Oleh Pendeta Dorman Wandikbo, S.Th
Anggota Dewan Gereja Papua
TANAH Papua menyajikan fakta miris. Orang asli Papua berada di ambang kepunahan (genosida) di atas tanah leluhurnya. Seruan profetis terus dilakukan namun genosida berlangsung dalam sunyi setiap saat.
Fakta miris orang asli Papua menyajikan dan terus bergerak menuju kepunahan akibat mengkonsumsi minum keras (miras), human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), stadium paling lanjut dari infeksi HIV akibat hubungan seks bebas, perang suku, meninggal karena ditembak mati hingga kawin campur antara ras Melanesia dengan ras Melayu dan lain-lain.
Pernyataan ini bukan tuduhan dangkal, bukan ujaran kebencian, dan bukan pula vonis biologis. Ia adalah seruan moral dan kenabian atau kegembalaan (profetis). Seruan sekaligus peringatan keras atas ancaman nyata terhadap keberlanjutan orang Papua sebagai manusia, keluarga, budaya, dan komunitas sejarah.
Bahasa yang digunakan penulis di atas memang terkesan keras karena situasinya darurat. Namun, fakta yang dibicarakan atau didiskusikan bukan pula sekadar statistik kematian, melainkan hilangnya generasi secara perlahan.
Di sinilah istilah genosida dipakai dalam makna yang lebih luas. Dalam artian genosida struktural, sosial, biologis, dan kultural yang terjadi diam-diam (senyap), bertahap, dan saling berkaitan.
Genosida
Genosida dalam konteks ini tidak selalu dalam makna pembantaian massal, tetapi mencakup penghancuran hidup secara perlahan, kematian usia produktif yang tinggi, terputusnya regenerasi, dan hilangnya identitas dan keberlanjutan budaya orang Papua.
Dengan kerangka ini, lima faktor yang disebutkan harus dibaca sebagai satu rangkaian krisis, bukan persoalan terpisah. Miras Adalah sumber genosida tanpa senjata. Miras menjadi alat pemusnah yang sangat berbahaya dan bergerak dalam senyap di tanah Papua.
Dampak miras berlapis. Misalnya, merusak tubuh (otak, hati, sistem saraf), mematikan akal sehat dan kendali diri, memicu kekerasan rumah tangga dan kriminalitas, menghancurkan ekonomi keluarga, dan memutus masa depan generasi muda.
Mengkonsumsi miras bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan proses genosida sosial. Mengapa? Karena yang hancur bukan hanya individu, tetapi keluarga dan garis keturunan. Lebih jauh, miras sering masuk melalui jaringan ekonomi gelap dan kelalaian negara.
Ketika peredarannya dibiarkan, pembiaran itu sendiri berubah menjadi kekerasan struktural. Sedangkan seks bebas yang berakibat terjerat HIV/AIDS adalah genosida biologis yang bergerak dalam sunyi. Poin ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan membuka luka sosial yang nyata.
Masalah utamanya bukan semata sikap mental spiritual dan moral yang lemah melainkan minimnya edukasi kesehatan reproduksi, lemahnya layanan kesehatan, dampak miras dan kekerasan seksual, kemiskinan serta kerentanan perempuan dan anak.
Akibatnya, terjadi kematian usia produktif, meningkatnya anak yatim, dan terputusnya regenerasi biologis dan sosial. Inilah genosida biologis yang sunyi: tidak terdengar seperti perang, tetapi dampaknya sama yaitu hilangnya generasi.
Perang Suku
Perang suku adalah luka lama yang diperparah oleh modernitas tanpa pendampingan nilai. Perang suku juga genosida horizontal yang efektif. Dampaknya tersaji nyata: korban jiwa dari sesama orang Papua, siklus balas dendam turun-temurun, trauma anak-anak, dan hancurnya relasi sosial dan persatuan yang menjadi modal utama orang asli Papua.
Ironi pahit juga nyata: yang mati adalah saudara sendiri, yang hancur adalah kampung sendiri, yang menang tidak ada. Perang suku —sekali lagi— adalah genosida horizontal. Papua melukai Papua. Perang suku sering kali dipicu miras, senjata modern, dan provokasi ekonomi-politik.
Selain itu, genosisa juga lahir karena orang asli Papua ditembak mati dari kekerasan kersenjata yang berujung juga melahirkan ketakutan kolektif. Poin ini menyentuh dimensi struktural dan politik.
Realitas pahitnya yaitu warga sipil kerap menjadi korban konflik bersenjata, banyak kematian tanpa proses hukum yang adil, dan trauma kolektif diwariskan lintas generasi.
Ketika nyawa orang Papua murah di tanahnya sendiri, itu bukan hanya pelanggaran hak asasi manusia (HAM), melainkan ancaman eksistensial. Inilah bentuk genosida melalui kekerasan negara dan konflik bersenjata.
Di lain sisi, kawin campur juga merupakan genosida kultural dan demografis; bukan rasial. Kawin campur adalah poin paling sensitif dan harus dibaca sangat hati-hati. Pernyataan ini bukan bentuk kebencian terhadap ras lain, larangan cinta atau perkawinan atau penolakan nilai kemanusiaan universal.
Namun, yang disuarakan adalah kekhawatiran demografis dan kultural. Anak dari kawin campur sering kehilangan bahasa, tanah adat, dan identitasnya sebagai orang asli Papua. Kawin campur juga melahirkan migrasi besar, kematian tinggi orang asli Papua.
Dalam jangka panjang orang Papua menjadi minoritas di tanahnya sendiri. Orang Papua tidak “dibunuh”, tetapi dilenyapkan dari identitas dan keberlanjutan budaya. Inilah yang disebut genosida kultural dan demografis, bukan genosida rasial.
Solusi
Kelima faktor yaitu miras, seks bebas berujung HIV/AIDS, perang suku, konflik, dan kawin campur ini saling terhubung. Orang asli Papua tidak musnah karena alasan tunggal, tetapi karena banyak luka yang dibiarkan terbuka sekaligus.
Gereja menjadi corong suara kenabian atau kegembalaan (profetis) yang perlu membumi dalam pendidikan iman dan pendampingan keluarga serta pemuda sebagai salah satu solusi.
Negara harus menghentikan miras dalam tindakan konkrit, memperkuat pelayanan HIV/AIDS, menjalankan pendekatan keamanan berbasis kemanusiaan dan menegakkan hukum secara adil dan bermartabat.
Sedangkan di sisi lain, orang asli Papua harus menjaga dirinya sendiri sebagai anugerah Tuhan, menghentikan kekerasan horizontal dan merawat persaudaraan demi masa depan generasinya.
Pernyataan penulis ini keras karena realitasnya memang keras. Pernyataan ini bukan pula untuk menyalahkan, melainkan membangunkan nurani. Papua tidak boleh habis. Papua harus hidup —sebagai manusia, budaya, dan generasi. Bukan habis pelan-pelan.










