Strategi Mengendalikan Pandemi Covid-19 di Papua - Odiyaiwuu.com | Membahagiakan Kehidupan
banner 728x250

Strategi Mengendalikan Pandemi Covid-19 di Papua

  • Bagikan

 734 Total Pengunjung,  2 Pengunjung Hari Ini

PANDEMI Covid-19 masih belum akan berakhir dalam waktu dekat. Sebaliknya, di Indonesia angka penduduk terinfeksi terus melonjak. Pemerintah menetapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk membatasi mobilitas warga di Pulau Jawa dan Bali. Pembatasan mobilitas dimaksudkan untuk menekan angka penularan.

Sejak kasus pertama dikonfirmasi pada Maret 2020, angka warga terinfeksi mencapai 2.73 juta dan penduduk meninggal dunia 70.192 jiwa. Laman covid19.go.id melaporkan pada 15 Juli 2021 jumlah penduduk meninggal karena virus corona mencapai 919 orang.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan bahwa rumah sakit-rumah sakit di Indonesia sudah tidak mampu lagi menampung pasien. Rumah sakit-rumah sakit darurat yang sudah disiapkan juga sudah penuh dengan pasien. Asrama-asrama haji untuk sementara diubah fungsi menjadi rumah sakit darurat.

Di Jakarta, beberapa gedung sekolah difungsikan menjadi tempat isolasi mandiri. Begitu juga rumah susun-rumah susun. Pun begitu tidak sedikit warga yang terpaksa mengisolasi diri di rumah. Jika infeksi virus masih berlanjut dengan angka yang fantastis, tidak tahu mau akan dirawat dimana lagi.

Per 6 Juli 2021, menurut data yang dirilis oleh katadata.co.id, sebanyak 1.066 tenaga kesehatan di Indonesia meninggal akibat virus corona. Mereka adalah dokter, perawat, bidan, apoteker, petugas laboratorium, sampai dengan supir ambulans.

Meski episentrum pandemi tampaknya berada di Pulau Jawa dan Bali, beberapa daerah di luar wilayah ini juga melaporkan eskalasi kasus Covid-19. Daerah-daerah di luar Jawa dan Bali tidak sepenuhnya aman atau terkendali. Papua dan Papua Barat perlu terus waspada. Oleh karena itu pemerintah tidak boleh terlena dan hilang waspada. Semua sedang berhadapan dengan musuh yang sama: pandemi Covid-19.

Pertanyaan pengandaian yang perlu dilontarkan adalah: Jika ledakan kasus Covid-19 di Papua tiba-tiba berkali-kali lipat, apakah kita siap? Situasi kolaps di Jawa dan Bali janganlah terjadi di Papua dan Papua Barat. Tanpa pandemi Covid-19 saja angka kematian di wilayah ini sudah lebih tinggi daripada pada banyak provinsi di Indonesia. Dengan pukulan tambahan pandemi ini kita tidak sepenuhnya siap.

Dengan fasilitas rumah sakit yang relatif masih terbatas, dari sisi jumlah tempat tidur maupun perlengkapan medis, orang-orang sulit untuk mendapatkan layanan perawatan sepenuhnya. Rumah sakit-rumah sakit swasta baru tersedia di kota-kota utama seperti Jayapura, Timika, Merauke, Sorong, dan Manokwari. Seperti rumah sakit pemerintah, tenaga dan fasilitas rumah sakit milik swasta juga terbatas. Tenaga dokter dan perawat pun tidak banyak. Sedangkan rumah sakit pemerintah kadang hanya ada satu saja di seluruh kabupaten. Masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota menjadi terkendal untuk mengaksesnya.

Rasio dokter dengan penduduk di Papua cenderung rendah. Misalnya, rasio dokter dengan penduduk Kabupaten Dogiyai adalah 1: 10.000. Ini cukup menggambarkan bahwa masyarakat perlu usaha lebih untuk mengakses layanan medis seorang dokter. Seandainya jumlah penduduk terinfeksi bertambah berkali lipat, dokter menjadi kewalahan. Sangat mungkin banyak warga tidak mendapatkan layanan.

Menyadari kenyataan bahwa virus korona sudah hadir di Papua —menurut laman covid19.papua.go.id sudah tersebar di sejumlah kabupaten— kita semua wajib mengambil langkah yang paling tepat. Pertama, usaha-usaha untuk menekan laju penyebaran virus harus digalakkan. Pintu-pintu masuk harus lekas ditutup. Janganlah terjadi kasus impor yang bisa semakin merunyamkan keadaan. Masyarakat wajib insyaf untuk menjaga keselamatan diri sendiri, sesama, dan seluruh bangsa. Virus corona tidak memilih-milih siapa yang akan menjadi korbannya. Semua orang berpeluang. Tidak ada yang dikecualikan.

Protokol kesehatan untuk memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas (5M) sudah harus menjadi kebiasaan baru di antara seluruh warga. Sekali lagi tidak ada satu orang pun yang kebal. Pemerintah wajib hadir untuk memberikan edukasi kepada seluruh warga terkait pandemi ini. Pemahaman yang tepat akan dan menyebar akan berdampak kepada perilaku masyarakat. Pemerintah hendaknya memberikan teladan kepada masyarakat.

Perjalanan antar wilayah di dalam Pulau Papua juga perlu dibatasi. Bisa saja perjalanan kerja itu sekaligus menjadi perjalanan menjemput virus dari episentrum lokal di Papua dan kemudian menularkan kepada penduduk di kampung.

Langkah tepat berikutnya adalah pemberian vaksin. Sejauh ini vaksin Covid-19 menjadi alternatif yang tersedia untuk menciptakan daya tahan secara bersama-sama. Vaksin-vaksin tidak hanya beredar di Indonesia. Seluruh dunia sekarang ini sedang melakukan vaksinasi untuk membentuk kekebalan tubuh masyarakat (herd immunity) dari virus korona. Vaksin tidak dibuat secara sembarangan. Sebelum digunakan secara publik, vaksin lebih dahulu diuji klinis untuk mengetahui tingkat efikasinya.

Pengetahuan-pengetahuan yang mendasar tentang vaksin perlu disebarluaskan kepada masyarakat. Boleh jadi setelah pengetahuan itu akan mengikis perasaan takut yang memotivasi untuk menolak vaksin. Banyak orang tidak mau menerima suatu hal baru yang belum diketahui. Edukasi yang komunikatif, dengan menggunakan bahasa-bahasa yang sudah akrab di telinga masyarakat, barangkali akan lebih berterima.

Menggunakan paksaan dan tekanan atau bahkan ancaman untuk mencapai tujuan keselamatan bersama tidaklah bijaksana. Pandemi yang belum bisa berakhir dalam waktu singkat ini menyadarkan kita bahwa kita tidak boleh egois. Tidak boleh hanya peduli dengan keselamatan sendiri. Pemerintah dan Satgas Covid-19 perlu melibatkan banyak pihak untuk mengusahakan keselamatan bersama ini. Dalam situasi panik sangatlah wajar jika masyarakat bertanya banyak tentang vaksin sembari mengambil sikap untuk waspada.

Patut kita bayangkan jika pada suatu hari kelak pandemi di Papua memburuk, kita sudah kehilangan banyak waktu untuk menyelamatkan diri. Pada saat seperti itu, pilihan yang tersedia sudah tidak banyak. Itu seperti tim sepakbolah yang tertinggal 10 gol sementara papan waktu sudah menginjak menit 85!

Sekaranglah saatnya untuk membangun benteng pertahanan keselamatan bersama. Sebelum kita terlambat. Sebelum kita mati banyak! (Redaksi)

Tinggalkan Komentar Anda :

banner 336x280
  • Bagikan