Bupati Kabupaten Mimika John Rettob Ajak Warga Perkuat Persaudaraan Wujudkan Perdamaian

Bupati Kabupaten Mimika Johannes Rettob saat menerima warga masyarakat saat berkunjung ke rumah dalam rangka bersilaturahmi tahun baru di kediaman pribadi, Timika, Papua Tengah, Sabtu (3/1). Foto: Istimewa

TIMIKA, ODIYAIWUU.com Bupati Mimika Johannes Rettob, Sabtu (3/1) mengajak warganya untuk menjadikan momentum Tahun Baru 2026 sebagai ajang untuk memperkuat dan meneguhkan persaudaraan di tengah keberagaman guna mewujudkan suasana yang damai.

Bupati John Rettob mengatakan, kebersamaan dan persaudaraan yang kokoh antarkelompok masyarakat menjadi fondasi utama dalam membangun daerah. Tanpa kebersamaan dan persaudaraan yang kokoh, maka rentan terjadi konflik sosial yang berujung pada instabilitas keamanan daerah.

“Sabtu ini, meskipun telah memasuki hari ketiga tahun baru, antusiasme masyarakat untuk berkunjung ke rumah dalam rangka bersilaturahmi tahun baru masih terasa begitu besar. Kehadiran masyarakat dari berbagai latar belakang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ujar John Rettob saat menerima kunjungan warga Mimika di kediamannya, Timika, Papua Tengah, Sabtu (3/1).

Menurut Bupati Rettob, momen kebersamaan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi wujud nyata rasa persaudaraan, kepercayaan, dan harapan bersama untuk melangkah di tahun yang baru dengan semangat saling mendukung dan membangun Mimika yang lebih baik.

Kunjungan warga Mimika ke kediaman pribadi John Rettob dalam rangka silaturahmi tahun baru sekaligus menegaskan bahwa Mimika adalah rumah kita. Dalam silaturahmi itu terjalin relasi pesaudaraan antara pemimpin dan rakyat tanpa batas agar bergandengan tangan mersama membangun Mimika.

“Jangan biarkan kebencian dan perbedaan memecah-belah persaudaraan kita. Kita kuat karena kita bersatu. Mari kita bekerja sama membawa Mimika lebih baik di tahun 2026 ini sesuai visi-misi kami yaitu membangun dari kampung ke kota sehingga masyarakat yang ada di pelosok kampung dan distrik bisa merasakan sentuhan pembangunan,” kata Rettob.

Menurut Rettob, setiap orang, apapun latar belakang suku, agama, budaya, maupun profesinya, entah sebagai petani, nelayan, buruh, aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI-Polri dan lainnya memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama untuk menciptakan rasa damai di tengah kehidupan bermasyarakat.

Sebagai pemimpin Mimika saat ini, lanjut Bupati Rettob ia dan Wakil Bupati Emanuel Kemong berkomitmen untuk melaksanakan amanah yang dipercayakan rakyat dengan penuh rasa tanggung jawab.

“Jabatan yang kami pegang saat ini untuk melayani masyarakat, bukan untuk kita dilayani. Supaya masyarakat terutama di kampung-kampung yang jauh dari kota bisa terlayani dengan baik di seluruh aspek mulai dari bidang ekonomi, sosial, infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan lainnya,” ujar Rettob.

Di bawah kepemimpinan Rettob-Kemong keduanya berkomitmen untuk mewujudkan pembangunan yang berkeadilan, mulai dari pesisir pantai, pegunungan, pinggiran kota hingga di kota Timika.

Karena itu, katanya, keberhasilan pembangunan Mimika tidak bisa hanya diukur dari megahnya infrastruktur yang dibangun di kota. Namun, lebih dari itu bagaimana masyarakat yang bermukim di pelosok dan terpencil sungguh merasakan denyut nadi pembangunan.

“Keberhasilan pembangunan kita jika anak-anak kita di pedalaman, pesisir pantai dan gunung-gunung bisa tersenyum karena menikmati pendidikan yang layak,” kata Rettob, mantan ASN Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

Selain itu, kata Rettob, kata mantan Wabup Mimika periode 2019-2024, keberhasilan pembangunan juga terlihat dari barang jualan mama-mama di pasar laris. Kemudian, warga yang sakit mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Pada 2025, Kabupaten Mimika mencatat sejarah meraih penghargaan Harmony Award dari Kementerian Agama, di mana Mimika terpilih sebagai daerah paling harmoni dari 514 kabupaten/kota se-Indonesia.

Bupati Rettob berharap seluruh komponen warga Mimika mempertahankan predikat tersebut. Di penghujung 2025, Pemkab Mimika menggelar acara syukuran yang dihadiri ribuan warga bertempat di halaman Gedung Eme Neme Yauware, Timika.

Perayaan syukur itu diisi dengan doa bersama lintas agama, penyalaan 1.000 lilin sebagai bentuk solidaritas atas musibah bencana alam yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh. (*)