Rakyat
Rakyat ialah kita
jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja.
Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka.
Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka.
Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang berkeringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta.
Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa.
Pasaman, Oktober 1961
Sumber: Sastra (1962)
Sonnet Buat Ika
Siapakah kau, mengikut daku dari bukit ke bukit
tidakkah tahu, dari puncak ini tinggal nampak gugusan alit
rumah yang dulu berkilau
kebun yang dulu menghijau
Pulanglah. Jangan lagi kau bisikkan kisah
tentang dua anak berlarian di kebun rumah
menangkap nyanyi indah
memburu mimpi putih di pagi merah
Engkau yang asing bagiku
tidakkah tahu, di bukit lain itu
biru puncak memanggil daku
Pulanglah. Bila canang bertalu
di kotamu engkau ditunggu
rindu ibu dan raih kasihmu
Sumber: Puisi, Penerbit Pustaka Jaya, (1973)
Hartojo Andangdjaja (4 Juli 1933–30 Agustus 1990) adalah sastrawan Indonesia angkatan 1966. Mengawali kariernya sebagai penulis lepas, kemudian mengasuh sejumlah media massa sebagai redaktur.
Hartojo menulis karya-karya sastra dalam bentuk fiksi dan kritik sastra. Esainya, Pola-Pola Pantun Dalam Persajakan Modern menerima hadiah dari majalah Sastra asuhan HB Jassin (1962).
Pendidikan dasar dan menengah dilalui di lingkungan sekolah Islam Muhammadiyah Surakarta. Pendidikan terakhirnya adalah Muallimin Muhammadiyah Solo, yang kemudian hari berganti nama menjadi Sekolah Guru Muhammadiyah Solo, sejajar dengan Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP), jurusan Bahasa Indonesia tahun 1953.
Pendidikannya tersendat-sendat akibat penjajahan Jepang dan perang revolusi kemerdekaan Republik Indonesia. Setamat dari sekolah guru, ia mengajar di beberapa sekolah swasta SLTP dan SMA di Solo tahun 1953–1956. Sambil mengajar ia mengajukan lamaran menjadi guru pegawai negeri.
Lamarannya pun diterima dan ia ditugaskan menjadi guru SLTP Negeri Pasaman, Sumatera Barat. Selain itu, ia juga menjadi tenaga honorer di SMA Negeri Simpang Empat, Pasaman, Sumatera Barat (1957–1962).
Ketika terjadi peristiwa PRRI Permesta awal tahun 1960-an di Sumatera Barat, ia dituduh berpihak pada republik sehingga ia memilih menyelamatkan diri dengan meninggalkan tanah Minang, tanpa sempat mengurus kepindahan tugas mengajarnya dari kedua sekolahan tersebut.










