OPINI  

Republik atau Dinasti? Paradoks Suksesi Mojtaba Khamenei di Iran

Yakobus Dumupa, Pembelajar Hubungan Internasional dan Isu-isu Global, tinggal di Nabire, Tanah Papua. Foto: Dok. Odiyaiwuu.com

Oleh: Yakobus Dumupa
(Pembelajar Hubungan Internasional dan Isu-isu Global, tinggal di Nabire, Tanah Papua)

TERPILIHNYA Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran membuka babak baru dalam sejarah politik negara tersebut sekaligus menarik perhatian dunia internasional. Proses pemilihan berlangsung pada awal Maret 2026 di Teheran melalui sidang lembaga ulama negara, Assembly of Experts, yang secara konstitusional memiliki kewenangan menentukan pemimpin tertinggi Republik Islam. Keputusan ini muncul setelah wafatnya pemimpin sebelumnya, Ali Khamenei, yang selama lebih dari tiga dekade menjadi figur paling berpengaruh dalam politik Iran dan menentukan arah kebijakan strategis negara itu.

Peristiwa ini segera memunculkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar pergantian tokoh dalam struktur kekuasaan Iran. Revolusi Iran tahun 1979 yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini lahir dari semangat menolak monarki yang dipimpin oleh Mohammad Reza Pahlavi. Revolusi tersebut mengubah Iran dari kerajaan menjadi republik teokratis yang memadukan institusi negara modern dengan otoritas religius para ulama. Karena itu, suksesi dari seorang ayah kepada anaknya menghadirkan ironi sejarah yang tidak mudah diabaikan dalam perjalanan politik Republik Islam Iran hingga hari ini.

Secara konstitusional, pemimpin tertinggi Iran memang tidak diwariskan secara turun-temurun, tetapi dipilih oleh para ulama melalui lembaga negara yang memiliki legitimasi religius dan politik. Namun secara simbolik, perpindahan kekuasaan dalam lingkaran keluarga tetap memunculkan kesan bahwa sistem politik Iran perlahan bergerak menuju bentuk kekuasaan yang semakin tertutup. Dalam konteks inilah suksesi Mojtaba Khamenei menjadi peristiwa yang tidak hanya penting bagi Iran sendiri, tetapi juga memancing perhatian luas para pengamat politik internasional yang melihatnya sebagai tanda perubahan dalam struktur kekuasaan negara tersebut.

Mojtaba Khamenei sendiri bukan sosok yang benar-benar baru dalam lingkaran kekuasaan Iran. Ia lahir pada 8 September 1969 di kota Mashhad, salah satu pusat religius penting di Iran yang juga dikenal sebagai kota suci bagi komunitas Syiah. Selama bertahun-tahun namanya jarang muncul secara terbuka dalam politik formal, tetapi berbagai laporan menyebutkan bahwa ia memiliki pengaruh kuat di balik layar kekuasaan. Ia juga dikenal memiliki hubungan dekat dengan jaringan militer Iran, terutama Islamic Revolutionary Guard Corps, yang selama ini menjadi pilar penting kekuatan negara.

Perubahan kepemimpinan ini segera dibaca secara serius oleh dunia luar, terutama oleh negara-negara yang selama ini berada dalam hubungan tegang dengan Iran. Bagi Israel, setiap perubahan pemimpin di Teheran selalu dikaitkan dengan persoalan keamanan nasional dan keseimbangan kekuatan kawasan. Israel sejak lama memandang Iran sebagai ancaman strategis utama di Timur Tengah, terutama karena program nuklirnya serta dukungan Iran terhadap berbagai kelompok bersenjata yang beroperasi di Lebanon, Suriah, dan wilayah lain di kawasan tersebut.

Sebagian analis Israel memperkirakan bahwa kepemimpinan Mojtaba kemungkinan akan melanjutkan garis kebijakan yang selama ini dijalankan oleh ayahnya. Jika hal itu terjadi, hubungan Iran dan Israel hampir pasti akan tetap berada dalam ketegangan tinggi. Dalam situasi seperti ini, Israel kemungkinan akan memperkuat strategi pencegahan militernya, meningkatkan operasi intelijen terhadap fasilitas strategis Iran, serta memperluas kerja sama keamanan dengan negara-negara Arab yang juga khawatir terhadap pengaruh Teheran di kawasan Timur Tengah yang semakin kompleks.

Sementara itu, sikap Amerika Serikat terhadap kepemimpinan baru Iran cenderung lebih kompleks dan penuh perhitungan strategis. Washington selama puluhan tahun berada di antara dua pendekatan utama, yaitu tekanan keras melalui sanksi ekonomi dan upaya diplomasi terbatas untuk mengendalikan program nuklir Iran. Pergantian kepemimpinan di Teheran sering memicu perdebatan baru di dalam politik Amerika mengenai pendekatan mana yang paling efektif untuk menghadapi negara tersebut di masa depan.

Jika kepemimpinan baru Iran dianggap semakin memperkuat kelompok konservatif garis keras, Amerika kemungkinan akan melanjutkan bahkan memperketat tekanan ekonomi dan diplomatik terhadap Iran. Namun jika muncul sinyal pragmatis dari Teheran, Washington dapat mencoba membuka ruang negosiasi baru terkait isu nuklir dan stabilitas kawasan. Dalam sejarah hubungan kedua negara, perubahan kepemimpinan sering kali menjadi momen untuk menguji kemungkinan pendekatan baru dalam diplomasi internasional yang selama ini dipenuhi ketegangan dan kecurigaan.

Apapun arah kebijakan yang akan diambil oleh kepemimpinan baru Iran, perubahan ini hampir pasti memengaruhi dinamika geopolitik Timur Tengah dalam beberapa tahun ke depan. Kawasan tersebut telah lama menjadi arena persaingan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat melalui berbagai konflik tidak langsung di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman. Dalam konteks seperti itu, pergantian pemimpin di Iran tidak pernah dilihat sebagai peristiwa domestik semata, melainkan bagian dari perubahan keseimbangan kekuatan regional yang lebih luas.

Pada akhirnya, naiknya Mojtaba Khamenei memperlihatkan bagaimana sejarah politik Iran bergerak dalam arah yang penuh paradoks. Republik Islam lahir dari revolusi yang menolak monarki dan dominasi kekuatan asing, tetapi kini menghadapi pertanyaan baru tentang legitimasi dan arah masa depannya. Pergantian kepemimpinan ini bukan hanya soal siapa yang memimpin Iran, melainkan juga tentang bagaimana negara itu akan menempatkan dirinya dalam peta kekuatan dunia pada masa mendatang.