Oleh: Yakobus Dumupa
(Pembelajar Hubungan Internasional dan Isu-isu Global, tinggal di Nabire, Tanah Papua)
Pendahuluan: Krisis yang Menjadi Pertanyaan Sejarah
Gelombang demonstrasi yang melanda Iran sejak akhir 2025 menimbulkan pertanyaan yang kian serius di kalangan analis politik, akademisi, hingga diplomat dunia: apakah Republik Islam Iran mendekati sebuah revolusi? Peristiwa ini bukan sekadar kerusuhan ekonomi, tetapi pembangkangan sosial-politik yang menyasar inti legitimasi negara teokrasi yang dipimpin oleh Ayatollah Ali Khamenei. Pertanyaan itu tampak sederhana, namun jawabannya memerlukan analisis yang teliti dan multi-lapis.
Demo yang meletus akibat inflasi, anjloknya rial, dan kekurangan layanan publik kemudian berubah menjadi tuntutan sistemik untuk mengakhiri Republik Islam. Slogan-slogan menuntut kebebasan, martabat, dan hak asasi manusia menggema di berbagai kota, menunjukkan kemarahan publik yang sudah melampaui isu kesejahteraan. Hal ini membuat banyak pihak menghubungkan krisis hari ini dengan dinamika yang muncul sebelum Revolusi 1979 yang menggulingkan Mohammad Reza Shah Pahlavi.
Legitimasi Teokrasi yang Tergerus Perlahan
Rezim teokrasi di Iran bertumpu pada tiga fondasi: legitimasi religius, legitimasi nasionalis, dan kemampuan teknokratis untuk menyediakan stabilitas ekonomi. Seluruh fondasi itu mengalami erosi simultan dalam beberapa tahun terakhir. Legitimasi religius tergerus oleh generasi muda yang lebih sekuler dan kritis, legitimasi kebangsaan melemah karena keterlibatan Iran dalam konflik regional, dan legitimasi teknokratis runtuh akibat inflasi serta krisis mata uang.
Situasi ini ironis, sebab teokrasi Iran dulu dibangun dengan janji moral bahwa kekuasaan religius lebih tahan terhadap korupsi dan tidak efisiennya negara sekuler. Kini, sebagian besar kritik justru menuding ulama dan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) sebagai kelompok yang menikmati patronase ekonomi terbesar di negeri itu. Ketika moral kehilangan daya pikatnya, negara kehilangan narasi suci yang dulu menguatkannya di mata rakyat.
Ledakan Sosial yang Bukan Lagi Anomali
Demonstrasi yang terjadi bukanlah ledakan sesaat, melainkan lanjutan dari siklus protes yang muncul secara berkala sejak gerakan Green Movement tahun 2009. Gelombang 2019 yang menewaskan ribuan orang, gerakan Woman, Life, Freedom tahun 2022 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini, dan protes terbaru pada 2025 menunjukkan suatu pola sosial baru di Iran: rakyat tidak lagi takut menyuarakan perubahan meski berhadapan dengan represi negara.
Siklus ini memperlihatkan bahwa protes terhadap negara bukan lagi anomali, tetapi perilaku politik yang semakin institusional. Karena itu, banyak analis melihat bahwa masyarakat Iran sudah memasuki fase post-fear society, yakni masyarakat yang telah kehilangan rasa takut terhadap aparat. Ini menjadi penanda awal bagi banyak revolusi modern, termasuk di Eropa Timur dan Asia Barat, bahwa titik balik moral sudah tercapai sebelum titik balik institusional muncul.
Mesin Represi yang Mulai Kehabisan Kapasitas
Kekuatan utama rezim bukan pada legitimasi, tetapi pada mesin represinya. Selama dua dekade terakhir, aparat keamanan berhasil menjaga kelangsungan negara meski menghadapi protes yang brutal. Namun gelombang terbaru menunjukkan tanda-tanda yang jarang muncul sebelumnya. Sumber independen melaporkan adanya anggota keamanan yang menolak menembak demonstran, serta perlunya pengerahan pasukan IRGC guna menutupi kekurangan kapasitas pasukan biasa.
Tanda-tanda ini masih berskala kecil dan tidak menandakan desersi massal, tetapi tetap penting sebagai indikator awal retaknya kewenangan vertikal. Revolusi membutuhkan tiga elemen dasar: rakyat yang tidak mau diperintah, elite yang tidak mampu memerintah, dan aparat yang enggan membunuh atas nama negara. Elemen pertama tampak jelas di jalanan Iran, elemen kedua mulai terlihat, sementara elemen ketiga masih menjadi pertanyaan besar dalam analisis jangka pendek.
Pertarungan dalam Struktur Kekuasaan
Kekuatan negara di Iran terpusat pada figur Rahbar, yaitu Ayatollah Ali Khamenei, dan pada jaringan kekuasaan IRGC. Pemerintahan sipil seperti presiden dan parlemen hanya memiliki peran terbatas dalam urusan keamanan dan strategi nasional. Karena struktur demikian, keretakan elit adalah faktor kunci dalam membaca potensi revolusi. Pertanyaannya bukan apakah rakyat ingin perubahan, tetapi apakah elite kekuasaan memiliki alasan untuk berhenti mempertahankan status quo.
Sejauh ini tidak ada indikasi perang terbuka dalam elite politik, tetapi terdapat tekanan yang semakin besar. Tekanan ini muncul dari kompetisi suksesi, dari biaya ekonomi yang ditanggung oleh jaringan bisnis IRGC, dan dari ketidakpastian geopolitik akibat keterlibatan Iran dalam perang gabungan dengan kelompok-kelompok proksi di kawasan. Riak-riak itu menunjukkan bahwa stabilitas rezim bukanlah produk keyakinan, tetapi produk kebutuhan dan ketakutan bersama.
Rumor, Rencana Pelarian, dan Bahasa Kehancuran
Selalu ada dua jenis indikator dalam membaca proses revolusi: indikator faktual dan indikator psikologis. Rumor mengenai rencana pelarian Khamenei ke Moskow, transfer aset, dan upaya menyelamatkan keluarga pejabat tinggi belum dapat diverifikasi secara independen, tetapi penting sebagai indikator psikologis. Rumor semacam ini tidak pernah muncul ketika rezim berada dalam kondisi percaya diri, tetapi muncul ketika rezim berada dalam posisi defensif.
Dalam sejarah, runtuhnya rezim sering diawali rumor bahwa pemimpin akan lari ke luar negeri. Shah Pahlavi membawa emas dan uang sebelum melarikan diri pada 1978, Ben Ali kabur dari Tunisia pada 2011, dan beberapa pemimpin Afrika Utara mengambil langkah serupa. Rumor tidak membuktikan rencana, tetapi menunjukkan bahwa imajinasi rakyat tentang kejatuhan rezim telah menjadi wacana publik. Wacana itulah yang melemahkan aura tak terkalahkan dari negara.
Dimensi Ekonomi: Bahan Bakar dari Revolusi Modern
Revolusi modern jarang muncul dari kefakiran semata, tetapi dari kelas sosial yang frustrasi karena merasa layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Iran memiliki kelas menengah terdidik, terhubung dengan dunia luar melalui teknologi, dan sadar bahwa tingkat kualitas hidup mereka tertinggal dari negara-negara yang tidak memiliki sumber energi sebesar Iran. Kontras antara potensi dan realitas adalah bahan bakar psikologis yang kuat.
Krisis ekonomi Iran bukan krisis biasa, tetapi krisis struktural yang dipicu sanksi, mismanajemen dalam industri minyak, korupsi dalam jaringan patronase, dan pembiayaan konflik regional yang mahal. Negara hanya dapat membeli stabilitas melalui subsidi dan penyaluran rente ekonomi kepada aparat keamanan serta birokrasi. Model ini tidak berkelanjutan dalam jangka panjang dan memperbesar jarak antara negara dan masyarakat sipil.
Dimensi Geopolitik: Antara Perlawanan dan Keterbukaan
Iran menjadi aktor geopolitik penting dalam arsitektur Timur Tengah. Dukungan terhadap kelompok-kelompok perlawanan di Suriah, Lebanon, Irak, dan Yaman memberi Iran pengaruh regional yang kuat. Namun pengaruh itu diperoleh dengan harga yang tinggi. Rezim membayar legitimasi domestik untuk memperoleh posisi strategis regional. Banyak pemuda Iran mempertanyakan manfaat jaringan axis of resistance terhadap kehidupan mereka sendiri.
Sementara itu, keterlibatan Rusia dan Tiongkok memberi rezim semacam tabung oksigen internasional. Tidak seperti Tunisia atau Mesir sebelum revolusi, Iran tidak mengalami isolasi total dalam sistem internasional. Negara-negara besar memiliki kepentingan geopolitik untuk tidak menjatuhkan rezim secara mendadak. Namun kontribusi eksternal itu tidak cukup untuk menghentikan erosi domestik yang bersifat struktural dan sistemik.
Diaspora, Simbol, dan Kompetisi Oposisi
Dalam gelombang protes terakhir, simbol-simbol pra-1979 kembali muncul di jalanan, termasuk foto Reza Pahlavi dan bendera monarki. Oposisi di luar negeri semakin terkoordinasi dalam hal media dan kampanye, meskipun secara struktural tetap terfragmentasi. Reza Pahlavi menyerukan pembangkangan sipil dan pemogokan nasional, tetapi belum memiliki kapasitas organisasi untuk membentuk pemerintah transisi atau struktur alternatif yang kredibel.
Keterbatasan ini membuat potensi revolusi Iran tidak dapat dibaca seperti Tunisia atau Sudan, di mana oposisi sipil memiliki struktur organisasi. Iran lebih mendekati pola revolusi non-terstruktur seperti Rumania pada 1989, di mana keretakan elite menjadi pemantik utama. Kelebihan oposisi Iran adalah moral dan simbolnya, kelemahannya adalah institusi dan saluran kekuasaan yang belum terbangun.
Skenario Masa Depan: Dari Represi hingga Transisi
Ada empat skenario utama yang dapat dibayangkan dalam jangka menengah. Skenario pertama adalah represi total, di mana negara menggunakan kekuatan mematikan untuk mengakhiri demonstrasi. Skenario kedua adalah transisi dari dalam, yaitu kompromi elite yang mengganti sebagian struktur kekuasaan tanpa revolusi total. Skenario ketiga adalah revolusi penuh yang menggulingkan Khamenei dan teokrasi. Skenario keempat adalah stagnasi panjang tanpa penyelesaian.
Empat skenario itu bukan hipotesis teoritis, tetapi bentuk yang telah dialami berbagai negara dalam tiga dekade terakhir. Represi total mirip dengan Suriah, transisi dari dalam mirip dengan Myanmar tahun 2011, revolusi penuh mirip dengan Tunisia 2011, dan stagnasi panjang mirip dengan Venezuela di era Maduro. Pertanyaan analitisnya adalah: skenario mana yang paling dekat dengan kondisi Iran hari ini.
Kesimpulan: Revolusi sebagai Pertanyaan Waktu
Dengan seluruh data dan pola yang muncul, peluang terjadinya revolusi di Iran bukan lagi spekulasi yang jauh dari kenyataan. Tekanan ekonomi, ledakan sosial, kemerosotan legitimasi, dan tanda-tanda kecil keretakan aparat memberi ruang historis bagi perubahan sistem. Namun revolusi bukan hanya tentang rakyat yang menolak, melainkan tentang elite yang tidak mampu mempertahankan diri dan aparat yang tidak mau membunuh atas nama negara.
Karena itu, pertanyaan paling realistis bukan apakah teokrasi Iran akan runtuh, tetapi kapan dan dalam bentuk apa. Sejarah menunjukkan bahwa rezim yang bertahan dengan patronase dan represi dapat runtuh tiba-tiba ketika keseimbangan biaya dan manfaat berubah di dalam struktur kekuasaan. Iran berada di ambang persimpangan, dan dunia mengamati dengan penuh keinginan untuk mengetahui apakah 1979 akan berulang dalam bentuk yang tak terduga. (yod82)









