OPINI  

Tangis Perempuan Kwamki Narama

Laurens Minipko, Pengamat Sosial Budaya Papua. Foto: Istimewa

Oleh Laurens Minipko

Pengamat Sosial Budaya Papua

PENULIS membayangkan suasana itu. Panah dipatahkan. Rotan dibentangkan, lalu dibelah. Orang-orang berkumpul. Lalu terdengar tembakan pistol ke udara. Lengkap. Adat hadir. Negara datang. Pejabat berbicara. Perdamaian pun diumumkan. Perang Kwamki Narama dinyatakan selesai.

Perang antar keluarga yang sempat mengoyak kampung itu dianggap berakhir. Tidak ada lagi saling serang. Tidak ada lagi balas dendam. Semua kembali tenang. Setidaknya, begitu yang terlihat di ruang publik.

Di Tengah prosesi bersejarah itu, ada satu suara yang nyaris tidak terdengar. Bukan karena ia kecil, melainkan karena terlalu sering diabaikan. Tangis perempuan.

Pertikaian antar keluarga di Kwamki Narama adalah perang laki-laki. Ia dimulai dari harga diri, dari amarah, dari ingatan lama yang dipelihara. Ia dinegosiasikan oleh tokoh-tokoh adat. Ia disahkan oleh kehadiran aparatur negara dan pernyataan pejabat. Tetapi ongkos sosialnya yang paling lama dibayar oleh perempuan.

Mereka —perempuan— adalah kelompok yang menunggu dalam cemas. Mereka yang kehilangan. Mereka yang harus menenangkan anak-anak ketika suara teriakan dan kekerasan masih tersimpan di ingatan. Mereka pula yang harus memastikan dapur tetap menyala, meski rasa aman belum sepenuhnya kembali.

Ritual adat punya maknanya sendiri. Patah panah adalah tanda memutus niat saling bunuh. Belah rotan adalah janji mengikat kembali relasi antar keluarga. Itu penting. Itu warisan. Itu langkah awal yang masih butuh langkah-langkah selanjutnya. Mengapa? Karena adat sering kali berdamai dengan cepat, sementara luka perempuan tidak selalu punya jalan pulang.

Ketika tembakan pistol terdengar, negara ikut memberi penegasan. Konflik ini selesai. Aman. Tertib. Begitu pula, ketika suara negara menegaskan: “tidak boleh lagi ada perang di Kwamki Narama.”

Kalimat itu baik. Semua orang setuju. Namun keberpihakan negara itu patut diikuti dengan suara yang berpihak pada perempuan yang menanggung luka sosial. Bukan di lapangan konflik. Di dapur.

Di titik inilah tangis perempuan menjadi penting. Tangis itu menjadi penanda bahwa damai ini memiliki seribu tapak ke depan. Damai yang mesti menyentuh ruang domestik, ruang sunyi, ruang paling manusiawai. Ruang yang dimiliki oleh siapa pun dia. Dapur.

Mungkin inilah saatnya pemerintah menapak ke tahapan berikut. Pemulihan perlu dihadirkan. Trauma bagi perempuan yang paling lama memikul sisa perang. Kerinduan perempuan itu undangan bagi negara.

Negara membuka ruang dengar, melibatkan perempuan dalam setiap proses rekonsiliasi adat, menghadirkan pendamping psikososial di kampung, serta membantu mama-mama yang terdampak konflik menata kembali hidupnya secara ekonomi. Memastikan anak-anak belajar dan bermain dengan naman dan damai seperti sediakala.

Kwamki Narama mungkin sudah tenang di mata negara dan publik, namun perdamaian baru benar-benar tiba ketika yang menyala bukan lagi amarah dan senjata, melainkan api dapur setiap rumah Kwamki Narama: menyala tanpa takut.