RESHUFFLE kabinet pada 8 September 2025 bukan sekadar pergantian personel—ini adalah langkah tegas memutus dominasi jaringan lama dalam kekuasaan. Di antara mereka yang dicopot—Sri Mulyani, Budi Arie Setiadi, Budi Gunawan terdapat figur-figur yang terkait erat dengan rezim sebelumnya. Publik menilai, reshuffle ini adalah langkah perdana untuk “membersihkan” pengaruh Geng Solo—jaringan loyalis Jokowi yang sejak masa Wali Kota Solo menanjak ke posisi-posisi strategis nasional.
Identifikasi menteri-menteri terdekat Jokowi seperti Sri Mulyani dan Budi Gunawan dalam rombongan yang direshuffle memperjelas niat—setidaknya dalam persepsi publik—untuk mengikis jejaring kekuasaan lama. Bahkan suara-suara seperti Nicho Silalahi secara vokal menuntut agar proses penyegaran ini berlanjut ke jilid berikutnya, dengan target lebih banyak figur pro-Jokowi demi memperkuat integritas dan meritokrasi kabinet.
Bantahan Istana bahwa reshuffle bukanlah untuk menyingkirkan “orang-orang Jokowi” hanyalah salah satu narasi. Namun, evaluasi kebijakan dan loyalitas menteri—apakah terhadap visi presiden atau patron politik masa lampau—harus terus dilakukan untuk memastikan kabinet tak lagi dikendalikan oleh jejaring lama.
Ke depan, jika masih ditemukan posisi-posisi strategis yang ditempati oleh figur-figur dari jaringan lama—baik yang secara formal disebut Geng Solo maupun yang selama ini berpihak lebih pada loyalitas politik ketimbang kompetensi—Prabowo harus berani menyegerakan reshuffle lanjutan. Pertimbangan utama: profesionalisme, independensi kebijakan, dan komitmen kepada visi pemerintahan.
Presiden memiliki hak prerogatif untuk memilih menteri yang selaras dengan program nasional dan bukan kroni politik. Merombak kabinet bukan sekadar soal menunjuk wajah baru, tetapi tentang membangun kabinet yang bersih dari bayang-bayang jaringan lama—apakah dari Solo atau pusat kekuasaan sebelumnya.
Jika tujuan pemerintahan ini adalah memajukan bangsa dengan fondasi meritokrasi dan modernitas, maka kabinet harus merefleksikan itu. Setiap reshuffle bukan akhir, melainkan prosesi pembuktian: bahwa presiden mampu mengendalikan kabinet tanpa kompromi politik, dan memperkerjakan mereka yang teguh pada data, visi, dan rakyat—bukan loyalitas terhadap rezim lama.
Reshuffle 8 September adalah lembar pertama dari bab reformasi birokrasi dan politik. Jika pemerintahan hendak menghapus pengaruh Geng Solo secara total, simpul-simpul kekuasaan lama harus diruntuhkan secara berkelanjutan—bukan sekadar simbol. Demi kabinet efektif, demi pemerintahan berintegritas, dan demi masa depan republik, proses “membersihkan” ini harus dilanjutkan—tegak, berani, dan konsisten. (Editor)










