TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika dan Pemkab Puncak beserta para pihak terus berupaya mempercepat proses perdamaian dua kelompok warga Puncak yang terlibat konflik perang panah di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Bupati Mimika Johannes Rettob didampingi Wakil Bupati Emanuel Kemong, Rabu (7/1) sore menggelar pertemuan dengan kelompok warga Puncak dari kubu Newegalen di Pendopo Rumah Negara SP 3, Timika.
Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal, Sekretaris Daerah Puncak Nenu Tabuni bersama anggota DPRK Mimika serta pendeta, tokoh Masyarakat, dan korban dari kubu Newegalen.
Bupati Rettob usai pertemuan mengatakan, dari hasil pertemuan ada itikad perdamaian dari pihak Newegalen, tetapi masih ada satu tahap lagi yaitu mempertemukan kedua pihak yang akan dilakukan beberapa hari lagi.
“Jadi dari hasil pertemuan dari pihak Newegalen mengerucut perdamaian akan segera terjadi. Satu langkah lagi kita akan lakukan pertemuan dua kubu dalam beberapa hari ke depan. Setelah itu kita akan segera lakukan prosesi belah kayu berarti damai,” ujar John Rettob di Timika, Papua Tengah, Rabu (7/1).
Selain itu dari pertemuan tersebut, kubu Newegalen berharap aparat keamanan dapat digeser sehingga warga bisa hadiri pertemuan. Sebelum pertemuan kedua pihak akan dilakukan pertemuan keluarga masing-masing.
“Nah, sekarang kan sedang banyak aparat keamanan di dalam. Mereka mau mengumpulkan keluarga agak susah, sehingga mereka minta aparat keamanan agak longgar supaya keluarga bisa bertemu untuk menentukan kapan waktunya,” kata Rettob.
Bupati Rettob juga menambahkan, tidak ada permintaan khusus dari pihak keluarga kepada Pemerintah Daerah Mimika maupun Puncak.
“Tidak ada permintaan khusus dari mereka. Sempat ada perdebatan ada yang bilang ini tanggung jawab pemerintah tetapi ada yang bicara dari mereka menegaskan ini perang adat harus diselesaikan secara adat dan pemerintah hanya memfasilitasi,” katanya.
Tokoh suku Damal di Kwamki Narama Geraldus Wamang mengatakan, pihaknya sangat menginginkan perdamaian sehingga dirinya sangat mendorong adanya perdamaian tersebut agar tidak jatuh korban lagi.
“Kami datang ke sini untuk perdamaian, orang saya disini sudah habis, mereka keluarga saya perang. Korban sudah cukup saya tidak mau tambah korban lagi harus damai,” ujar Geraldus Wamang.
Geraldus Wamang juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Mimika serta Wakil Bupati dan Sekda Puncak yang sudah terus berusaha mengupayakan perdamaian perang adat saudara ini.
“Terima kasih Pemda Mimika dan Puncak dan semua pihak atas upaya perdamaian ini dan bantuannya dengan melibatkan kami para tokoh dan pendeta dalam proses perdamaian ini,” kata Geraldus Wamang.
Bupati John Rettob didampingi Wakil Bupati Emanuel Kemong sebelumnya juga menggelar pertemuan di Pendopo Rumah Negara, SP 3, Timika, Mimika, Papua Tengah, Senin (5/1) malam.
Bupati Rettob mengatakan, pertemuan yang difasilitas tersebut bertujuan mendengar langsung aspirasi kelompok Dang agar perang bisa segera diakhiri. Pertemuan dihadiri juga Naftali Akawal dan Nenu Tabuni beserta jajarannya, pimpinan perang, para kepala suku, dan keluarga lima korban meninggal dari kubu Dang.
“Setelah dengar aspirasi bapa-bapak (kelompok Dang) yang hadir, kami juga akan dengar aspirasi dari kubu sebelah. Kita mau segera berdamai supaya kita bisa melanjutkan aktivitas seperti biasa,” ujar Bupati Rettob di Timika, Senin (5/1).
Dalam pertemuan tersebut, pimpinan perang, para kepala suku, dan keluarga lima korban meninggal dari kubu Dang menyatakan siap berdamai. Dalam pertemuan itu, kelompok Dang menyatakan mengakhiri konflik menuju perdamaian permanen sebagai sesama saudara dalam honai yang sama di atas tanah Papua.
Naftali Akawal dalam kesempatan itu menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya pertemuan tersebut. Ia mengatakan, komunikasi damai perlu dibangun agar konflik yang telah menelan banyak korban itu segera berakhir.
“Malam ini pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi keluarga korban untuk menyampaikan aspirasi,” ujar Naftali.
Sedangkan Nenu Tabuni mengatakan, pemerintah tidak tinggal diam sejak konflik pecah. Ia menjelaskan, berbagai upaya telah dilakukan, diantaranya pertemuan bersama Kapolda, Kapolres, MRP, DPRP hingga Gubernur Papua Tengah, Danrem dan Bupati Mimika.
Emanuel Kemong juga mengatakan, konflik harus dihentikan. Pertikaian yang telah berlangsung sekitar tiga bulan, lanjutnya, sudah terlalu banyak memakan korban. Karena itu, jalan damai menjadi satu-satunya pilihan.
Benyamin, tokoh dari kubu Dang mengatakan, pihaknya siap berdamai apabila kubu Newegalen menerima penyelesaian korban terakhir. “Bila kesepakatan tercapai, prosesi adat perdamaian atau bela kayu siap dilakukan secepatnya,” ujar Benyamin. (*)










