KARUBAGA, ODIYAIWUU.com — Bupati Kabupaten Tolikara Willem Wandik, S.Sos, Sabtu (25/10) mengajak para tokoh gereja, adat, para pemimpin daerah serta seluruh umat Tuhan di tanah Papua bangkit dan memimpin diri sendiri dalam terang Injil.
Willem Wandik menyampaikan ajakan tersebut saat puncak peringatan Satu Abad Nubuatan IS Kijne di Tanah Papua di Karubaga, kota Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan.
“Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena kasih dan kuasa-Nya hari ini kita semua boleh memperingati Satu Abad Nubuatan Izaak Samuel Kijne, hamba Tuhan yang diutus untuk membawa terang Injil ke tanah Papua,” ujar Bupati Willem Wandik melalui keterangan tertulis yang diterima dari Karubaga, Tolikara, Papua Pegunungan, Minggu (26/10).
Seratus tahun sudah sejak di Bukit Aitumeiri, Teluk Wondama, kata Wandik, IS Kijne menulis kalimat nubuatan yang hidup dalam hati setiap umat Kristiani di tanah Papua. Kijne menulis, “Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan marifat, tetapi bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”
Wandik juga mengutip Firman Tuhan, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar” (Yesaya 9:1).
“Ayat ini hidup dalam sejarah kita. Dahulu, tanah Papua dikenal sebagai tanah yang terbelakang, masyarakat hidup dalam sistem komunal, dalam perang suku dan kegelapan rohani. Tetapi ketika Injil masuk, terang Kristus menembus tanah ini,” katanya.
Willem menambahkan, melalui tangan para misionaris seperti Pendeta IS Kijne, Tuhan mengangkat bangsa ini dari keterbelakangan menuju peradaban. Dari yang dahulu tidak dikenal, kini menjadi bangsa yang berpendidikan, beriman, dan berpengharapan.
“Dari tanah yang dahulu ditandai dengan air mata, kini menjadi tanah yang penuh dengan doa dan pembangunan. Nubuatan Kijne telah nyata: tanah Papua bangkit membangun dirinya di bawah terang Injil dan kasih Kristus. Gerbang timur dan janji kebangkitan,” ujar Willem, tokoh muda nasional dari timur Indonesia.
Menurutnya, dalam Alkitab ada nubuatan besar bahwa “Anak Manusia akan datang dari Timur” dan bahwa pintu gerbang timur akan terbuka bagi kemuliaan Tuhan (Yehezkiel 43:1–2). Tanah Papua berada di ujung timur negeri ini. Banyak yang percaya bahwa dari timur akan terbit fajar rohani baru.
“Kita tidak tahu kapan waktunya Tuhan, tetapi kita tahu timur adalah arah kebangkitan dan pengharapan. Tanah Papua bukan hanya terletak di timur secara geografis, tetapi juga secara rohani. Tanah Papua adalah ‘gerbang timur’ Indonesia bahkan dunia, tempat cahaya Kristus terus menyala,” katanya.
Bahkan lanjut Willem, secara simbolis, tanah Papua juga menyimpan emas, logam mulia ciptaan Tuhan, yang menjadi tanda berkat dan kemuliaan-Nya. Mungkin inilah yang dimaksud nubuatan bahwa ‘gerbang timur akan terbuka’, ketika dari timur muncul terang dan kemuliaan Allah bagi bangsa-bangsa.
“Kita percaya, sebagaimana tertulis dalam Firman Tuhan, ‘Kebenaran akan memerdekakan kamu. (Yohanes 8:32)’. Pembebasan yang sejati bukanlah hanya soal tanah dan kekuasaan, tetapi pembebasan dari dosa, kebodohan, dan perpecahan,” ujar Willem, mantan anggota DPR RI.
Menurutnya, umat Kristiani percaya bahwa Papua akan menjadi tanah yang dipakai Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi kepemimpinan rohani dari timur, kepemimpinan yang meneladani Kristus, sang Mesias.
“Dari tanah ini, dari gereja-gereja di pegunungan dan lembah, dari umat yang sederhana namun setia, Tuhan akan memanggil pemimpin-pemimpin baru. Pemimpin yang takut akan Tuhan, mencintai sesama, membangun dalam kasih dan damai. Itulah bentuk pembebasan yang sejati, bangkit untuk memimpin diri sendiri dalam kasih Kristus,” ujarnya.
Willem mengatakan, pada Sabtu (25/10) atau seratus tahun setelah batu nubuatan itu diletakkan, umat Kristiani berdiri di atas batu iman yang sama. Umat wajib bersyukur kepada Tuhan, karena Firman-Nya telah digenapi sebagian, dan masih terus dikerjakan dalam sejarah.
“Kita berdoa agar tanah Papua menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, menjadi gerbang timur kemuliaan Tuhan, dan menjadi saksi bahwa Allah bekerja dari timur hingga ke ujung bumi. Marilah kita, rakyat dan pemerintah, gereja dan masyarakat, bergandengan tangan membangun tanah ini dengan iman, ilmu, dan kasih,” kata Willem.
Menurutnya, seperti Firman Tuhan berkata, ‘Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia akan dipercayakan perkara yang besar.’ (Lukas 16:10). Semoga umat Kristiani setia dalam pelayanan kecil agar Tuhan mempercayakan perkara besar bagi masa depan Papua.
“Tuhan memberkati tanah Papua, rakyat, bangsa, dan legacy para leluhur dari bangsa besar ini. Shalom, Wa Wa, Nayaklah, Koyaou, Amonggolou, Amekkanio, Waniambe, Sawun, Jou Suba, Tabea Tabea, Matur Nuwun, Horas, Ya’ahowu,” ujar Willem. (*)










