Natal yang Menggetarkan - Odiyaiwuu.com | Membahagiakan Kehidupan
OPINI  

Natal yang Menggetarkan

Ben Senang Galus, umat Paroki Gereja Santo Paulus Pringgolayan, Yogyakarta. Foto: Istimewa

Loading

Oleh Ben Senang Galus

Umat Paroki Santo Paulus Pringgolayan, Yogyakarta

MENJELANG hari raya Natal pusat perbelanjaan ramai dikunjungi pembeli. Tradisi berbelanja, entah online atau offline, ternyata juga soal pandangan hidup. Mereka yang berada biasanya merayakan Natal dengan menghadirkan sesuatu yang baru di rumahnya, maka muncullah budaya konsumtif di kalangan sebagian orang.

Makna Natal telah bergeser dari pola hidup sakmadya (sederhana) ke pola hidup konsumtif.  Lalu apa artinya Yesus lahir di kandang hewan? Bukankah itu artinya sebuah bentuk protes tehadap gaya hidup konsumtif?

Betapapun pendapat ini ada benarnya, tetapi bukan itu referensi yang tepat bagi habitus Natal. Habitus Natal sesunggunya adalah menanamkan dan menumbuhkan budaya sakmadya (sederhana). Kerena itu, Yesus yang lahir di kandang hewan mau menghapus batas-batas yang memisahkan manusia kaya dan miskin.

Hidup konsumtif sedang terjadi dalam satu borderless world (deteritorialisasi). Dalam borderless world, budaya yang diperjuangkan sebagai panglima adalah budaya konsumtif. Akibatnya, identitas bangsa, budaya, terancam oleh bentuk yang dicurigai sebagai imperialisme.

Kecenderungan partikularitas menguat, bahkan berpotensi kecemburuan sosial. Padahal kalau kita cermati Natal adalah salah satu aspek pembentuk hidup manusia. Di dalam Natal manusia membangun solidaritas sosial, budaya, dan paham tentang hidup sederhana.

Tetapi dengan adanya budaya konsumtif, maka hilanglah juga aspek habitus Natal. Dan saat ini banyak orangtua yang meninggal dunia dengan membawa pergi begitu saja segudang kearifan lokal karena generasi muda lebih suka makan dan minum produk kapitalis.

Budaya konsumtif merupakan metamorfosa dari kapitalisme telah masuk dalam sendi kehidupan manusia. Konsumtifistik ini membawa tata nilai materialistik yang memengaruhi pola pikir, pola hidup maupun pola konsumsi seseorang.

Seluruh pikiran kita dikendalikan oleh sistem besar (pasar) kapitalisme yang menguras semua pendapatan yang siap dibelanjakan, maka wajar saja seketika itu juga logika kita hilang dengan adanya berbagai tawaran untuk melakukan konsumsi, dan setelah itu kita sepenuhnya dikendalikan oleh lingkungan yang dimanipulasi bagi kepentingan pihak kapitalisme.

Pasar tersendiri

Konsumerisme menyentuh seluruh kehidupan keluarga. Keluarga telah menjadi pasar tersendiri bagi produk asing. Meminjam Plato, “tubuh kita adalah makan jiwa”.

Karena kita dalam homogenitas budaya, media yang dihadirkan baik itu televisi, instagram, Whatsapp, surat kabar, majalah, telah sampai pada setiap rumah tangga keluarga, yang demikian inilah, telah memengaruhi tingkah laku keluarga dalam mengonsumsi sesuatu. Tak jarang kebutuhan itu hadir, setelah kita menonton televisi atau membaca surat kabar atau majalah (Fredrik Nainggolan, 2007:86).

Hal lain adalah keluarga telah dikonstruksi untuk melakukan tindakan semisal hobi berbelanja (shopaholic). Shopping itu sendiri merupakan gaya hidup (life style) keluarga yang didukung dengan bertebarannya pusat-pusat perbelanjaan di mana-mana. Shopping tak selamanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi untuk keinginan dan kesenangan, dengan merasakan kenikmatan hanya pada saat membeli (hal. 87)

Sindrom shopping ini banyak menggejala pada keluarga Indonesia. Dikarenakan keluarga telah menjadi potensi besar pasar produk asing. Sehingga rasionalitas keluarga seakan tergiring dalam pasar asing. Keluarga menjadi pasar produk barang asing.

Dengan demikian keluarga akan menjadi hilang identitasnya sebagai ecclesia domestica (gereja mini) berubah serentak menjadi aliena productio mercatus (pasar produk luar negeri) atau pasar produk kapitalis.

Berbagai dinamika kehidupan modern, kita sering bertanya “mengapa keluarga modern begitu “rakus” dan bahkan begitu sensitif terhadap budaya konsumtif?”.

Hal ini dikarenakan konsumsi yang dilakukan rumah tangga keluarga merupakan variabel yang sangat menentukan keseimbangan sistem ekonomi secara makro, selain sektor industri dan pemerintah.

Konsumsi keluarga secara keseluruhan merupakan kelompok yang terdiri atas individu-individu yang melakukan tindakan konsumsi dalam suatu negara, yang untuk ukuran Indonesia dapat mencapai puluhan juta rumah tangga keluarga.

Memang perilaku konsumtif yang semula hanya dimonopoli oleh kelas menengah ke atas, kini telah merambah ke kelas menengah ke bawah yang cenderung dipaksakan.

Strategi yang acap kali digunakan yaitu menghadirkan model-model terbaru, selain dengan berbagai tipe, ukuran, warna, kemasan, content, strategi diskon, cuci gudang, limited production, dan masih banyak lagi.

Jika dilihat dari konteks makro, konsumsi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, namun konsumsi yang berlebihan akan mengakibatkan rapuhnya fondasi ekonomi nasional. Di mana terjadi ketidakseimbangan neraca pembayaran, ditandai dengan impor lebih besar dari pada ekspor.

Selain itu konsumsi akan mendorong pembangunan pusat perbelanjaan, yang akan mengganggu basis ekonomi lokal dan menciptakan kesenjangan dalam distribusi pendapatan. Konsumsi juga dapat menghambat pemupukan modal karena tingkat tabungan nasional yang rendah yang diakibatkan karena volume konsumsi yang sangat besar dan memacu permintaan akan utang, sehingga bukan hanya rendah tetapi sudah minus.

Perilaku konsumtif itu ibarat virus yang bila tidak dibendung, ia akan terus berkembang dan akan membawa bencana bagi kita. Maka marilah kita maknai habitus Natal ini sebagai sebuah hari sakmadya —mengikuti teladan Yesus, hidup sederhana— dengan memprioritaskan seluruh kebutuhan keluarga, membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan, melakukan aksi solidaritas sosial kepada kaum miskin dan papa.

Karena bertindak demikian kita telah mewariskan habitus Natal dalam keluarga dan mendidik anak dan masyarakat di sekitar kita untuk mewariskan semangat membagi, solidaritas perjumpaan kemanusiaan dan kasih Allah.

Peristiwa keabadian Allah

Natal adalah kesunyian dan keheningan. Kesunyian menyergap rasa mengepung raga dan nafsu syahwat. Itu sebabnya kesunyian selalu dihindari, khususnya para penikmat kegemerlapan dan keriuhan. Dan sejatinya kesunyian selalu menyembunyikan kesadaran jiwa untuk lebih bisa memaknai bahwa di kesunyian justru kita mampu mendengar tentang gema “kemanusiaan” kita apabila kita sudah menemukannya.

Natal sebagai peristiwa perjumpaan Allah dengan manusia dalam bingkai historisitas kemanusiaan Allah sendiri di wajah Yesus sang anak manusia. Dia menyejarah melampaui batas luasnya alam semesta karena keagungan dan kemuliaan manusia harus direhabilitasi karena jarak merenggangkan tali-temali relasi Allah dan manusia tak dapat lagi diukur akibat pemberontakan manusia itu sendiri.

Natal sebagai peristiwa keabadian Allah telah diretas sempurna oleh Yesus. Dia lahir dan berada dalam keheningan dan kesunyian senyap yang memayungi kota Betlehem. Tidak ada yang mendengar, tidak ada yang mendampingi Maria ketika mentaati otoritas yang dirakhmatkan pada dirinya sebagai perempuan yang berbahagia karena akan melahirkan Yesus.

Betlehem sebuah tempat yang dipilih menjadi pemilik kisah keabadian Allah. Kota yang jauh dari hiruk pikuk kegemerlapan dan keriuhan kota yang penuh polusi. Kota yang terkecil di antara kota-kota di Yehuda, dan yang sudah lama dinubuatkan para nabi, bahwa sang Mesias akan lahir di sana.

Betlehem bukan kota seperti yang kita kenal dan pahami sekarang ini sebagai kota industri, melainkan kota keabadian Allah dalam diri kita, agar kita menjadi sempurna dalam beriman. Bukan kota gemerlap dan bukan pula kota metropolitan apalagi megapolitan, tapi kota kosmopolitanisme kemanusian, perjumpaan satu jiwa satu negeri yaitu dalam diri Yesus Kristus Sang Juru Selamat.

Natal tidak saja perayaan liturgia, tapi Natal harus membawa perubahan pola pikir (metanoia) menuju ke arah yang lebih baik serta mewujudkan budaya perjumpaan iman yang mendalam dalam solidaritas kemanusiaan yang baik dan benar-benar bebas dari kegelisahan penjara kapitalisme.

Demikian pula Natal harus menggetarkan (iuvenale), artinya kehadiran kita, sebagai transubstansiasi Natal di tengah masyarakat tidak saja formasi tapi sungguh membawa transformasi kehidupan yakni, ennoble (memaknai, mengilhami), ennable (memampukan), dan empower (memberdayakan).

Tiga hal tersebut dibingkai dalam spirit Natal, servant (pelayan), steward (pengurus), dan shepherd (gembala). Tiga spirit itulah yang selalu didengungkan oleh Yesus dalam Injil yakni menjadi manusia yang agung, seorang yang tidak berhenti berusaha untuk mempertajamkan kemampuan, pengetahuan, dan wawasannya demi panggilan dalam pelayanan, kepemimpinan, dan kepengurusan, tapi lebih dari itu mempunyai daya ubah.

Selamat Natal. Damai di Surga dan Damai di Bumi.

Tinggalkan Komentar Anda :