OPINI  

Merpati dan Damai yang Membasuh Jiwa di Kwamki Narama

Laurens Minipko, Pengamat Sosial Budaya Papua. Foto: Istimewa

Oleh Laurens Minipko

Pengamat Sosial Budaya Papua

PAGI itu saya baru saya pulang ibadah. Khotbah pastor di mimbar gereja sederhana. Ada bagian tentang Nabi Nuh. Tentang air bah; tentang dunia yang tenggelam dalam ketidakpastian.

Namun, yang menarik dari khotbah itu bukan banjirnya. Bukan pula bahtera. Melainkan satu tindakan kecil: Nuh melepas burung merpati. Bukan elang. Bukan pula gagak tetapi merpati.

Ia dilepaskan bukan untuk menyelamatkan dunia. Hanya untuk mencari tanda. Apakah daratan masih ada. Apakah hidup masih mungkin dilanjutkan. Merpati itu kembali. Ia membawa isyarat; bukan kepastian besar. Hanya tanda kecil. Tapi cukup.

Simbol yang sama muncul dalam Pembaptisan Yesus. Roh Kudus dan penyataan Allah digambarkan turun seperti lidah api dan burung merpati. Lagi-lagi merpati. Bukan lambang kuasa. Melainkan damai. Awal baru. Sesuatu yang pelan, tapi menentukan arah.

Entah mengapa, simbol itu terasa dekat dengan Mimika belakangan. Senin (11/1) di Distrik Kwamki Narama, Mimika, Papua Tengah, akan berlangsung upacara perdamaian antar-kerabat, disimbolkan dengan patah panah dan belah rotan. Para kerabat itu sempat bertikai.

Luka sosialnya nyata dan menganga. Tidak selalu tampak, tapi terasa. Dalam relasi, dalam ingatan, dan dalam keseharian. Konflik antar kerabat memang begitu. Tidak seperti banjir besar. Tapi sulit surut.

Upacara perdamaian penting. Damai bukan berhenti pada peristiwa. Ia adalah proses. Peristiwa itu penanda awal. Ia ibarat daun zaitun pertama, kalau meminjam kisah Nuh.

Yang diuji dalam peristiwa sakral nanti adalah justru setelahnya. Setelah ritual selesai. Setelah semuanya pulang. Apakah relasi berubah? Apakah curiga mereda? Apakah luka diakui? Di titik ini, kehadiran negara menjadi teramat penting.

Kehadiran negara nanti laksana merpati. Ia sebagai penanda atau penafsir tanda. Dalam kisah Nuh, keselamatan tidak lahir dari perintah. Nuh tidak menyuruh air bah surut. Ia menunggu. Ia memahami situasi. Ia melepas merpati.

Langkah Awal Transformasi

Kehadiran kepala daerah sungguh sangat bermakna. Memberi rasa aman. Memberi legitimasi. Memberi tanda bahwa perdamaian nanti adalah langkah awal dari proses transformasi yang akan berjalan tahap demi tahap hingga akhirnya menemukan daratan perdamaian yang penuh.

Perdamaian yang tumbuh dari kesadaran para pihak jauh lebih tahan. Ia tumbuh dan mekar di atas pilar keadilan sosial, ekonomi, dan politik. Negara tetap punya pekerjaan rumah. Mengurangi ketimpangan. Mengelola konflik tanah dengan sensitif.

Negara hadir demi memastikan kebijakan menyembuhkan luka yang diderita. Merpati dalam kisah Nuh terus terbang. Namun ia kembali. Membawa pesan. Memberi arah. Itu penting!

Perdamaian juga begitu. Tidak cukup dirayakan. Ia harus diterjemahkan. Menukik lebih dalam ke dalam ruang dialog lanjutan. Peran tokoh adat dan agama, pemuda, dan jangan lupa perempuan. Kebijakan yang berpihak pada relasi sosial yang adil. Itu peta terbang menemukan damai. Bila tidak, ia cepat pudar.

Di Kwamki Narama, mungkin tidak ada burung merpati yang dilepas ke udara. Tapi jika ada kata maaf yang jujur. Ada pengakuan atas luka. Ada kesediaan menahan diri. Maka merpati itu sejatinya sudah terbang. Merpati itu akan kembali memberi tanda. Besok.

Dan seperti dalam kisah Nuh, itu sudah cukup untuk berharap: daratan bersama masih mungkin ditemukan. Damai itu masih dirindukan. Dan Masih mungkin diperjuangkan. Amolongo, Nimao Witimi, Saipa.