DAERAH  

Dua Kubu Pendukung Calon Bupati Puncak Jaya Bentrok, 1 Meninggal dan 3 Terkena Panah

Aparat Kodim 1714/Puncak Jaya saat mengamankan dua kubu yang terlibat bentrok di jalur Poros Papua, depan Lapangan Amanah, Kampung Pagaleme, Distrik Pagaleme, Provinsi Papua Tengah, Rabu (26/11). Foto: Istimewa

MULIA, ODIYAIWUU.com — Situasi tegang mewarnai jalur Poros Papua, tepatnya di depan Lapangan Amanah, Kampung Pagaleme, Distrik Pagaleme, Provinsi Papua Tengah, Rabu (26/11).

Dua kubu pendukung calon Bupati Puncak Jaya, yakni kubu 01 dan kubu 02, terlibat bentrok dan saling serang yang memicu perang panah di tengah keramaian.

Konflik berawal dari kesalahpahaman terkait aturan adat saat pelaksanaan acara bakar batu oleh kubu 01, di mana kubu 02 dianggap melanggar batas wilayah adat dengan melintasi sektor yang seharusnya dihindari.

Bentrok yang berlangsung cepat tersebut, berujung satu orang meregang nyawa akibat terjatuh dari kendaraan. Sedangkan, tiga orang lain menderita luka akibat terkena panah.

Situasi yang memanas tersebut memicu kepanikan warga sekitar, termasuk anak-anak sekolah yang berada di lokasi kejadian.

Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 1714/Puncak Jaya Letkol Inf Bagus Kurniawan, M.Han mengatakan, setelah mendapat laporan tersebut pihak Kodim Puncak Jaya bergerak cepat.

Pihak Kodim melakukan pendekatan persuasif kemudian mengumpulkan para kepala suku dari kedua kubu untuk melakukan perundingan dan mencari penyelesaian damai.

“Saya bersama para kepala suku telah melakukan perundingan dan mencari jalan keluar untuk mengatasi kesalahpahaman yang terjadi. Puji Tuhan, perang berhasil kami hentikan dan kini kondisi Kabupaten Puncak Jaya sudah kembali kondusif,” ujar Bagus Kurniawan dari Mulia, kota Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, Kamis (27/11).

Di tengah situasi yang mencekam, Babinsa Kodim Puncak Jaya berperan sigap mengevakuasi anak-anak sekolah dan warga sipil dari lokasi konflik menuju Makodim.

“Markas TNI tersebut menjadi tempat perlindungan sementara bagi masyarakat hingga kondisi dinyatakan aman,” kata Bagus Kurniawan lebih lanjut.

Selain langkah pengamanan, ujar Bagus Kurniawan, TNI juga melakukan pendekatan teritorial dan budaya, berkoordinasi dengan tokoh adat serta pemerintah daerah.

Upaya ini bertujuan meredakan emosi massa dan memutus rantai konflik melalui dialog adat serta negosiasi.

“Upaya cepat dan terukur ini tidak hanya meredam konflik, tetapi juga menunjukkan pentingnya peran TNI dalam membangun kedamaian melalui pendekatan humanis dan budaya yang selaras dengan nilai-nilai masyarakat Papua,” katanya. (*)