Kansius Kegiye: Kegelisahan Guru Tua - Odiyaiwuu.com | Membahagiakan Kehidupan
banner 728x250

Kansius Kegiye: Kegelisahan Guru Tua

  • Bagikan
Kansius Kegiye

 988 Total Pengunjung,  6 Pengunjung Hari Ini

Akhir tahun 2020 lalu Kansius Kegiye pensiun. Pengabdiannya sebagai guru di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Persekolah Katolik (YPPK) Keuskupan Timika, Papua sudah ia tuntaskan. Sejak 1986 sudah ribuan anak SD di pedalaman Papua ia didik. Terakhir ia mendampingi anak-anak belia di SD YPPK Idadagi, Distrik Dogiyai, Kabupaten Dogiyai.

Namun, menjelang masa pensiun ia malah cemas. Perkembangan kondisi pendidikan, terutama di kampung-kampung yang jauh dari kota, tidak cukup menjanjikan. Apa pasalnya? “Kalau guru-guru tua pensiun, sekolah-sekolah di pelosok itu bisa saja tutup,” ujar Kegiye kepada odiyaiwuu.com di Idadagi.

Menurut pengamatannya, sekolah-sekolah di pelosok Kabupaten Dogiyai masih berjalan karena dipertahankan oleh beberapa guru tua. Guru-guru dari generasi lama memiliki dedikasi total untuk menjalankan tugasnya. Sekolah-sekolah menjadi ‘hidup’ karena mereka. Sayangnya, di Dogiyai guru-guru tua sudah menjelang purna bakti.

Kondisi sekolah-sekolah yang jauh dari pusat kota memang perlu diperhatikan. Ada sejumlah sekolah yang sudah tidak menjalankan kegiatan pembelajaran. Guru-gurunya tidak berada di tempat tugas. Bangunan sekolahnya sudah dikepung oleh rumput yang tinggi. Kebutuhan anak-anak terhadap pendidikan tidak terlayani.

“Honor pergi terima. Tetapi soal mengajar di sekolah belum tentu aktif. Sekolah rumput tinggi. Itu kalau di kampung-kampung pelosok, begitu,” lanjut Kegiye, mantan Kepala SD YPPK Idadagi 2010-2014.

Di Dogiyai, seperti diamati oleh guru Kansius, distribusi tenaga guru tidak cukup ideal. Guru-guru menumpuk di pusat kota. Sekolah-sekolah di sekitar kota relatif bisa berlangsung. Namun, sekolah-sekolah yang di pelosok tidak semua bisa berjalan.

Di distrik-distrik yang sulit dijangkau seperti Sukikai Selatan, Piyaiye, dan sebagian Kamu Selatan keadaan “sangat menantang”. Wilayah itu masih sulit diakses. Sinyal telepon belum ada. Layanan kesehatan juga belum tersedia. Situasi yang cenderung sulit itu memaksa guru-guru yang ditugaskan ke sana berpikir ulang.

Akibatnya, anak-anak di wilayah-wilayah yang sulit cenderung mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang rendah atau, lebih buruk, tidak mendapatkan layanan pendidikan sama sekali.

“Kalau Dinas Pendidikan Dogiyai sebagai pemimpin tidak berpikir baik, ada banyak sekolah yang akan tutup. Apalagi keadaan sekolah yang sekarang. Sekolah-sekolah yang di kota bisa jalan tetapi yang di kampung-kampung tidak jalan,” urai Kegiye.

Kesetiaan sebagai guru

Kegiye mengisahkan, dulu ia punya cita-cita menjadi guru. Waktu kecil, sebagian keluarganya meninggal. Mulai dari sang ayah, ibu serta kakak-kakak. Lalu Kegiye pikir, harus jadi ogai, guru. “Saya harus berhasil. Saya pertahankan cita-cita saya. Akhirnya betul. Saya jadi ogai sampai saya pensiun beberapa bulan lagi ke depan,” kata Kegiye mengenang masa lalunya di kampung.

Kansius Kegiye menjadi guru SD sejak 1986. Sepanjang 33 tahun ia mengabdikan hidupnya untuk mendidik anak-anak di sekolah.

Tidak banyak sekolah tempat ia bertugas. Selama empat tahun ia melayani anak-anak di Diyai, Kabupaten Deiyai. Kemudian, pada 1990 ia dipindahkan ke SD YPPK Idadagi, Distrik Dogiyai, Kabupaten Dogiyai. Sejak itu hingga pensiun ia menetap di sekolah itu.

“Waktu itu, tahun 1990, di SD YPPK Idadagi, ada lima tenaga guru. Ada Dominikus Goo, Simon Dogomo, Anselmus Kapiyau, saya, dan Gervasius Dogomo, lalu seorang guru honorer. Sekarang kami guru tetap ada delapan setelah ditambah yang baru masuk kemarin. Guru honor ada empat orang,” ujar Kegiye membandingkan.

Dulu guru-guru ditempatkan di daerah-daerah yang bukan kampung asalnya. Guru asal Paniai, Dogiyai dan Deiyai ditugaskan keluar kampungnya. Bahkan ke luar daerah suku Mee. Sebaliknya, di daerah Mee, banyak guru dari luar suku Mee. Mereka mengabdikan hidup untuk orang Mee di pelosok kampung.

“Saya ini berasal dari Mapia, tapi tugasnya di Diyai (Deiyai) dan di Idadagi. Sampai pensiun,” jelasnya.

Menempatkan guru di luar kampungnya berdampak baik. Mereka “terpaksa” tinggal di perumahan guru di kompleks sekolah. Lalu, guru-guru pun lebih merasa segan terhadap para orangtua murid. Mereka tidak bisa mengabaikan tugas. Maka, para guru menghabiskan waktu lebih banyak untuk mendidik anak-anak.

Kansius merasa bangga karena bisa mewujudkan cita-citanya menjadi ogai. Kata ‘ogai’ dalam lingkup budaya Mee berarti guru atau orang terdidik.

Zaman berubah

Zaman berubah. Guru-guru kini bertugas di kampung asal. Mereka tidak lagi tinggal di kompleks sekolah. Rumah mereka bisa saja terletak jauh dari sekolah. Intensitas perhatian kepada pendidikan anak-anak pun tidak sama.

Tidak semua guru mengabaikan tugas mereka. Namun, Kegiye mengamati bahwa ada yang berbeda menjadi guru di masa lalu dengan masa kemudian, yaitu tentang kesetiaan kepada tugas.

“Jadi di mana saja saya akan bertugas. Saya harus jalankan tugas yang dibebankan pemerintah. Takut kepada Tuhan. Saya dulu sudah janji dan buat surat pernyataan untuk setia di tempat tugas. Itu yang saya ingat sampai sekarang,” urainya. Selama 33 tahun mendidik, Kegiye merasa puas telah melaksanakan tugas yang dipercayakan oleh pemerintah.

Sebagai orang Mee yang harus mengolah kebun untuk hidup, Kansius memadankan sekolah sebagai kebunnya. “Sekolah itu saya punya kebun. Bila saya tidak pergi ke kebun tiap hari, di kebun nanti rumput tinggi dan hasil kebunnya kurang baik nanti, kurang memuaskan. Kalau di kebun saya cabut rumput baik, rawat, bersihkan, itu hasilnya akan baik,” urainya.

Perkembangan pendidikan ke depan akan sangat bergantung kepada guru-guru di lapangan. Apakah mereka rajin mengajar atau tidak. Apakah mereka aktif atau sebaliknya. Apakah mereka menjadikan sekolah sebagai kebun dan anak didiknya sebagai tanaman yang harus dirawat tiap waktu atau tidak. Jika sekolah adalah kebun, buah-buah yang bernas akan dipetik dari sana.

Belum seluruh “kebun” di Dogiyai disentuh oleh tangan-tangan pekerja yang tekun dan setia. Hak anak-anak usia sekolah untuk mendapatkan pendidikan belum seluruhnya terpenuhi. Kendala atau tantangan untuk memberikan layanan yang diperlukan memang tidak kecil. Namun, siapa pun bisa belajar tentang kesetiaan dan ketekunan kepada guru Kansius Kegiye. (Johannes Supriyono/Odiyaiwuu.com)

Kansius Kegiye:
SD YPPK Egebutu, tahun 1976
SMPN 1 Nabire tahun 1980
SMAN 1 Nabire tahun 1983
PGAK tahun tahun 1986
Guru di SD YPPK Diyai, di Deiyai, tahun 1986-1990
Guru di SD YPPK Idadagi, tahun 1990-sekarang
Kepala Sekolah di SD YPPK Idadagi tahun 2010-2014
Pensiun akhir Desember 2020

Tinggalkan Komentar Anda :

banner 336x280
  • Bagikan