Dialog Demi Mengakhiri Konflik di Tanah Papua - Odiyaiwuu.com | Membahagiakan Kehidupan
OPINI  

Dialog Demi Mengakhiri Konflik di Tanah Papua

Oksianus K Bukega Pr, alumnus STFT Fajar Timur, Abepura, Papua. Foto: Istimewa

Loading

Oleh Oksianus K Bukega

Alumnus  STFT Fajar Timur, Abepura, Papua

GAGASAN tentang Papua tanah damai sudah cukup lama disampaikan dan dibicarakan melalui berbagai media dan forum-forum diskusi formal. Gagasan Papua tanah damai lahir karena ada beragam konflik. Karena itu, dengan dan hanya dialog adalah cara paling bermartabat dan manusiwai mencari dan melihat dengan hati apakah Papua adalah tanah damai atau tanah konflik.

Dialog adalah sarana untuk melihat lebih dekat, menganalisa secara terukur dan terencana sambil terus mencari dan mengungkap validitas data lalu menemukan jalan keluar, solusi penyelesaian konflik secara damai dan bermartabat.

Mencermati persoalan di Papua akhir-akhir ini, Papua lebih merupakan sebuah “tanah konflik” dibanding “tanah damai”. Berbagai motif konflik, terutama kekerasan kemanusiaan selalu berujung memakan ratusan bahkan ribuan korban jiwa manusia tak berdosa di tanah Papua.

Misalnya, sembilan anggota tentara yang ditembak dalam kontak tembak antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) dan TNI di Distrik Yali, Kabupaten Nduga (Kompas, 15/4/2023) dan warga sipil lainnya merupakan masalah serius.

Belum lagi masyarakat sipil yang selalu jauh dari pantauan public bahkan media-media lokal dan media-media arus utama, mainstream. Entah berapa banyak yang meregang nyawa tak ketahuan rimbanya. Pun masyarakat kecil yang meninggalkan kampung halaman serta anak-anak mereka yang kehilangan kesempatan berada di dalam ruang kelas, misalnya.

Dialog urgen

Keseriusan konflik di tanah Papua tidak bisa dibaca, ditanggap dan dibicarakan pada level lokal dan regional dalam konteks Papua. Masalah konflik kemanusia yang berujung menelan korban jiwa adalah masalah hak asasi manusia (HAM) yang harus dibicarakan pada level nasional dan internasional dengan cara dialog. Dialog menjadi urgen, termasuk mempertimbangkan serius menghentikan sementara berbagai operasi keamanan secara masif.

Dengan mediasi dialog beragam konflik di Papua bisa diminimalisir. Tentu berbagai upaya dan usaha dilakukan untuk penyelesaian beragam konflik di tanah Papua namun penyelesaiannya belum terealisasi menjadi “Papua tanah damai”. Karena itu, seruan dialog menjadi tawaran untuk menemukan jalan keluar.

Situasi konflik di tanah Papua sangat bertentangan dengan semboyan Papua tanah damai” karena hingga kini Papua masih dalam suasana konflik. Kondisi Papua sebagai tanah yang bertabur konflik berbuntut mengganggu tatanan hidup warga Papua. Tanah Papua dibalut rasa takut, intimidasi, marjinalisasi, stigmatisasi, kekejaman, ketidakadilan kejahatan, kemiskinan, keterbelakangan dan aneka motif lainnya.

Kondisi ini bermuara pada cara pandang yang beririsan dengan pengabaian terhadap martabat manusia. Kondisi Papua demkian menampakkan wajah paradoks dan selalu memperihatinkan.

Idealnya adalah Papua mesti tanah damai, bukan tanah konflik. Indikator akar masalah yang perlu dilihat, digali lalu didialogkan untuk mengungkap beragam konflik yang terjadi selama ini.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengemukakan, akar masalah yang perlu digali dan didialogkan antara lain different preceptions on Papua’s political status, shooting incidents and human rights violation, economic politcies that fail to empower, indigenous Papuans, dan non native Papuan migran dominate political position (Nico G. 2016).

Beragam konflik di Papua mesti dilihat dan digali dari lima indikator akar masalah yang dikemukakan ini. Ketika akar masalah ini diangkat dan didialogkan, semboyan Papua tanah damai akan tercipta. Bila tidak ada dialog, Papua masih menjadi “tanah konflik”.

Untuk menciptakan Papua tanah damai, pada 3 Februari 2003 para pemimpin agama di Papua mendeklarasikan Papua Tanah Damai dengan menyodorkan sembilan indikator. Indikator-indikator dimaksud yaitu partisipasi, kebersamaan, toleransi dan saling menghargai serta komunikasi.

Kemudian kesejahteraan, rasa aman dan nyaman, keadilan dan kebenaran, kemandirian, harga diri dan pengakuan serta keutuhan harmoni (Dr Neles Kebadabi Tebay, 2012).

Perlu diingat, setiap suku bangsa yang hidup di muka bumi ini mengharapkan dan  mendambakan kedamaian, bukan konflik. Sebab misi untuk menjunjung tinggi keadilan dan kedamaian adalah perjuangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal yang melampaui sekat-sekat kedaulatan dan hukum.

Tinggalkan Komentar Anda :