Oleh: Yakobus Dumupa
(Pembelajar Hubungan Internasional dan Isu-isu Global, tinggal di Nabire, Tanah Papua)
Pendahuluan
Kematian Yasser Abu Shabab pada 4 Desember 2025 di wilayah timur Rafah, Gaza, menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam dinamika politik kawasan tersebut. Sebagai pemimpin Popular Forces, milisi pro-Israel yang beroperasi di zona yang dikuasai militer Israel, Abu Shabab memegang peran penting dalam upaya membangun struktur kekuasaan alternatif pascaperang. Ia meninggal setelah bentrokan internal bersenjata, sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit di Israel bagian selatan dan dinyatakan tewas akibat luka yang dideritanya. Peristiwa ini mengungkap rapuhnya proyek Israel untuk menata Gaza melalui aktor lokal yang dipromosikan sebagai kekuatan stabilisasi.
Dalam konteks Gaza yang penuh ketegangan, Popular Forces bukanlah milisi dengan dukungan sosial yang kuat. Mereka beroperasi di lingkungan yang penuh kecurigaan, di mana kerja sama dengan kekuatan luar dipandang sebagai bentuk pengkhianatan. Namun bagi Israel, kelompok ini berfungsi sebagai instrumen strategis untuk mengurangi kebutuhan operasi militer langsung dan membangun pengaruh melalui kekuatan lokal. Kematian Abu Shabab memutus salah satu jalur penting yang menopang strategi tersebut dan menimbulkan kekosongan yang tidak mudah digantikan.
Kematian di Rafah dan Runtuhnya Sekutu Lokal Israel
Kematian Abu Shabab di Rafah menunjukkan bagaimana proyek Israel untuk membangun sekutu lokal mengalami kegagalan mendasar. Rafah bagian timur merupakan wilayah yang diubah menjadi laboratorium pascaperang, tempat Israel menerapkan berbagai pendekatan keamanan berdasarkan pengawasan ketat, pembatasan gerak warga, serta penggunaan milisi lokal untuk menjaga ketertiban. Dalam lingkungan seperti ini, Popular Forces berfungsi sebagai “penyangga” antara warga Gaza dan tentara Israel, terutama dalam mengendalikan wilayah sensitif dan menekan eksistensi kelompok perlawanan. Namun bentrokan internal yang berujung pada kematian pemimpinnya memperlihatkan betapa rapuhnya kekuatan yang dibangun tanpa fondasi sosial yang kokoh.
Sebagai pemimpin Popular Forces, Abu Shabab memikul beban berat untuk menyeimbangkan dua kepentingan yang saling bertentangan: harapan Israel akan stabilitas yang bisa diatur, dan kenyataan bahwa masyarakat Gaza memandang kelompoknya sebagai entitas asing yang kehilangan legitimasi moral. Upaya menjaga peran di antara dua kutub tersebut menempatkannya pada posisi yang sangat rentan. Ketika konflik internal meletus, ia tidak memiliki dukungan sosial yang cukup untuk mempertahankan dirinya. Kejatuhannya menjadi pukulan telak bagi milisi yang ia pimpin dan bagi Israel yang menggantungkan sebagian stabilitas wilayah padanya.
Runtuhnya kepemimpinan Abu Shabab mengungkap paradoks yang sudah lama melekat dalam strategi Israel: upaya membangun sekutu lokal yang tidak memiliki akar dalam masyarakat hanya menciptakan kekuasaan artifisial. Tanpa pemimpin yang kuat, Popular Forces kehilangan arah, disiplin, dan fungsi strategis. Untuk Israel, hilangnya figur sentral ini berarti kehilangan alat penghubung, kehilangan intelijen lapangan, dan kehilangan kemampuan kendali yang sebelumnya dapat dijalankan secara tidak langsung. Dengan demikian, kematian Abu Shabab bukan hanya berimplikasi pada kelompoknya, tetapi juga menggoyahkan strategi regional Israel.
Popular Forces dan Retaknya Proyek Politik Israel
Popular Forces adalah bagian dari rencana besar Israel membentuk struktur administratif dan keamanan alternatif di Gaza, khususnya setelah runtuhnya sebagian besar institusi lokal. Kelompok ini terbentuk pada pertengahan 2024 sebagai kekuatan bersenjata yang dianggap mampu menjalankan tugas-tugas dasar keamanan di wilayah selatan Gaza. Dengan mengandalkan anggota yang mengenal medan dan dinamika masyarakat, Israel berharap kehadiran mereka dapat meredakan konflik tanpa keterlibatan militer langsung yang terlalu besar. Namun proyek ini sejak awal diliputi keraguan karena Popular Forces tidak tumbuh dari legitimasi sosial, melainkan dari mekanisme patronase yang rapuh.
Kepemimpinan Abu Shabab menjadi faktor tunggal yang menjaga kelompok ini tetap relevan. Ia memiliki kemampuan membangun jaringan lokal melalui kombinasi hadiah, intimidasi, dan kedekatan operasional dengan pihak Israel. Namun semua itu tidak cukup untuk menciptakan loyalitas sejati atau stabilitas jangka panjang. Ketika ia jatuh, seluruh struktur kelompok mengalami guncangan besar. Perpecahan internal kembali muncul, solidaritas melemah, dan kepastian arah politik kelompok menghilang. Popular Forces yang sebelumnya dipromosikan sebagai solusi keamanan kini justru menjadi simbol rapuhnya strategi yang bertumpu pada kekuatan bayangan.
Retaknya Popular Forces memaksa Israel meninjau ulang pendekatan mereka. Hingga kematian Abu Shabab, kelompok ini masih mampu menjalankan fungsi yang tidak dapat dipenuhi oleh pasukan reguler, seperti masuk jauh ke lingkungan tertentu, mengumpulkan informasi lokal, dan berinteraksi dengan komunitas yang sulit disentuh oleh tentara. Dengan runtuhnya kelompok tersebut, Israel kehilangan pengganti yang efektif. Mereka kini dihadapkan pada pilihan sulit: apakah menghidupkan kembali model yang sama dengan pemimpin baru, atau meninggalkan seluruh pendekatan dan merancang strategi baru yang tidak bertumpu pada keberadaan milisi lokal.
Gaza dan Realitas Sosial yang Tidak Bisa Dipaksakan
Gaza adalah wilayah dengan struktur sosial yang sangat kompleks, di mana identitas keluarga, klan, dan komunitas memainkan peran besar dalam menentukan legitimasi politik. Dalam lingkungan semacam ini, keberadaan milisi yang bekerja sama dengan kekuatan luar cenderung terjebak dalam lingkaran ketidakpercayaan. Popular Forces tidak pernah mampu menembus hambatan ini, bahkan di bawah kepemimpinan Abu Shabab. Mereka dipandang sebagai aktor eksternal yang mengancam dinamika sosial, sehingga sulit menciptakan hubungan yang stabil dengan warga Gaza. Kematian pemimpinnya mengukuhkan bahwa kekuatan semacam ini tidak dapat bertahan tanpa dukungan dari bawah.
Selain itu, konflik internal yang menewaskan Abu Shabab mencerminkan tekanan sosial yang menumpuk di dalam Gaza. Banyak kelompok lokal merasa Popular Forces mengganggu keseimbangan sosial yang telah terbentuk selama bertahun-tahun di tengah konflik. Ketegangan antarklan, persaingan akses sumber daya, dan ketidaksenangan terhadap kerja sama dengan Israel menjadi pemicu yang mempercepat kehancuran kelompok ini. Kejadian ini mengirim pesan jelas bahwa kekuatan ilegal atau semi-resmi yang tidak mengakar di masyarakat tidak akan mampu bertahan dalam tekanan sosial yang semakin tinggi.
Bagi Israel, dinamika sosial Gaza adalah tembok besar yang tidak dapat ditembus hanya dengan pendekatan militer atau dukungan terhadap milisi lokal. Tanpa memahami pola hubungan sosial di lapangan, setiap desain kekuasaan akan mudah runtuh ketika menghadapi realitas kompleks masyarakat Gaza. Kematian Abu Shabab membuktikan hal tersebut. Strategi Israel kini harus menghadapi kenyataan bahwa kekuatan yang dibangun tanpa mempelajari struktur sosial setempat bukan hanya tidak efektif, tetapi juga bisa menjadi bumerang yang memperburuk ketidakstabilan.
Penutup
Kematian Yasser Abu Shabab menjadi titik balik yang menggugah berbagai pihak untuk menilai ulang strategi pembangunan kekuasaan di Gaza. Popular Forces, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai instrumen utama Israel dalam menciptakan stabilitas lokal, runtuh hanya dengan hilangnya satu figur pemimpin. Peristiwa ini mengungkap bahwa strategi kekuasaan yang mengabaikan realitas sosial Gaza tidak dapat bertahan lama dan mudah diguncang oleh konflik internal. Israel kini harus menghadapi kenyataan bahwa mereka kehilangan salah satu jalur penting untuk mengelola wilayah tersebut tanpa keterlibatan militer langsung.
Pada akhirnya, tragedi yang terjadi di Rafah pada 4 Desember 2025 ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan yang dibangun tanpa legitimasi sosial akan selalu rapuh. Kematian Abu Shabab bukan hanya menunjukkan keruntuhan sebuah milisi, tetapi juga kegagalan pendekatan Israel yang mengandalkan kekuatan proksi. Di tengah ketidakpastian yang terus melanda Gaza, peristiwa ini menjadi sinyal bahwa jalan menuju stabilitas tidak dapat dipaksakan melalui kekuatan senjata semata, tetapi harus berangkat dari pemahaman yang lebih jujur dan dalam terhadap masyarakat yang ingin dikendalikan.







