OPINI  

Perlu Bernalar dalam Bermedia Sosial

Kasdin Sihotang, Dosen Filsafat Moral di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta; Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia. Foto: Istimewa

Oleh Kasdin Sihotang

Dosen Filsafat Moral di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta; Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia

KEMAJUAN ilmu pengetahuan dan teknologi dalam dua dekade terakhir begitu mengagumkan. Kemajuan itu telah diakui oleh berbagai pemikir sebagai sesuatu yang luar biasa, cepat dan begitu fungsional dan membuat hidup, lebih komunikasi menjadi lancar. Dunia dijadikannya bagaikan desa kecil yang tidak berjarak lagi. Marshall McLuhan dalam The Global Village (1963) menyebutnya dengan istilah “global village”.

Salah satu pemikir yang begitu intens mencermati perkembangan itu adalah Yoval Noah Harari. Dalam tiga bukunya yang begitu populer, Harari menarasikan bagaimana perkembangan itu terjadi sejak awal. Buku pertamanya adalah Sapiens (2011). Dalam buku ini, Harari menggambarkan bahwa perhatian manusia awal pada awalnya adalah pengembangan kehidupan pertanian setelah meninggalkan tradisi nomaden atau berpindah-pindah.

Dalam masa ini Harari menyimpulkan bahwa perjuangan utama manusia adalah bagaimana ia bisa berbeda dengan hewan lainnya. Perbedaan itu ditunjukkan dengan meninggalkan kebiasaan berpindah-pindah, dan membentuk sebuah komunitas dengan tinggal di daerah tertentu. Itu yang diistilahkan oleh Harari dengan terminologi dua kata Latin homo sapiens.

Di benak Harari arti homo sapiens memang tidak persis seperti dipahami oleh Aristoteles, Carolus Linneaus, ahli botani Swedia serta Manlius Severinus Boetius. Dua kata tersebut baginya lebih mengandung pengertian pada hidup berkomunitas atau berkelompok.

Namun Harari sendiri menyadari juga bahwa identitas homo sapiens mulai bergeser dari tekanan familiaritas atau komunitas ke pemanfaat pikirannya secara maksimal. Dalam pandangan Harari, manusia memiliki keistimewaan, jika dibandingkan dengan makhluk yang lainnya.

Manusia memiliki otak. Otak manusia memiliki peran yang berbeda dengan otak makhluk yang lain. Perbedaannya adalah bahwa manusia memiliki pikiran dalam otaknya. Dan dari waktu ke waktu di sana terjadi revolusi, yang disebut Harari dengan revolusi kognitif.

Revolusi Kognitif

Menurut Harari, revolusi kognitif ini terjadi ketika manusia mulai menghidupi dunianya dengan dasar pengetahuan, kemudian pengetahuan itu terus menerus dikembangkan hingga dengan metodologi tertentu.

Seiring dengan revolusi kognitif itu, bahasa manusia mulai mengalami perkembangan, yang tentunya sangat mendukung bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Bahasa khususnya melalui tulisannya, ilmu pengetahuan sangat cepat menyebar ke berbagai belahan dunia. Bahasa pula membuat perkembangan ilmu pengetahuan begitu cepat.

Perkembangan bahasa yang mendukung dan memperkuat revolusi kognitif membawa kemampuan baru, yang meliputi kemampuan meneruskan informasi dalam kuantitas lebih besar mengenai dunia sekeliling manusia, kemampuan meneruskan informasi dalam kuantitas lebih besar mengenai hubungan sosial manusia, dan kemampuan meneruskan informasi mengenai hal-hal yang tidak sungguh ada.

Ketiga hal ini memiliki implikasi lebih lanjut dengan adanya perencanaan dan pelaksanaan tindakan yang kompleks seperti menghindari ancaman binatang buas dan membahayakan, semakin terjalinnya kohesi sosial yang semakin luas, dan kerjasama antara orang yang laing tidak mengenal dalam jumlah yang sangat besar dan inovasi perilaku sosial secara cepat pula.

Dalam tahap selanjutnya pengalaman lain muncul berkat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah lahirnya industri-industri baru sebagai buah dari perkawinan sains dengan imperium. Fokus manusia dalam hal ini adalah pengembangan bidang ekonomi, yang tujuannya adalah demi terwujudnya kesejahteraan.

Revolusi industri adalah buah konkrit dari situasi ini. Namun diamati oleh Harari perkembangan ekonomi membangkitkan satu sikap buruk dalam diri manusia, yakni terbentuknya mentalitas penaklukan. Ini disebutnya sebagai imperialisme, yang dirintis oleh Vasco da Gama.

Awalnya adalah penaklukan wilayah, namun seiring dengan itu terjadinya penaklukan pengetahuan. Keduanya bersinergi di masa berikutnya. Ini pulalah menjadi cikal bakal terminologi global dan globalisasi di kemudian hari.

Puncak dari perkembangan ini menurut pengamatan Harari adalah kapitalisme yang memiliki kredo tentang pentingnya uang di posisi pertama untuk membangun imperium dan mendorong sains.

Harari melihat perkembangan selanjutnya terjadi, yang berbeda dengan tahap sebelumnya. Jika tahap sebelumnya manusia masih mencari pola kehidupannya dan bagaimana ia mengembangkan pola kehidupan itu, pada tahap kedua, manusia memberikan perhatian yang sedikit berbeda.

Ketika tahap pertama perhatian manusia adalah pengembangan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan itu bagi kesejahteraan manusia, maka tahap berikutnya manusia memberikan perhatian pada penempatan posisinya atau cara pandang dirinya.

Dalam buku Homo Deus (2013) Harari menggambarkan fokus perhatian yang berbeda dengan isi buku Sapiens. Di mana letak perbedaannya? Yang paling menonjol menurut hasil kajian akademik Harari ialah bahwa manusia telah menempatkan dirinya sebagai penguasa tunggal. Ia menganggap dirinya adalah segala-galanya dan menentukan segala-galanya pula.

Manusia merasakan omnipotens atau memiliki segala kemampuan, tanpa perlu kekuatan dari yang lain. Karena itu ia menganggap dirinya sebagai “Tuhan”, artinya yang memiliki kekuasaan paling besar dan utama atas berbagai peristiwa hidup manusia. Segala-galanya tergantung pada kemampuannya. Inilah yang disebutnya dengan makna kata homo deus, artinya manusia yang menjadi maha kuasa atas segala-galanya.

Jaringan yang dibangun manusia hanya dengan manusia lainnya dan dengan organisasi-organisasinya. Relasi atau hubungan di luarnya tidak lagi dianggap sebagai yang penting. Kebahagiaan manusia bersumber dari dirinya sendiri, bukan dari luar dirinya seperti nilai-nilai religiusnya.

Maka sebenarnya dengan ini Harari mengamati bahwa homo deus adalah krisis religi yang menempatkan manusia sebagai penguasa segala-galanya dan seolah-olah tidak memerlukan kemampuan yang berasal dari luar dirinya. Manusia menjadi tuan atas segala-galanya dan sumber atas segala-galanya. Ia adalah sumber segala hal bagi dirinya sendiri.

Dengan menempatkan manusia sebagai sumber, maka dalam tahap berikutnya manusia memfokuskan diri pada keterhubungan antara satu kelompok manusia dengan kelompok manusia yang lain. Dalam tahap ini, dunia yang dihidupi oleh manusia adalah membangun jaringan sebanyak mungkin.

Jaringan adalah hal yang utama, dan jaringan itu sendiri menjadi inti, yang disebutnya sebagai nexus. Itulah yang disarikan oleh Harari dalam buku terbarunya, Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI (2024).

Dalam buku tersebut Harari mendeskripsikan bahwa yang paling mengambil posisi penting di situ adalah teknologi komunikasi digital. Teknologi komunikasi adalah media yang mempersatukan manusia dari berbagai latar belakang dan dari berbagai belahan bumi di dunia.

Pemanfaatan teknologi komunikasi digital menjadi sangat dominan dan dianggap memberi identitas sebuah bangsa atau komunitas manusia. Karena itulah kehadiran teknologi komunikasi digital mengambil peran yang begitu besar, karena ia dapat mempersatukan umat manusia dari berbagai belahan dunia. Inilah yang diperlihatkan oleh Yuval Noah Harari dalam Nexus.

Tahapan perkembangan manusia dari homo sapien, lanjut ke homo deus hingga pada masa di mana pusaranya diikat oleh teknologi digital, bukanlah tanpa ekses negatif. Benar memang apa yang dikatakan oleh Harari bahwa teknologi digital telah menjadi alat penghubung antara manusia atau kelompok masyarakat dari belahan bumi yang sangat berjauhan dan sangat tidak saling kenal, namun keduanya bisa menjalin hubungan yang akrab dan intensif.

Namun teknologi digital memuat apa yang dikatakan oleh Rudolf Otto dalam bukunya, The Idea of the Holy (1923) dengan istilah ‘tremendum et fascinosum”, di satu sisi menakutkan (tremendum), walau ada sisi yang mengagumkan (fascinosum).

Dampak Negatif

Jika kita mengamati apa yang terjadi dalam masyarakat teknologi digital, yang tidak disadari oleh kebanyakan manusia adalah dampak negatifnya, padahal dampak negatif itu menakutkan. Dampak negatif itu bisa tergambar dalam beberapa hal penting berikut.

Pertama, adalah lahirnya sifat ketergantungan manusia modern terhadap teknologi digital itu sendiri. Dominasi teknologi digital dalam kehidupan seseorang cenderung mengarahkan sikap seseorang untuk selalu berkiblat pada kemampuan gadget, bukan pada kemampuan dirinya.

Hal itu diperparah lagi oleh hadirnya kecerdasan buatan dalam gadget tersebut. Ketergantungan ini merupakan ancaman bagi autentisitas jati diri manusia sebagai makhluk yang otonom dan sebagai makhluk yang rasional, yakni ketergantungan manusia digital terhadap sarana komunikasi digital berupa media sosial.

Kedua, pemindahan identifikasi diri pada layar. Ketergantungan pada gadget membuat manusia pula kurang percaya diri pada identitas dirinya yang sebenarnya. Dengan kata lain, teknologi digital membuat manusia kehilangan otentisitas.

Ia tidak lagi percaya pada apa yang sesungguhnya ada dalam dirinya sendiri, termasuk parasnya. Ia justru lebih mengakui dirinya dari hasil rekayasa teknologi digital. Secara lain dapat dikatakan bahwa manusia digital lebih menghidupi topeng daripada diri yang sebenarnya.

Diri yang sejati bukanlah diri apa adanya, melainkan diri hasil rekayasa teknologi. Originalitas bagi manusia digital bukanlah hal yang penting. Eksistensi diri justru adalah hasil rekayasa teknologi digital yang tampil di layar.

Ketiga, manusia yang hidup di era teknologi digital justru menjerumuskan dirinya dalam perangkap tindakan manipulatif. Kepalsuan itu justru sangat dimungkinkan oleh teknologi digital dengan rekayasa identitas di akun-akun.

Ruang bagi impersonalitas demikian juga ternyata memiliki dampak negatif berikutnya, yakni membuka peluang bagi tindakan manipulatif karena adanya anonimitas itu. Setiap orang pemilik akun misalnya dapat saja membuat akun anonim atau nama samaran dengan identitas yang tidak jelas atau anonim demi menyembunyikan dirinya.

Lihatlah akun-akun di media sosial, tidak semua mengindikasikan akun yang sebenarnya, melainkan akun yang impersonal. Kondisi demikian sekali lagi memberikan peluang untuk tindakan manipulatif atau tindakan negatif lainnya. Teknologi digital talah membuat manusia lebih cenderung  itu seperti gawai.

Keempat, menjadikan dunia media sosial sebagai ajang caci maki atau wadah kebangkitan tindakan-tindakan ketidakpatutan atau ketidakpantasan dengan mengumbar alam bawah sadar manusia.

Bahkan lebih parah lagi, media sosial telah menjadi ladang bagi sosialisasi kebangkitan tindakan-tindakan imoralitas dengan umbaran konten-konten yang membangkitkan naluri-naluri instingtual seperti pornografi dan diksi-diksi yang tidak pantas diucapkan di ruang publik.

Franky B Hardiman bahkan menyatakan ini merupakan kondisi yang melahirkan manusia dengan sikap brutalismenya yang akut.

Kelima, matinya esensi kebebasan eksistensial dari ruang publik digital. Esensi kebebasan eksistensial adalah kemampuan seseorang untuk menentukan diri sendiri. Fakta menunjukkan hal itu justru semakin menjauh dari realitas yang sebenarnya.

Dalam bahasa lain dapat dikatakan manusia digital justru mengalami kematian eksistensial. Sebabnya apa? Karena ia tidak lagi percaya pada kemampuannya sendiri. Ia justru memindahkan kemampuannya kepada gadget atau teknologi digital itu.

Upaya Preventif

Bagaimana mengatasi berbagai simtom di atas? Satu hal memang kita harus mengafirmasikan apa yang dikatakan oleh Mustofa Sulaiman dalam bukunya, The Coming Wave (2023). Sulaiman menyatakan bahwa kita tidak bisa menghindar dari teknologi dan menyangkal kehadirannya. Yang paling baik kita lakukan adalah memanfaatkan teknologi digital termasuk kecerdasan buatan secara maksimal demi hal-hal yang positif. Benar apa yang dikatakan oleh Mustafa Sulayman itu.

Namun pertanyaan lanjutnya tentunya? Kemampuan apa yang perlu dibangkitkan untuk sampai pada pemanfaatan teknologi digital secara maksimal itu? Sebenarnya jawaban ini bisa kita rujuk kembali apa yang diidentifikasi oleh Yuval Noah Harari di tahap pertama bukunya berjudul Homo Sapiens itu.

Yang paling membedakan manusia dengan makhluk yang lain adalah bahwa manusia dibekali satu kemampuan dasar yakni berpikir. Berpikir adalah modal yang paling mendasar dan hakiki bagi manusia. Dalam pikiran manusia ada satu kemampuan yakni bernalar.

Bernalar menurut Donald B Calne adalah kemampuan akal budi yang memberikan pertimbangan atas bahasa yang digunakan atau suatu tindakan yang akan dilakukan. Rafael Capuro seperti dikutip oleh F Budi Hardiman dalam bukunya Äku Klik, Maka Aku Ada (2023) menyatakan bahwa satu kegiatan paling banyak dilakukan oleh manusia digital menskrol dan mengklik.

Franky Budi Hardiman mengafirmasikan apa yang dikatakan oleh Capuro, namun ia juga menambahkan agar sebelum orang mengklik perlu lebih dulu bernalar tentang apa yang akan diklik. Artinya, sebelum mengklik dalam arti meneruskan atau mengirimkan apa yang ditulis, perlu dihadirkan penalaran di dalamnya.

Secara sederhana dapat dikatakan, perlu ada kehati-hatian dalam bermedia sosial. Secara tepatnya tiga sikap dalam hal ini, perlu cerdas, cermat dan bijak dalam memanfaatkan media sosial. Tiga hal ini merupakan esensi dari penalaran.

Kecerdasan memuat adanya pertimbangan dengan segala aspek yang terkait di dalamnya. Kecermatan terkait dengan ketelitian dan pendalaman atas isi dari yang ingin disajikan apakah mengandung kebenaran atau tidak.

Kecermatan ini juga memuat sikap selektif dan kritis dalam berhadapan dengan gempuran informasi di media sosial. Sedangkan sikap bijak mengisyaratkan kepedulian pada nilai yang menjadi dampak dari tindakan atau ucapan. Dengan kata lain, sikap bijak memuat pertimbangan etis.

Dengan tiga keutamaan tersebut, maka dalam berkomunikasi di ruang publik digital perlulah penalaran dihidupkan. Singkatnya, bernalarlah lebih dulu sebelum mengklik. Ini menurut hemat penulis sebagai modal paling utama mengeliminir berbagai ekses pemanfaatan teknologi komunikasi digital di ruang publik yang belakangan ini begitu marak, sebelum terkena tindakan hukum. Semoga.