Bentrok di Wamena, Provinsi Papua Pegunungan: 9 Orang Meninggal dan 17 Luka Terkena Tembakan - Odiyaiwuu.com | Membahagiakan Kehidupan

Bentrok di Wamena, Provinsi Papua Pegunungan: 9 Orang Meninggal dan 17 Luka Terkena Tembakan

Rumah warga yang terbakar menyusul kericuan yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis (23/2). Buntut kericuan tersebut, 9 warga dilaporkan meninggal, 17 mengalami luka terkena tembakan, dan sejumlah warga dibakar massa. Foto: Istimewa

Loading

WAMENA, ODIYAIWUU.com — Bentrok antara warga masyarakat dan aparat keamanan terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis (23/2). Akibatnya, 9 warga dilaporkan meninggal, 17 mengalami luka terkena tembakan dan sejumlah warga dibakar massa.

“Korban meninggal 9 orang dan 17 orang mengalami luka. Korban meninggal mengalami luka tembak di bagian leher, dada, dan di bagian belakang,” ujar pejuang HAM Papua Theo Hesegem melalui keterangan tertulis yang diterima Odiyaiwuu.com dari Wamena, Papua Pegunungan, Jumat (24/2).

Bentrok berawal dari isu penculikan seorang siswa sekolah dasar di Sinakma. Seseorang yang dianggap pelaku penculikan diamankan pihak kepolisian. Keluarga siswa tersebut tidak terima polisi mengamankan orang yang diduga sebagai pelaku penculikan sehingga terjadi perbedaan pendapat antara aparat kepolisian dengan keluarga anak yang diduga diculik.

Akhirnya, terjadi bentrok antara masyarakat dan pihak kepolisian di Jalan Habema, dekat Sinakma. Massa melempar aparat kepolisian dengan batu. Situasi yang sulit dikendalikan saat itu memaksa aparat keamanan mengeluarkan gas air mata berkali-kali.

“Sejumlah rumah warga masyarakat non Papua dibakar. Saat itu situasi sulit dikendalikan sekalipun ada polisi menjadi pagar utama mengendalikan massa. Ketika saya pantau dari jarak dekat, bentrok terjadi antara masyarakat dan aparat kepolisian dibantu anggota TNI. Situasi saat itu sulit dikendalikan,” lanjut Theo yang juga Ketua Yayasan Keadillan dan Keutuhan Manusia Papua.

Theo menambahkan, seorang korban warga non Papua mengalami luka bacok di bagian leher, belakang, dan muka. Korban juga terkena panah yang masih bersarang di badan korban dan sedang ditangani petugas medis di UGD Rumah Sakit Umum Wamena.

Selain itu, ujar Theo, sekitar 17 warga orang asli Papua mengalami luka tembak. Ada yang terkena tembakan di bagian belakang, betis, dan punggung. Ada terkena tembaka di bagian kaki dan tangan, leher, dan ketiak. Beberapa korban terkena peluru yang masih bersarang di tubuh.

“Pantauan kami seluruh pasien yang mengalami luka tembak sedang ditangani tim medis di UGD Rumah Sakit Umum Wamena. Sejumlah rumah warga juga dibakar masaa yang tersulut emosi. Jumlah persisnya akan kami informasikan,” ujar Theo.

Selaku aktivis pembela HAM, Theo merasa prihatin terjadinya bentrok. Bentrok yang berujung kematian sangat tidak manusiawi. Krisis kemanusiaan terjadi di tengah masyarakat.

“Saya juga berharap agar keluarga dekat atau kerabat datang ke rumah sakit untuk mengatur jenazah korban meninggal yang sedang berada di rumah sakit,” ujarnya,

Pihaknya berharap agar aksi serupa tidak terulang lagi. Pihak-pihak yang melanggar hukum, untuk diproses sesuai hukum yang berlaku. Saya berharap agar Pemerintah Provinsi Pegunungan Tengah dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya segera menyelesaikan persoalan ini,” kata Theo.

Penculikan anak

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Papua Kombes Pol Ignatius Benny Ady Prabowo, SH, SIK, M.Kom membenarkan kericuan terjadi di Kampung Sapalek, Jalan Trans Irian, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya pada Kamis, (23/2) sekitar pukul 12.30 WIT. Kericuan dipicu adanya isu terkait penculikan anak yang hingga kini belum jelas informasinya.

“Kami mendapatkan informasi bahwa ada sebuah mobil tujuan Kampung Yomaima yang ditahan oleh masyarakat di Kampung Sinakma yang diduga sopir mobil tersebut adalah oknum penculikan anak sehingga hal itu membuat kehebohan di tengah masyarakat,” kata Benny melalui keterangan tertulis yang diterima Odiyaiwuu.com di Jakarta, Kamis (23/2).

Benny menjelaskan, isu terkait penculikan anak tersebut kemudian merambah hingga terjadi penyerangan terhadap aparat kepolisian yang saat itu tengah berupaya menenangkan masyarakat yang sudah termakan informasi tersebut.

“Saat berusaha menenangkan massa, kami diserang dengan batu yang dilemparkan kepada anggota hingga kami memberikan tembakan peringatan untuk memukul mundur. Namun, tak diindahkan dan massa semakin berulah sampai membakar beberapa bangunan ruko,” kata Benny.

Ia menmbahkan, hingga saat ini personel Polres Jayawijaya bersama BKO Brimob yang dibantu personel BKO Kodim 1702 Jayawijaya masih berjaga di tempat kejadian perkara (TKP).

“Untuk kasus ini akan kami selidiki penyebab awal dan siapa saja dalangnya hingga membuat kericuhan. Saat ini kami juga masih berupaya menenangkan massa. Untuk kerugian yang ditimbulkan akibat kejadian ini akan kami dalami,” kata Benny. (Ansel Deri/Odiyaiwuu.com)

Tinggalkan Komentar Anda :