Oleh: Yakobus Dumupa
(Pembelajar Hubungan Internasional dan Isu-isu Global, tinggal di Nabire, Tanah Papua)
Pendahuluan
Gelombang protes yang meledak di Iran sejak akhir Desember 2025 dan mencapai puncak pada awal Januari 2026 menandai salah satu babak paling dramatis dalam sejarah Republik Islam. Di tengah krisis ekonomi, represi politik, dan kemarahan moral yang menumpuk selama puluhan tahun, publik akhirnya menantang dua hal yang selama ini dianggap tidak tersentuh: Islam sebagai agama dan Iran sebagai negara. Untuk pertama kalinya sejak Revolusi 1979, simbol-simbol keagamaan dan simbol-simbol negara dipermalukan di jalan-jalan kota Iran tanpa rasa takut yang berarti.
Selama empat puluh lima tahun, rezim menanamkan keyakinan bahwa Islam dan Iran adalah satu entitas yang menyatu. Kritik terhadap negara secara otomatis diterjemahkan sebagai penghinaan terhadap agama. Melawan ulama berarti melawan Tuhan, dan menolak pemerintahan berarti menolak Islam. Narasi ini diproduksi melalui sekolah, masjid, media, dan aparat negara. Namun, ketika protes memuncak pada 2–6 Januari 2026 di kota-kota besar seperti Teheran, Karaj, Mashhad, Shiraz, Isfahan, dan Tabriz, tembok kesakralan itu retak dan runtuh di hadapan massa yang murka.
Islam Sebagai Agama yang Dilecehkan
Fenomena paling mengejutkan dalam protes ini adalah tindakan simbolik yang menyasar kesucian agama. Di Distrik Sa’adat Abad, Teheran, pada 2 Januari 2026, sekelompok demonstran membakar Masjid al-Rasul setelah polisi anti-huru-hara mundur dari lokasi. Dua jam sebelumnya, masjid di kawasan Gholhak dilaporkan rusak setelah jemaah berusaha menghalangi masuknya aparat keamanan dan terjadi bentrokan singkat. Walikota Teheran menyebut lebih dari tiga puluh masjid mengalami kerusakan atau pembakaran selama pekan pertama Januari, meski angka ini sulit diverifikasi secara independen.
Di Hamadan, pada malam 3 Januari 2026, aparat menyatakan massa membakar mushaf Al-Qur’an bersama beberapa buku agama di lapangan Sadaf sebelum menyerang masjid terdekat. Versi pemerintah menggambarkannya sebagai aksi blasphemy dengan motif kebencian terhadap agama. Namun organisasi masyarakat sipil yang berbasis di diaspora menyebut tindakan itu merupakan bentuk “balas dendam moral” terhadap ulama negara yang diduga memanipulasi agama untuk kepentingan kekuasaan. Narasi bersaing ini menunjukkan betapa kompleks hubungan rakyat Iran dengan agamanya sendiri.
Serangan terhadap lembaga pendidikan agama juga terjadi. Pada 4 Januari 2026, sebuah hawza di Farokhshahr dibakar massa setelah terjadi konfrontasi antara mahasiswa dan aparat keamanan. Video yang beredar menunjukkan serban ulama jatuh dan diinjak oleh demonstran, sebuah tindakan yang dalam tradisi Syiah dapat dianggap sebagai penghinaan serius terhadap status keagamaan seseorang. Dalam perspektif sosiologi agama, seluruh tindakan ini merupakan proses desacralization atau pelepasan kesakralan dari objek yang dulu dianggap suci.
Yang menarik, banyak pelaku protes tetap mengidentifikasi diri sebagai Muslim. Namun mereka tidak lagi menerima Islam versi negara yang dipimpin ulama. Bagi generasi muda Iran, penghinaan ini bukan penolakan terhadap Tuhan, tetapi penolakan terhadap monopoli ulama atas Tuhan. Dengan kata lain, Islam sebagai agama dihina karena agama dijadikan alat negara untuk menindas rakyat.
Islam Sebagai Negara yang Dilecehkan
Jika agama dihina sebagai bentuk pembalasan spiritual, maka negara dihina sebagai bentuk pembalasan politik. Pada 2–5 Januari 2026, pembakaran potret Ayatollah Ali Khamenei terjadi hampir setiap malam di beberapa distrik Teheran, termasuk Sa’adat Abad, Vanak, dan Niavaran. Salah satu video yang viral memperlihatkan seorang perempuan menyalakan rokok menggunakan api dari foto Khamenei yang dibakar. Video ini menabrak konstruksi simbolik rezim yang menempatkan Pemimpin Tertinggi sebagai figur suci yang berada di atas kritik.
Selain Khamenei, patung Jenderal Qasem Soleimani di Qaemshahr dijatuhkan dan dirusak pada 6 Januari 2026. Soleimani adalah tokoh sentral dalam narasi Revolusi, diposisikan rezim sebagai pahlawan suci yang gugur dalam misi defending the homeland. Ketika patungnya diinjak oleh massa, bukan hanya militernya yang dihina, tetapi seluruh sistem ideologis yang menopang Revolusi 1979. Di lapangan internasional, demonstran diaspora di London, Berlin, dan Roma menurunkan bendera Republik Islam dan menggantinya dengan bendera pra-1979 bergambar singa dan matahari. Simbol ini menegaskan bahwa penolakan tidak hanya menyasar pemerintah, tetapi juga identitas negara.
Slogan-slogan yang terdengar selama protes memperjelas arah konflik. Di Teheran dan Karaj, massa meneriakkan “Death to the dictator” dan “Death to Khamenei”, menggantikan slogan negara “Death to America” yang dipaksakan selama puluhan tahun melalui sekolah dan media. Bagi rezim teokratis, ini adalah delegitimasi ideologis paling berbahaya: kebencian kolektif yang dulu diarahkan ke luar kini diarahkan ke dalam.
Mengapa Ini Terjadi
Tiga faktor utama menjelaskan mengapa penghinaan terhadap agama dan negara muncul bersamaan. Pertama adalah hipokrisi moral. Ketika ulama berkuasa tetapi gagal menunjukkan integritas, agama kehilangan pelindung simboliknya. Korupsi di tubuh ulama, kemewahan ekonomi pejabat agama, serta penggunaan agama untuk membenarkan kekerasan negara menciptakan jurang psikologis antara ulama dan rakyat. Ketika jurang itu melebar, penghinaan menjadi salah satu bentuk penghukuman moral.
Faktor kedua adalah krisis sosial-ekonomi. Iran adalah negara kaya sumber daya, namun rakyatnya hidup dalam inflasi tinggi, pengangguran luas, dan penurunan daya beli yang tajam. Ketika ekonomi runtuh, agama tidak lagi mampu menjadi penyangga sosial. Kekecewaan ekonomi berubah menjadi kemarahan politik, dan kemarahan politik berubah menjadi penghinaan simbolik. Hal ini menjelaskan mengapa pemuda Iran yang lahir setelah 2000 menjadi aktor utama dalam protes, karena mereka tidak lagi terikat oleh romantisme Revolusi 1979.
Faktor ketiga adalah kontradiksi internal dalam teologi Syiah. Narasi Husain melawan Yazid adalah fondasi spiritual Syiah. Namun dalam Republik Islam, negara justru mengambil posisi Yazid: menindas rakyat atas nama Tuhan. Bagi banyak pemuda, protes ini bukan pemberontakan sekuler, tetapi tindakan moral untuk merebut kembali agama dari tangan negara. Dengan demikian, penghinaan terhadap simbol agama muncul bukan karena kebencian terhadap Tuhan, tetapi karena cinta terhadap Tuhan yang merasa dikhianati oleh negara.
Data korban memperkuat gambaran ini. Pemerintah Iran mengakui 217 orang tewas hingga 10 Januari 2026. Organisasi HAM Iran Human Rights yang berbasis di Oslo menyebut angka kematian mencapai 2.403 jiwa dalam periode yang sama. Sementara kelompok diaspora menyebut angka lebih tinggi dari 3.000. Ketiga versi data ini mungkin berlebihan atau meremehkan, tetapi semuanya sepakat bahwa darah mengalir, dan ketika darah mengalir, legitimasi rezim terkikis.
Penutup
Apa yang terjadi di Iran pada akhir 2025 hingga awal 2026 adalah paradoks terbesar dalam teokrasi modern: semakin keras negara memaksakan agama, semakin cepat kesakralan agama itu runtuh. Empat puluh lima tahun setelah Revolusi Islam, rakyat Iran akhirnya berani menghina Islam versi negara, bukan karena mereka menolak Islam, tetapi karena mereka menolak negara yang mengklaim sebagai wakil Tuhan. Dalam proses itu, Islam Iran akhirnya dilecehkan, bukan oleh musuh asing, melainkan oleh rakyatnya sendiri.
Masa depan Iran masih terbuka. Rezim mungkin bertahan dengan kekerasan, tetapi Revolusi 1979 telah kehilangan mitosnya. Ketika agama kehilangan kesakralan dan negara kehilangan legitimasi, satu era berakhir dan pintu era baru terbuka. Pertanyaannya bukan lagi apakah Republik Islam akan runtuh, tetapi kapan dan apa yang akan menggantikannya. (yod82)









