Manusia, Makna Eksistensi dan Teknologi - Odiyaiwuu.com | Membahagiakan Kehidupan
OPINI  

Manusia, Makna Eksistensi dan Teknologi

Yohanes Boli Jawang, mahasiswa Universitas Parahyangan Bandung. Foto: Istimewa  

Loading

Oleh Yohanes Boli Jawang

Mahasiswa Universitas Parahyangan

APA yang akan terjadi dengan manusia bila dunia ini semakin canggih dengan berbagai kompleksitasnya? Dalam Homo Deus (2015), Yuval Noah Harari melukiskan, manusia masa yang dengan dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi buntutnya tenggelam dalam kesombongan dan mulai mendominasi dunia. 

Dunia yang didominasi oleh manusia, perlahan mulai kehilangan tempat bahkan peran yang digantikan oleh berbagai kecanggihan mesin yang mampu mengubah dan memperbaharui. 

Ketika ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberikan hasil yang nyata dan masa depan yang menjanjikan dengan berbagai tawaran menarik, secara tidak sadar manusia mulai ikut dalam perburuan akan hal-hal yang diinginkannya. 

Akhirnya, orientasi hidup manusia akan beralih dari apa yang dianggap terlalu abstrak. Ia tidak memberikan hasil yang nyata kepada sesuatu hal yang lebih memberikan dampak nyata. Ilmu pengetahuan serta perkembangan teknologi telah memberikan sesuatu yang menjanjikan, namun di lain sisi telah menghadirkan berbagai tantangan yang kadang-kadang kurang disadari.

Persoalan yang timbul dengan kompleksitas dari modernisasi ini adalah hilangnya makna dari eksistensi manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan berbagai kemudahan. Namun, di balik itu menjadi tantangan yang kurang disadari. Ketika teknologi bergerak lebih maju, ada kemungkinan semua kegiatan tidak lagi memerlukan tenaga manusia. 

Semua menjadi kerja mesin dengan hanya diperlukan beberapa orang yang merupakan tenaga ahli yang berkompeten. Situasi ini akan membuat manusia tidak lagi menjadi pribadi yang aktif, tetapi sebaliknya manusia menjadi pasif. 

Ilmuwan Amerika Serikat Ray Kurzweil menyebut, “dalam beberapa waktu yang akan datang, sebuah kecerdasan buatan akan hadir dalam beberapa wajah. Ini bukan sebuah mimpi masa depan, tetapi tanggapan dari realitas yang sedang dihadapi. 

Bahaya yang bakal adalah ketika terjadi ketidaksetaraan antara kecerdasan buatan dan kecerdasan asali manusia. Secara tidak langsung manusia mulai terpinggirkan dan bisa jadi manusia kehilangan eksistensi. Semua aktivitas telah ‘dikuasai’ oleh mesin-mesin dan teknologi robotik yang canggih sehingga tidak terlalu memerlukan tenaga manusia. 

Mesin kebangkitan

Zaman yang sudah semakin maju dalam era milenial ini telah membawa paradigma baru dalam banyak aspek. Manusia sedang menghadapi suatu zaman yang kompleks dengan tantangan besar yang bahkan kurang disadari. 

Bila aktivitas masa depan bisa diambil ahli oleh mesin, bagaimana dengan manusia? Pertanyaan ini kiranya menjadi penting dan menggugah dalam situasi yang semakin dipenuhi dengan berbagai kecanggihan dan teknologi robotik yang diyakini akan mempermudah aktivitas kerja manusia. 

Munculnya teknologi robotik yang mampu untuk berperilaku layaknya seorang manusia merupakan sebuah tanda adanya kebangkitan mesin masa depan. Masa depan manusia adalah masa depan manusia mesin yang mampu dan bahkan lebih aktif dari manusia. 

Fisikawan Amerika Serikat Michio Kaku mengemukakan tiga hal berkaitan dengan masa depan manusia yakni, internet akan menjadi otak, kesadaran kuantum, dan spesies campuran manusia mesin akan menjadi dominan di masa depan. Dalam situasi ini, tentunya tenaga manusia akan kehilangan tempat karena semua aktivitas telah diambil ahli oleh mesin robotik. 

Manusia akhirnya hanya dapat menjalani aktivitasnya tanpa harus bekerja keras. Manusia mulai bergantung pada apa yang lebih mudah. Manusia tidak lagi bergantung pada dirinya, tetapi pada sesuatu yang diluar dirinya. Di sini ada bahaya bahwa manusia menjadi pasif dan tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karena itulah, bagi Nietzsche manusia yang demikian ini dianggap sebagai manusia yang takut akan realitas. Oleh karena itu baginya manusia mesti berani menanggapi realitas yang ada.

Realitas yang hampir separuhnya dikuasai oleh aktivitas mesin dan teknologi robotik, menjadi suatu tantangan bagi kehidupan dan masa depan manusia. Perkembangan mesin-mesin yang mampu mengubah dengan teknologi robot tentunya menjadi realitas yang tidak dapat dielakkan. 

Realitas ini merupakan bagian dari kreativitas pemikiran manusia yang semakin modern, namun tanpa disadari telah menjadi satu tantangan yang serius bagi eksistensi manusia sebagai makhluk “menjadi”  Pergerakan manusia menjadi terbatas dan bahkan kreativitas manusia akan hilang karena kemunculan berbagai mesin yang canggih dan teknologi robotik yang mempunya kemampuan yang lebih dan dapat mengubah wajah dunia dengan cepat. 

Tanggap masa depan

Lalu bagaimana manusia menyikapi fenomena ini?  Sikap tanggap, peka, dan transformatif menjadi penting bagi manusia dalam menanggapi setiap kemajuan yang kompleks. Manusia mesti sadar akan diri sebagai makhluk yang “menjadi” dari eksistensi pribadinya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah saran yang membantu dan mempermudah manusia, tetapi tidak untuk memudarkan eksistensi manusia atau pun peran utama manusia dalam hidup. Manusia adalah aktor utama yang melalui kreativitas berpikirnya telah melahirkan berbagai penemuan-penemuan baru, sehingga apapun yang dibuat oleh manusia tetap harus di bawah kendali manusia.

Di sini sangat diperlukan kemampuan manusia untuk menyadari keberadaannya sebagai makhluk yang terus “menjadi”. Artinya, sebagaimana yang diungkapkan Nietzsche, manusia harus berani untuk menghadapi realitas. 

Manusia harus keluar dari apa yang disebut comfort zone (zona nyaman) dan berani untuk bergerak maju menurut hakikat dasarnya sebagai makhluk yang “menjadi”. Kemajuan dan kemunculan mesin dan teknologi robotik sejatinya hanya membantu dan mendukung aktivitas manusia, tetapi tidak untuk mengambil alih peran manusia sebagai pelaku utama dalam hidup. 

Di tengah kemajuan ilmu pengetahun, mesin dan teknologi robotik yang canggih, hal yang penting bagi manusia adalah menerima dan memaknai kemajuan sebagai bagian dari kemampuannya, sehingga di satu sisi manusia tidak meluluh tergantung pada kemudahan-kemudahan yang ada, tetapi sebaliknya manusia menunjang manusia dalam kehidupan dan seluruh aktivitas hidup manusia. 

Manusia harus berani keluar dari rasa nyaman oleh karena kehadiran berbagai mesin yang memudahkan hampir seluruh pekerjaan manusia, sehingga kemajuan ini tidak mempunyai kesan membuat manusia menjadi kehilangan makna eksistensinya, tetapi sebaliknya semakin memaknai eksistensi sebagai makhluk yang “menjadi” dengan memberikan suatu sumbangan dalam perkembangan kehidupan yang lebih baik. 

Munculnya mesin dan teknologi robotik bukanlah realitas yang menghalangi kreativitas manusia. Ia menjadi sumbangan yang mampu membantu manusia untuk semakin mengembangkan diri dan seluruh eksistensinya menjadi semakin manusiawi. Oleh karena itu, dalam situasi yang kompleks, manusia harus berani keluar dari kenyamanan-kenyamanan oleh karena berbagai kemajuan yang telah mempermudah. 

Dengan demikian, manusia mampu untuk menemukan dirinya dan terlebih manusia mampu untuk memaknai kemajuan, sebagai realitas yang mendukung seluruh kehidupan manusia menjadi lebih baik, tetapi tidak untuk menghalangi, mengurangi, melemahkan bahkan mereduksi eksistensi manusia sebagai makhluk yang “menjadi” yang terus berkembangan untuk menjadi dirinya. 

Tinggalkan Komentar Anda :