Capra muncul dalam diri setiap individu demi bertahannya secara berkelanjutan kehidupan itu sendiri, termasuk dalam pola pembangunan ekonomi dan industri. Sebab hanya dengan cara demikianlah keberlanjutan kehidupan itu akan terjadi.

Prinsip ketiga adalah kemitraan. Capra menegaskan bahwa prinsip independensi dan daur ulang hanya mungkin berlangsung secara berkelanjutan kalau ada kemitraan dan kerjasama antar organisme alam sebagai komunitas kehidupan. Kehidupan dimuka bumi hanya mungkin bertahan bertahun-tahun, bahkan ribuan tahun karena ada kerjasama dalam proses perkembangan itu.

Di sana ada saling menunjang di antara berbagai bidang kehidupan. Ini berarti ada kemitraan yang jelas. Kemitraan mengandaikan adanya keterbukaan, mendukung dan menghidupi satu sama lain. Kesadaran akan hal ini sangat diperlukan demi mempertahankan kehidupan itu sendiri.

Prinsip keempat adalah fleksibilitas. Prinsip ini memungkinkan alam dapat beradaptasi secara mudah dengan berbagai perubahan dan kondisi yang timbul dalam proses perkembangan alam. Fleksibilitas adalah kekuatan alam dengan mudah kembali menjaga dan mempertahankan keseimbangan dan unitas dirinya pada saat bertubrukan dengan berbagai dinamika, termasuk berhadapan dengan ragam anomali atau penyimpangan yang terjadi dalam ekosistem alam.

Fleksibilitas adalah prinsip yang membuat alam tidak bersifat statis atau kaku, melainkan membuatnya hidup dan berkembang terus. Dinamika di dalam semesta bisa terjadi justru karena prinsip fleksibilitas itu menjadi bagian dari mekanisme kehidupan dalam alam itu sendiri.

Prinsip kelima adalah keragaman. Hakikat alam dan kehidupan begitu beraneka ragam. Pluralitas ini memungkinkan alam dan kehidupan berkembang termasuk dengan membuka diri bagi interdependensi dan fleksibilitas untuk menyerap pengaruh luar dari komunitas kehidupan yang berbeda. Keragaman ini adalah kekayaan alam semesta dan membuat ekosistem hidup secara dinamis dan fleksibel.

Kesadaran akan kelima prinsip ekologi di atas merupakan hal yang sangat penting dalam proyek ecoliteracy. Kesadaran yang tinggi akan prinsip-prinsip tersebut tentunya tidak hanya bercokol dalam otak atau pikiran seseorang. Kesadaran itu seyogianya berlanjut pada perilaku dan tindakan. Artinya, setiap orang perlu memperlihatkan tanggung jawab yang konkret untuk merawat kehidupan yang ada di dalam alam. Di sinilah urgensi ekoliterasi demi biofilia.