OPINI  

Kasih versus Kejahatan

RD Ibrani Gwijangge, Pr, Pastor Paroki Santa Sesilia SP2 Keuskupan Timika, Papua Tengah. Foto: Istimewa

Oleh RD Ibrani Gwijangge, Pr

Pastor Paroki Santa Sesilia SP2, Keuskupan Timika, Papua Tengah

PESTA Pembaptisan Tuhan di Minggu (11/1) ini menandai berakhirnya masa Natal dalam kalenderium liturgi Gereja Katolik. Bacaaan dari Yesaya, Kisah Para Rasul dan Injil menampilkan masa dimana Mesias memulai tampil di muka umum untuk menyatakan hukum Allah yaitu Kasih.

Nabi Yesaya menulis, “lihat, itu hambaKu yang Kupegang, orang pilihanKu, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh Ku atasnya, supaya Ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.”

Penginjil Matius menulis peristiwa pembaptisan Tuhan di sungai Yordan dengan sangat jelas ada penegasan dari surga tertuju kepada sosok Yesus. Sesudah Yesus dibaptis, saat itu juga langit terbuka, turunlah Roh Allah seperti burung merpati ke atas Yesus lalu terdengarlah suara dari surga, “Inilah AnakKu yang Ku kasihi, kepadaNyalah Aku berkenan”.

Penulis Kisah Para Rasul mengungkap pengalaman Petrus murid paling dekat Yesus. Sekali peristiwa Allah menyuruh Petrus menemui perwira Romawi dan seisi rumahnya. Petrus bersaksi, Yesus dari Nazaret sesudah dibaptis di sungai Yordan Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa. Ia berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasi iblis, sebab Allah menyertai Dia.

Warta gembira ketiga bacaan minggu ini mau menyampaikan pesan yang sama yaitu tentang seorang pilihan Allah yang dipanggil dan diurapi dengan kuat kuasanya. Tujuannya untuk menggenapi visi penyelamatan bagi bangsa-bangsa di muka bumi melalui tegaknya hukum kasih.

Kondisi bangsa-bangsa di muka bumi ini tentu diselimuti badai dosa, kejahatan, kegelapan dibawa kuasa iblis. Iblis telah membangun banteng-benteng pertahanannya di hati dan pikiran manusia dari pelosok sampai di kota-kota dan dikendalikan seutuhnya.

Manifestasi kerajaan iblis nampak dalam kekuatan pikiran, ide, perasaan yang terungkap siang dan malam dalam bentuk verbal maupun tindakan kekejaman manusia terhadap yang lain.

Wilayah Keuskupan Timika terbentang dari pesisir, lembah dan pegunungan setiap saat kita disodorkan dengan berbagai kabar kelam, tangisan duka, keributan, cacian, fitnah, kekejaman datang dari berbagai arah.

Tidak terputusnya berita tentang pembegalan di jalan, perselingkuhan di rumah tangga, saling kritik-mengkritik di medsos, kekerasan di kantor, di jalan bahkan perang tradisional antar keluarga di kwamki lama. Ini suhu panas dimana mau menunjukan ke permukaan adanya sebuah manifestasi kerajaan iblis yang telah berdarah daging.

Tema sentral kita Minggu ini adalah kasih versus kekerasan di wilayah kegembalaan keuskupan Timika. Kerajaan Allah versus kerajaan iblis, hukum kasih versus hokum dosa, kebaikan versus kejahatan singkatnya terang melawan kegelapan atau sebaliknya.

Dalam diri manusia tentu ada dua potensi baik atau jahat tergantung faktor pemicunya. Semakin intens suhu kejahatan maka semakin lemah suhu kedamaian atau sebaliknya. Refleksi kita kembali memahami visi Allah dan kerajaan-Nya dalam konteks situasi kita saat ini.

Yesus yang lahir di moment natal kini Ia tampil di permukaan untuk menegakkan hukum kasih. Dalam diri kita tentu ada hokum kasih yang telah dimeteraikan setelah kita menerima pembaptisan melalui air dan Roh.

Meterai hukum kasih Allah dapat berkembang atau lemah ada dalam diri kita dengan semakin intensnya perhatian untuk mengelola batin rohani. Faktor-faktor pemicu hukum kasih bisa berkembang pertama-tama dia harus menjadi murid Yesus, mengakui dan mengikuti teladanNya.

Sebaliknya melemahkan fakor-faktor pemicu kejahatan, pertama-tama dia harus menolak perasahan untuk mengelola kejahatannya dan melakukan tindakan adil dalam berbagai hal. Semoga.

Homili pada Pesta Pembaptisan Tuhan

di Paroki Sesilia SP2, Keuskupan Timika, Minggu, 11 Januari 2026