Bupati Spei Yan Bidana Resmikan Bandara Baru di Distrik Eipomek, Kabupaten Pegunungan Bintang - Odiyaiwuu.com | Membahagiakan Kehidupan

Bupati Spei Yan Bidana Resmikan Bandara Baru di Distrik Eipomek, Kabupaten Pegunungan Bintang

Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang Spei Yan Bidana, ST, M.Si (baju putih) didampingi Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Pegunungan Bintang Metodius Kakyarmabin, S.Pd (kanan) bersama rombongan saat tiba di Eipomek dalam rangka meresmikan Bandar Udara Eipomek, Distrik Eipomek, Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, Kamis (30/11). Foto: Istimewa

Loading

OKSIBIL, ODIYAIWUU.com — Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang Spei Yan Bidana, ST, M.Si, Kamis (30/11) meresmikan Bandar Udara (Bandar Udara) di Distrik Eipomek, Provinsi Papua Pegunungan.

Orang nomor satu Pegunungan Bintang itu mengapresiasi warga atas dukungan hingga perampungan pengerjaan bandara baru kebanggaan pemerintah dan masyarakat tanah Papua, terutama Papua Pegunungan dan khususnya Pegunungan Bintang.

“Selaku bupati, saya atas nama Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Eipomek yang telah mendukung kami dan pihak ketiga selama proses pengerjaan bandara hingga peresmiannya,” ujar Spei Bidana kepada Odiyaiwuu.com melalui sambungan telepon dari Oksibil, kota Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, Jumat (1/12).

Antusiasme warga menuncuk saat pesawat Caravan yang dicarter rombongan Spei yang didampingi Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Pegunungan Bintang Metodius Kakyarmabin, S.Pd menyentuh bibir landasan Bandara Eipomek sekitar pukul 09.00 WIT. Sambutan meriah warga luar biasa dengan suguhan tari-tarian adat.

Bupati Spei menyebut, ia dan jajaran Pemkab Pegunungan Bintang memiliki komitmen kuat membangun infrastruktur jalan, jembatan, air bersih, listrik, dan bandara. Kebijakan tersebut, ujarnya, dilakukan dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membuka isolasi daerah.

“Kami minta masyarakat bisa menjaga fasilitas bandara ini baik-baik. Setelah kami resmikan Bandara Eipomek, kami juga akan resmikan Bandara Tinibil di Distrik Oksamol. Sedangkan untuk peresmian pengerjaan sejumlah ruas jalan, jembatan Iwur, listrik dan air bersih akan dilakukan terpusat di Oksibil bulan Januari 2024,” kata Spei.

Spei, mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Pegunungan Bintang, menegaskan, pembangunan Bandara Eipomek ini juga adalah bagian dari realisasi janji Septe (pasangan calon Bupati Yan Spei Bidana dan calon Wakil Bupati Piter Kalakmabin) saat kampanye Pilkada Pegunungan Bintang tahun 2020.

“Selain bandara, di Eipomek juga kami sudah bangun jaringan telekomunikasi di lima kampung dan juga sekolah SD, SMP dan SMA. Untuk SMA Negeri Eipomek yang sudah beroperasi, bisa juga menjangkau para siswa dari Distrik Pamek yang ingin melanjutkan pendidikannya,” ujar Spei.

Di sela-sela kunjungannya meresmikan Bandara Udara Eipomek, Bupati Spei juga menyerahkan dana sebesar Rp 810 juta kepada masyarakat sebagai biaya ongkos kerja dan pembayaran material berupa batu dan pasir milik masyarakat setempat.

“Kami libatkan masyarakat dalam proses pengerjaan bandara ini supaya mereka juga bisa menikmati makna Pembangunan seseungguhnya,” kata Spei, birokrat senior dan putra asli Pegunungan Bintang.

Sekadar diketahui, Bandara Eipomek adalah salah satu dari puluhan bandara perintis di wilayah Pegunungan Bintang. Berdasarkan catatan Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua, proses awal pengerjaan bandara ini dimulai Wulf Schiefenhoevel, peneliti berkebangsaan Jerman.

Wulf adalah seorang Guru Besar Antropologi Medis yang mengajar di Max Planck Institut, Jerman. Tahun 1974, Wulf memulai riset di Eipomek. Kala itu, ia dibantu Tayiniyak, warga suku Dani dan beberapa orang Eipo. Mereka merintis lapangan terbang yang khusus didarati pesawat berbadan kecil.

Proses pembuatan lapangan terbang ini murni mengandalkan tenaga manusia dengan peralatan sederhana seperti pacul, sekop, dan linggis. “Saya dan tim peneliti Jerman menamakan Eipomek untuk daerah yang kami bangun lapangan terbang. Dalam peta, daerah ini sebelumnya hanya disebut dengan Lembah X,” kata Hari Suroto mengutip testimoni Wulf.

Wulf menambahkan, orang Eipo yang tinggal di Lembah X adalah penutup jalan paling dramatik dari masa kapak batu prasejarah ke dunia digital dalam satu generasi tanpa membaca buku karya Aristoteles.

“Pada Juli 1975, lapangan terbang hasil kerja kami, pertama kali didarati pesawat kecil. Saat itu kami sangat senang dapat berfoto dengan orang Eipo. Mereka obyek foto yang bagus namun di era digital ini, kebalikannya, justru kami orang kulit putih yang jadi pusat perhatian dan mereka jadikan obyek foto,” kata Wulf.

Saat ini, Bandara Eipomek yang baru diresmikan Bupati Spei ditingkatkan pengaspalan landasan pacu dengan panjang 500 meter dan lebar 16 meter. Bandara ini dibangun dengan dana Otonomi Khusus APBD Pegunungan Bintang tahun 2022 sebesar Rp 10 miliar dan anggaran Otsus APBD Pegubin tahun 2023 senilai Rp 5 miliar. (Ansel Deri, Gusty Masan Raya/Odiyaiwuu.com)

Tinggalkan Komentar Anda :