Analis Politik Sebut Ide Debat Perdana Tiga Paslon Pilpres 2024 Cenderung Repetitif - Odiyaiwuu.com | Membahagiakan Kehidupan

Analis Politik Sebut Ide Debat Perdana Tiga Paslon Pilpres 2024 Cenderung Repetitif

Tiga pasangan calon presiden pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2024 (dari kiri) Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan. Sumber foto: liputan6.com

Loading

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Tiga Calon Presiden-Calon Wakil Presiden Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Nomor Urut 1), Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (Nomor Urut 2), dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD (Nomor Urut 3) baru saja usai beradu visi-misi dan program dalam debat perdana Selasa (12/12) pukul 19.00 WIB.

Namun, dalam sesi pertama debat bertema Hukum, HAM, Pemerintahan, Pemberantasan Korupsi dan Penguatan Demokrasi tema Hukum, HAM, Pemerintahan, Pemberantasan Korupsi dan Penguatan Demokrasi ide ketiganya dinilai cenderung repetitif.

“Saya menilai perdebatan perdana berjalan menarik. Namun ide-ide dari ketiga capres cenderung diulang-ulang, repetitif dari apa yang disampaikan ke publik selama ini. Nyaris tidak ada unsur kebaruan,” ujar analis politik sekaligus Direktur Kasimo Institut Edward Wirawan kepada Odiyaiwuu.com di Jakarta, Selasa (12/12) malam.

Menurut Edward, dari beragam isu yang terlontar ia melihat dua isu besar yaitu kebangsaan dan demokrasi yang terlontar dari calon presiden Ganjar Pranowo. Dua isu tersebut dipandang menari karena Ganjar memulai narasi berpijak kisah soal Pendeta Leo dan ‘fasilitas kesehatan’ di Marauke di Papua. Kemudian kisah calon wakil presiden Mahfud MD yang bicara dengan para guru di Nanggroe Aceh Darussalam.

“Ganjar lantas melompat kemudian bicara Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat yang kita tahu merupakan dua provinsi termiskin. Narasi Ganjar memiliki pesan besar. Beliau juga bicara soal kebangsaan lalu menyebut Papua dan Aceh, dua wilayah konflik. Ganjar ingin memastikan keadilan dasar seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan yang menjangkau seluruh indonesia terutama di batas luar NKRI,” kata Edward.

Selain itu, ujar Edward, dalam narasi Ganjar tersirat di dalam pernyataannya bahwa konflik di masyarakat bersumber pada ketidakadilan dalam rupa tidak terpenuhinya kebutuhan paling dasar. Misalnya, soal pendidikan, fasilitas Kesehatan, dan kesejahteraan.

“Dengan menyebut Papua dan Aceh di awal narasi, Ganjar ingin memastikan komitmen kepemimpinan, leadership sekaligus untuk memastikan keadilan dan kesejahteraan dari Sabang sampai Marauke dan dari Miangas hingga Pulau Rote,” katanya.

Selain itu, diksi soal Marauke dan Aceh, NTB dan NTT kemudian menyasar isu korupsi dan demokrasi merupakan deklarasi komitmennya untuk menjadi pemimpin bagi semua.

“Bahkan Ganjar melampaui olok-olok orang sebagai petugas partai. Ganjar seolah mau menegaskan bahwa ia anak bangsa yang melihat dan menjaga semua, mulai dari pinggir dan bukan petugas partai,” kata Edward.

Bahkan menurut Edward, Ganjar menyebut NTT dan NTB sebagai komitmen untuk keadilan kesejahteraan. Artinya, secara implisit di dalam itu adalah soal kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan sebagai visi besar pemerintahan kelak.

Berikut pula soal keadilan, demokrasi dan penegakan hukum terutama pemberantasan korupsi. Meski demikian, secara konsep Edward mengoreksi ‘konsep Demokrasi’ yang diutarakan Ganjar. Ganjar misalnya menyebut bahwa oposisi hanya soal kepentingan. Padahal, kata Edward, oposisi adalah pikiran alternatif pada kebijakan sehingga oposisi dalam demokrasi sangat penting.

“Kita justru mengharapkan bahwa pemerintahan mendatang memiliki oposisi yang kuat. Demokrasi akan terpelihara dengan baik jika oposisi tajam dan kuat. Oposisi yang kuat penting untuk mengoreksi kekuasaan. Jika Ganjar menang, maka yang lain perlu menjadi oposisi. Sebaliknya, bila Ganjar tidak terpilih ia harus menjadi oposisi guna menkawal jalannya pemerintahan,” kata Edward. (Ansel Deri/Odiyaiwuu.com)

Tinggalkan Komentar Anda :