Oleh Yosua Noak Douw
Tokoh Muda Kristen di Tanah Papua
TEPAT 5 Februari 1855, di pesisir Pulau Mansinam, dua misionaris asing: Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler menginjakkan kaki sambil berlutut dan berdoa, “Dalam nama Tuhan, kami menginjak tanah ini.”
Kalimat sederhana itu bukan sekadar doa pembuka perjalanan, melainkan titik awal perubahan peradaban di tanah Papua. Setelah 171 tahun berlalu, pada Kamis (5/2) hari ini, kita berdiri di atas warisan iman tersebut dengan satu pertanyaan reflektif dan mendalam: apakah Injil masih hidup di hati kita atau hanya tinggal sebagai sejarah yang dirayakan?
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-171 Pekabaran Injil di Tanah Papua tahun 2026 bukan sekadar acara seremoni tahunan gerejawi. Ia adalah momentum rohani, sejarah, dan peradaban bagi masyarakat tanah Papua. Injil yang datang ke tanah ini bukan hanya membawa Kitab Suci, tetapi juga membawa literasi, pendidikan, kesehatan, nilai kemanusiaan serta fondasi moral bagi kehidupan sosial.
Injil membentuk karakter, memperkenalkan kasih, dan menuntun masyarakat bumi Cenderawasih memasuki peradaban baru yang berlandaskan iman dan persaudaraan. Momentum ini mengingatkan kita umat Kristiani bahwa Papua tidak hanya dibangun dengan kekayaan sumber daya alam (SDA), tetapi juga dengan kekayaan iman.
Oleh karena itu, tema HUT ke-171 Pekabaran Injil di Tanah Papua Tahun 2026: Pertobatan Menghadirkan Keselamatan menjadi sangat relevan untuk direnungkan bersama sebagai panggilan untuk kembali kepada jati diri Injili yang sejati.
Pertobatan sebagai Transformasi Hidup
Dalam tradisi Alkitab, pertobatan dikenal dengan istilah metanoia, yaitu perubahan pikiran dan hati secara total. Dalam bahasa Ibrani, pertobatan disebut shub, yang berarti berbalik kembali kepada Tuhan. Pertobatan bukan sekadar menyesal atau merasa bersalah. Pertobatan adalah keputusan sadar untuk meninggalkan jalan lama dan berjalan dalam terang Tuhan.
Pertobatan sejati selalu menghasilkan perubahan nyata. Ia mengubah kebencian menjadi kasih, kekerasan menjadi perdamaian, ketidakjujuran menjadi integritas, dan keputusasaan menjadi pengharapan. Tanpa pertobatan, keselamatan hanya menjadi konsep teologis yang indah diucapkan. Namun dengan pertobatan, keselamatan menjadi pengalaman hidup yang nyata dan dirasakan.
Pertobatan bukan hanya urusan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga komitmen untuk memperbaiki relasi dengan sesama. Dari pertobatan lahirlah kehidupan baru yang membawa harapan bagi diri sendiri dan bagi masyarakat. Keselamatan dalam iman Kristen tidak hanya berbicara tentang kehidupan kekal di surga.
Keselamatan adalah pemulihan total manusia: pemulihan hubungan dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Keselamatan menghadirkan damai sejahtera, keadilan, persaudaraan, dan kehidupan yang bermartabat. Keselamatan juga memiliki dimensi sosial. Ketika seorang pemimpin bertobat dan memimpin dengan jujur, rakyat merasakan keselamatan ekonomi dan keadilan.
Ketika seorang pemuda bertobat dari kekerasan dan narkoba, lingkungan merasakan keselamatan sosial. Ketika gereja kembali menjadi terang dan garam, jemaat merasakan keselamatan rohani. Keselamatan yang sejati harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Keselamatan yang dihadirkan melalui pertobatan akan membawa damai dalam keluarga, keadilan dalam masyarakat, dan harapan bagi generasi mendatang.
Pertobatan dalam Konteks Tanah Papua
Dalam konteks tanah Papua, pertobatan harus dimaknai secara luas: pribadi, sosial, dan kolektif. Pertobatan pribadi mengajak setiap individu meninggalkan kebiasaan yang merusak diri dan sesama.
Pertobatan sosial mengajak masyarakat untuk membangun persaudaraan, menghargai perbedaan, dan menciptakan perdamaian. Pertobatan kolektif mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun Papua yang bermartabat.
Bagi para pemimpin, pertobatan berarti memimpin dengan hati yang takut akan Tuhan. Kepemimpinan yang lahir dari pertobatan akan menghadirkan kejujuran, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat. Kekuasaan tidak lagi menjadi alat kepentingan pribadi, melainkan sarana pelayanan bagi kesejahteraan bersama.
Bagi generasi muda Papua, pertobatan adalah panggilan untuk kembali kepada nilai iman dan karakter. Generasi muda adalah harapan masa depan Papua. Pertobatan generasi muda berarti menjauhi narkoba, kekerasan, dan kebiasaan merusak diri, serta bangkit menjadi generasi yang berpendidikan, berkarakter, dan takut akan Tuhan.
Gereja memiliki peran strategis dalam menghadirkan pertobatan dan keselamatan di Tanah Papua. Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah, tetapi harus menjadi terang dan garam bagi masyarakat. Gereja harus hadir di tengah persoalan umat, menjadi jembatan perdamaian serta menyuarakan kebenaran dan keadilan.
Gereja harus menjadi rumah bagi semua orang, terutama bagi mereka yang lemah dan tersisih. Gereja harus menumbuhkan generasi yang beriman, berkarakter, dan siap membangun Papua. Dengan demikian, gereja akan tetap relevan dan menjadi kekuatan moral bagi masyarakat.
Momentum Kebangkitan Rohani Papua
Peringatan 171 tahun Pekabaran Injil harus menjadi momentum kebangkitan rohani di tanah Papua. Kebangkitan yang tidak hanya terlihat dalam perayaan, tetapi dalam perubahan hidup yang nyata. Kebangkitan yang menghadirkan damai di tengah perbedaan, keadilan di tengah tantangan, dan harapan bagi masa depan.
Hari ini kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kita masih hidup dalam nilai Injil? Apakah kehidupan kita membawa damai bagi sesama? Apakah gereja masih menjadi terang? Apakah pemimpin memimpin dengan hati Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini penting untuk direnungkan agar peringatan Pekabaran Injil menghasilkan perubahan nyata.
Papua membutuhkan pertobatan untuk menghadirkan keselamatan. Keselamatan yang dirasakan dalam keluarga, dalam gereja, dalam masyarakat, dan dalam kehidupan berbangsa. Sebab pertobatan membuka pintu keselamatan, dan keselamatan menghadirkan masa depan.
Mari jadikan momentum HUT Pekabaran Injil ke-171 ini sebagai titik balik. Bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi komitmen bersama untuk hidup dalam pertobatan yang sejati. Jika pertobatan sungguh terjadi, maka keselamatan akan nyata hadir di Tanah Papua —membawa damai, persatuan, dan harapan bagi semua.
Selamat memperingati HUT Pekabaran Injil ke-171 di Tanah Papua Tahun 2026. Kiranya terang Injil terus menyinari Tanah Papua dari generasi ke generasi. Tuhan memberkati Tanah Papua.








