Oleh Frans Maniagasi
Pengamat Sosial Politik Papua
DALAM dunia multipolar satu kekuatan berupaya mengintegrasikan dan menata kehidupan dalam dunia yang tunggal. Kehidupan yang unik dan variatif mesti dirobohkan maknanya menjadi kontributor terhadap kekuatan tunggal saja. Ternyata tesis ini dalam konteks kehidupan mikro di Kabupaten Waropen —Negeri Seribu Bakau— justru dipatahkan oleh kehadiran seorang kepala daerah Fransiscus Xaverius Mote atau FX Mote.
Spiritualitas dan filsafat bahwa kebenaran itu majemuk tidak terbatasi dengan dinding dan sekat primordialisme sempit –bahwa yang jadi Bupati dan Wabup adalah “mitos” anak setempat, mampu diterjangi oleh FX Mote.
Dalam konteks itu FX Mote datang dan bertemu saya di Jakarta untuk menyampaikan maksud dan tujuannya menjadi pemimpin kepala daerah di Waropen (2024). Saya menyadari meski pun daerah ini adalah kampung asal orangtua saya namun saya lahir dan besar serta kemudian merantau untuk memperoleh pendidikan diperantauan bahkan hingga kini hampir 50 tahun bermukim dinegeri rantau —yang seolah-olah menjadi rumah saya dan keluargaku.
Namun relasi sosial dan emosional sebagai bagian dari komunitas negeri seribu bakau tak pernah memudar. Banyak ceritra dan kisah menarik dan memprihatinkan pun yang saya dapati teristimewa pasca Waropen menjadi kabupaten sendiri dari Yapen. Waropen bukan “berpisah” tapi “pamit” dari Yapen, tadinya satu rumah kini dua rumah yang memiliki kesamaan dan persamaan dalam “relasi” kekeluargaan dan kekerabatan serta kebersamaan yang tak dapat dipisahkan sejak nenek moyang.
Nah, dalam pertemuan dan diskusi yang cukup menyita waktu saya menegasikan bahwasanya saya tidak memiliki otoritas untuk memberikan mandat atas nama masyarakat kepada beliau. Tapi political will (kemauan politik) pribadi saya mendukung seribu persen untuk FX Mote maju dan Puji Tuhan menjadi Bupati di Waropen.
Mengapa? Alasannya sejak Waropen menjadi daerah berpemerintahan kabupaten, saya banyak memperoleh data, informasi dan laporan bahwa daerah ini kurang diurus dengan baik, kadang-kadang bupatinya jarang ada di tempat. Semua laporan ini tiba di meja saya (Merdeka Utara) terutama saya dipercayakan menjadi Staf Khusus Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri/Dirjen Otda Soni Soemarsono (senior saya di Fisipol UGM) selama empat tahun (2015–2019).
Dalam rapat internal Dewan Pemerintahan dan Otonomi Daerah (DPOD) mau pun K/L terkait kabupaten ini tidak pernah memperoleh nilai rapor yang baik, menyala semua alias “merah” sehingga para kolega di Kemendagri dan K/L terkait secara guyon menyendiri saya. Saya hanya singkat kata menyampaikan bahwa masalahnya adalah di leadership.
Tepat waktu kehadiran dan keberadaan FX Mote menjadi istimewa. Dalam diskusi itulah saya menyakini bahwa dialah orang yang tepat bukan berasal dari Waropen –asal Paniai (Mee) untuk saya bukanlah persoalan sebagai orang yang tidak berpikir primordialisme sempit. Nilai-nilai profesionalisme, integrated serta pluralisme menjadi basis pijakan untuk saya mendukung dan mendorong Mote menjadi Waropen One.
Saya menegasikan kepada Mote bahwa kehadiran dan eksistensimu di Waropen bukan atas nama kekuasaan tapi untuk mencintai (cinta) kepada masyarakat dan wilayah itu. Kekuasaanmu atas basis logika cinta sehingga hal itu menjadi satu sinkretisme nilai-nilai perpaduan hidup orang Waropen dengan filsafatnya kaninabaruko (cinta kasih/saling baku sayang).
Dalam noken-mu bukan kekuasaan tapi kekuasaan itu substansi dan balutannya adalah kasih/cinta. Seperti dalam hukum kasih yang diajarkan oleh Gembala Agung Jesus Kristus kasihlah Tuhan Allahmu dengan sebulat–bulat hatimu dan segenap akal budimu dan cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri. Jadi basis pemerintahan FX Mote dan Yoel Boari (Wabup) adalah menjadikan fundamental filosofi bagi ekologi cinta kasih yang mesti mewarnai dan mendinamisasi seluruh karya dan tugas di Waropen.
Artinya ontologi kehidupan seorang Fransiskan (Ordo dalam Gereja Katolik) adalah mendorong kehidupan yang dihayati bersama masyarakat yang hidup dalam kesederhanaannya dan dihayati degan menjadikan mereka sebagai subyek dari seluruh proses berpemerintahan dan pembangunan serta pelayanan publik mesti mendinamisasi FX Mote dan Yoel Boari sebagai Bupati dan Wabup di Waropen. Kekuasaan tidak hanya dihayati sebagai obyek memerintah tapi sebagai bentuk yang dijalani mewarnai seluruh dinamika pengambilan keputusan dalam kesetaraan dan sederajat.
FX Mote dan Yoel Boari selama setahun pemerintahannya telah memperlihatkan perubahan yang radikal dimana ASN dilingkungan Pemda di Waropen diawali dengan disiplin dan etos kerja yang menjadi cara dan sikap hidup ASN secara kolektif. Kesetiaan dan pelayanan kepada pekerjaan dan masyarakat adalah kata kunci.
Tidak sekadar menjadi kata sambutan dalam arahan pada apel pagi atau sambutan acara seremonial tapi hal itu dipertontonkan dengan otoritas yang hendak memutuskan cara-cara dan praktek lama yang selama dua puluh tahun lalu sejak Waropen menjadi kabupaten merupakan unsur yang menghambat dan memutuskan relasi dominium paternum.
Keberadaan Mote memutus relasi dan kepemilikan bukan semata-mata karena berkuasa tapi digantikan dengan kekuasaan yang dominan untuk diwujudkan dalam praktek berpemerintahan yang setara dan sederajat sebagai manusia yang melayani rakyat dan daerah ini.
Selamat dan Sukses Setahun Pemerintahan Bupati FX Mote dan Yoel Boari sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Waropen.










