Oleh Kasdin Sihotang
Dosen Etika di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta; Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia
“BERI aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Begitu salah satu ungkapan terkenal dari Bung Karno. Ungkapan ini sesungguhnya memiliki makna mendalam yang meliputi tiga hal berikut.
Pertama, pengakuan kemampuan generasi muda. Kaum muda adalah generasi yang begitu mengagumkan. Jonathan Haidt menyebutnya dengan istilah “the amazing generation”.
Di dalam diri kaum muda terdapat segudang potensi. Mengikuti pola berpikir Aristoteles sebagaimana diperlihatkan dalam bukunya, On the Soul tinggal bagaimana mengubah potensi itu menjadi actus. Potensi kaum muda merupakan modal penting dan kekuatan yang diperlukan oleh sebuah negara.
Potensi itu harus digali dan diubah menjadi sesuatu yang nyata (actus, artinya dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari). Karena itu penggalian potensi itu haruslah menjadi pokok perhatian penting dalam formatio (pembinaan) kaum muda melalui ragam bidang, terlebih melalui pendidikan.
Kedua, harapan bangsa. Kaum muda merupakan harapan dan tulang punggung bagi sebuah bangsa. Mereka adalah penerus bagi masa depan. Mereka adalah matahari bangsa yang kelak akan memancarkan sinarnya menerangi negeri melalui kreasi dan karya mereka. Karena itu peduli pada pembentukan kepribadian mereka harus menjadi animo utama pembangunan bangsa.
Ketiga, ajakan memberi kesempatan bagi kaum muda tampil dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang politik. Melihat potensi yang dimilikinya, kaum muda harus diajak untuk ambil bagian dalam kehidupan bersama sejak dini.
Ruang partisipasi ini sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk belajar secara langsung dari pengalaman nyata mereka. Manakala ada orang yang meragukan kaum muda, apalagi merendahkannya dalam keterlibatan di berbagai hal, maka orang itu memiliki pola pikir sesat (fallacia) dan hidup di luar horizon waktu (masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang).
Pembentukan (Formatio) Karakter
Sebagai kelompok manusia yang sedang bertumbuh, kaum muda masih membutuhkan pendampingan dan pengarahan agar kelak mereka dalam berkarya tidak kehilangan arah dan terkena penyakit mental teknofilia yang mencemaskan.
Jonathan Haidt sudah wanti-wanti akan bahaya pemanfaatan teknologi yang cenderung melemahkan potensi manusia, termasuk kaum muda dan menjadi duri dalam pembentukan karakter mereka.
Padahal, pembentukan karakter atau perangai generasi muda merupakan hal yang sangat mendasar dewasa ini seperti diakui oleh Bernard Marr dalam bukunya Future Skills (2022).
Hal yang sama ditegaskan oleh Jeff Keller dalam bukunya, Attitude is Everything (2024). Ia menegaskan bahwa perangai merupakan hal yang paling mendasar, dan sebagai sumber kesuksesan generasi sebuah bangsa. Ketika anak muda bangsa memiliki kualitas pribadi yang hebat, mumpuni dan berperilaku yang positif, bangsa memiliki kekuatan yang luar biasa.
Terkait dengan hal itu, Jeff Keller mengusulkan tiga hal utama dalam pembentukan itu, yakni pikiran, perkataan dan tindakan. Ini berarti ada tiga sasaran formasi karakter generasi muda, yakni bagaimana pola pikirnya, bagaimana merangkai kata-kata dalam komunikasi, dan bagaimana tindakan yang harus mereka lakukan.
Dalam berpikir yang perlu dihidupkan adalah berpikir positif dengan jargon “Saya bisa”. Di sini kaum muda harus dilatih untuk meyakini pikirannya.
Menurut Jeff Keller, filter yang digunakan adalah “positive thinking”, yakni memikirkan kemungkinan, bukan memikirkan masalah. Artinya, berpikir positif menjadi perangai yang perlu ditumbuhkan. “Sukses itu berawal dari pikiran.
Membuat komitmen dan mengubah masalah menjadi peluang merupakan hal penting dalam meraih kesuksesan dalam berpikir” demikian tegas Keller.
Berhadapan dengan perkembangan teknologi digital dewasa ini, pembentukan pola pikir positif sangat mendesak, mengingat dominasi teknologi digital begitu kentara dan memiliki pengaruh negatif bagi kemampuan berpikir generasi muda, yakni memperlemah daya nalar dan kurangnya fokus akibat rasa lelah yang luar biasa dari penggunaan digital seperti ditemukan David Leonard dalam Digital Exhaustion (2025).
Berhadapan dengan situasi demikian, Jonathan Haidt dan Chatrine Price dalam The Amazing Generation (2026) melihat pentingnya dihidupkan jiwa pemberontak di kalangan muda untuk menangkis dehumanisasi kehadiran teknologi digital, khususnya artificial intelligence (AI).
Secara lain dapat dikatakan, pola pikir kritis menjadi bagian penting dalam pembinaan generasi muda, karena pola pikir ini akan membangkitkan sikap lepas dari teknologi.
Dalam bingkai ini, kebijakan pemerintah untuk membuat pembatasan usia dalam pemanfaatan media sosial sangat tepat demi terbentuknya generasi muda bangsa yang kreatif, cerdas dan inovatif, serta otonom.
Bahasa dan Affirmative Action
Selain pikiran positif, menjaga kata-kata merupakan hal kedua mendukung pembentukan karakter generasi muda. Menurut Keller sebagaimana diperlihatkan dalam buku yang sudah disebutkan di atas, kualitas berbicara juga menentukan karakter dan kesuksesan seseorang.
Setiap ucapan dari mulut seseorang merupakan sebuah jalan, entah jalan kehancuran ataupun jalan kesuksesan. Tentu jalan kehancuran melalui ucapan atau pilihan kata (diksi) yang tidak pantas dan sikap selalu mengeluh, tanpa upaya atau solusi atas masalah.
Karena itu dalam relasi ucapan perlu dijaga. Melansir kutipan Anthony Robbins dan Plutrach, Keller menulis: “Kata-kata yang dipilih secara konsisten akan membentuk takdir Anda. Dalam kata-kata terlihat kondisi pikiran, watak dan perangai Anda ”.
Apa yang ditegaskan oleh Keller melalui dua tokoh itu sejalan dengan apa yang ditulis oleh Martin Heidegger dengan ungkapan “language is the house of human being (artinya, bahasa mencerminkan kepribadian seseorang)”.
Melengkapi penegasan Keller dan Heidegger, Jonathan Haidt menambahkan bahwa kata-kata yang positif adalah roh bagi persahabatan yang nyata dalam relasi sosial, yang di era teknologi digital ini merupakan sesuatu yang langka.
Generasi muda perlu dilatih untuk membiasakan diri berbahasa positif sehingga mampu menjalin persahatan yang sejati dan kebebasan yang nyata dalam hidup bersama.
Yang tidak kalah penting adalah tindakan peneguhan (affirmative action). Ben Stein mengatakan bahwa tidak ada yang kebetulan. Semua akan mendatangi seseorang setelah ia memahami bahwa ia harus mengusahakannya datang dengan upaya sendiri. Ungkapan Stein ini juga diyakini oleh Keller dan Jonathan Haidt.
Beberapa tindakan sebagai bentuk pembinaan yang baik bagi generasi muda yang diusulkan oleh Jeff Keller adalah bergaul dengan orang-orang yang positif, berani menghadapi ketakutan agar tumbuh, berani mencoba dan menerima gagal, serta membangun jejaring. Semua ini harus dijalani, dengan menjalani itulah mentalnya dibentuk dan diuji. Inilah tindakan yang perlu dilakukan untuk meraih sukses.
Sementara dalam pemanfaatan teknologi digital, gagasan Keller dilengkapi oleh Jonathan Haidt dan Chatrine Price dengan mengusulkan agar kaum muda memiliki kesadaran yang tinggi tentang kehadiran teknologi sebagai sarana belaka, bukan penentu kepribadiannya.
Kedua penulis menegaskan bahwa yang membentuk kepribadian generasi muda adalah dirinya sendiri. “Your future is in your hands. You must use tech as a tool” begitu ditegaskan oleh Haidt dan Price dalam kesimpulan bukunya.
Karena itu kedua penulis berpesan bahwa generasi muda perlu berani menjaga jarak dengan teknologi digital, atau memanfaatkan teknologi hanya ke arah yang positif.
Penutup
Dari paparan di atas jelaslah bahwa pembentukan kualitas generasi muda perlu lebih serius. Tidak sekedar membuat kebijakan, tetapi lebih-lebih melalui tindakan yang konkret dan langsung menyentuh kehidupan mereka sehari-hari.
Karena itu pendampingan langsung melalui hidup bersama dan dekat mereka adalah bagian dari keseriusan itu. Tentu juga perlu diberikan kesempatan bagi mereka untuk mulai tampil dalam berbagai bidang kehidupan sebagai langkah sambung tongkat estafet dari generasi tua.
Kaum muda adalah generasi yang mengagumkan sebagaimana ditegaskan oleh Jonathan Haidt dan Chatrine Price dalam bukunya, The Amazing Generation. Kekaguman demikian tentu harus diisi dengan pembentukan tiga aspek, yakni berpikir positif, jernih, cerdas dan bijak, berbahasa yang santun yang membuat kaum muda bergaul secara sehat baik dalam ruang publik digital maupun dalam relasi kehidupan nyata, dan bertindak kreatif dan inovatif serta berani menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana ditegaskan oleh Jeff Keller, dasar kesuksesan generasi muda sesungguhnya terletak pada ketiga hal itu, karena ketiganya bermuara pada satu hal, yakni terbentuknya perangai/mentalitas yang beres. Bangsa ini membutuhkan generasi yang berkaraker demikian.
Seyogianya semboyan “diktisaintek berdampak” menyasar karakter demikian. Dan paling penting, diciptakan iklim untuk mewujudkan semboyan yang sudah dilogokan itu dengan kultur berpikir jernih, bertutur kata santun, dan bertindak positif dengan sistem pendidikan yang sehat. Ini merupakan modal dasar formatio karakter kaum muda yang perlu perhatian serius.









