Suku Damal Ungkap Dampak Mengerikan Perang Suku Bagi Masyarakat di Mimika - Odiyaiwuu.com | Membahagiakan Kehidupan
DAERAH  

Suku Damal Ungkap Dampak Mengerikan Perang Suku Bagi Masyarakat di Mimika

Kegiatan penyuluhan hukum positif yang diselenggarakan komunitas masyarakat adat Suku Damal di Hotel Serayu, Jalan Yos Sudarso, Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Jumat (16/12). Para pembicara adalah perwakilan Polres Mimika, Kejaksaan Negeri, Pengadilan Negeri, Badan Kesbangpol, dan Universitas Cenderawasih. Foto: Istimewa

Loading

TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Komunitas masyarakat adat suku Damal, Kabupaten Mimika, Jumat (16/12) menyelenggarakan kegiatan penyuluhan hukum positif di Hotel Serayu, Jalan Yos Sudarso, Timika, Provinsi Papua Tengah.

Sejumlah pembicara baik dari pihak Kepolisian Resor (Polres) Mimika, Kejaksaan Negeri (Kejari), Pengadilan Negeri (PN), Badan Kesbangpol, dan Universitas Cenderawasih tampil menyajikan materi bagi peserta tak hanya dari Timika tetapi juga dari komunikasi adat Damal.

Ketua Panitia Penyuluhan Hukum Positif Yulius Hagabal dalam sambutannya saat pembukaan kegiatan menyebutkan, penyuluhan hukum positif tersebut bertujuan mewujudkan masyarakat yang lebih baik sehingga setiap anggota masyarakat menyadari serta menghayati hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

“Penyuluhan juga bertujuan mewujudkan rasa keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan dalam masyarakat. Dalam proses tersebut hukum postif harus mencerminkan aspek kepastian hukum dan menyelamatkan masa depan generasi Suku Damal, khususnya di Mimika,” ujar Hagabal melalui keterangan tertulis yang diterima Odiyaiwuu.com di Jakarta, Jumat (16/12).

Hagabal yang juga Kepala Suku Damal, menjelaskan, ada sejumlah alasan di balik kegiatan tersebut. Pertama, sebagai anggota komunitas adat Damal yang bermukim di Timika, mereka melihat, mendengar, dan mengalami sendiri dampak buruk perang.

Bila kebiasaan perang dipelihara, bayang-bayang kepunahan anggota komunitas suku Damal berada dalam intaian maut di ujung anak panah bahkan kepunahan selalu membayang.

Kedua, suku Damal mengalami banyak kematian tragis akibat pola pembuatan ritual adat dilakukan tidak profesional dan dengan jalur adat yang semestinya. Pola dan ritual adat yang tak sesuai selalu memiliki dampak buruk, termasuk kematian.

Ketiga, anak-anak usia dini harus betul-betul mendapatkan pendidikan untuk mengejar masa depan. Perang selalu membawa konsekuensi buruk bagi anak-anak di bidang pendidikan.

“Anak-anak tertinggal dalam proses pendidikan. Mereka terpuruk dan proses pendidikannya berantakan sehingga ujungnya, generasi Damal tidak bisa maju,” kata Hagabal.

Dampak perang juga merembet terhadap aspek kesehatan. Orang-orang sakit, kata Hagabal, semestinya harus ke rumah sakit untuk berobat. Namun, akibat perang, orang-orang sakit Suku Damal malah tidak tertolong.

Begitu pula perempuan dan ibu-ibu yang seharusnya dijaga karena mereka sumber kehadiran generasi Damal untuk melanjutkan keturunan.

“Perempuan itu nilainya sangat tinggi sehingga harus dijaga. Mereka yang melahirkan kita. Tetapi, akibat perang mereka tidak dapat hidup dengan tenang. Ruang gerak mereka dibatasi. Saat para pria dari luar datang membantu perang dan melakukan hubungan bebas, akhirnya banyak perempuan tertular aneka penyakit lalu perlahan mulai meninggal,” kata Hagabal.

Hagabal menambahkan, perang juga menghilangkan harta benda milik masyarakat suku Damal. Harta benda yang sudah terkumpulkan bertahun-tahun akhirnya hilang tak berbekas akibat perang yang kerap terjadi.

Menurutnya, jika hal itu masuk dalam kategori hukum perdata, hal tersebut tidak berlaku karena perang dipahami sebagai bagian dari kebiasaan turun temurun.

“Kita pasrahkan semuanya kepada hukum adat. Maka di mana ada masalah kita mengangkat masalah ini dengan penegakan hukum positif,” katanya.

Untuk itu, melalui penyuluhan ini, pihaknya berharap agar bisa mengubah karakter masyarakat agar sedikit demi sedikit memahami betapa buruknya dampak perang yang telah terjadi selama ini.

“Tetapi tentunya ini butuh waktu, dana, dorongan, dan bantuan dari semua pihak. Dengan demikian kegiatan penyuluhan hukum positif seperti ini dilakukan berkesinambungan. Kami berharap setiap tahun diadakan kegiatan semacam ini. Mari kita jaga keamanan, jaga masyarakat kita. Saya juga agar masalah keamanan menjadi tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Mewakil Pelaksana Tugas Bupati Johannes Rettob, Asisten III Bidang Administrasi Umum dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Mimika Hendrite Tandiyono, mengatakan Indonesia adalah negara hukum, rechtstaat dan tidak berdasarkan atas kekuasaan semata, machstaat.

“Pandangan ini mengandung makna bahwa dalam penyelenggaraan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, hukum mendapat tempat paling tinggi dan terhormat. Karena itu, menjadi kewajiban bagi siapapun yang berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk mematuhi hukum,” ujar Tandiyono.

Menurut Tandiyono, hukum adat adalah hukum asli Indonesia. Hukum adat tidak akan bisa mati atau terhapus oleh waktu. Sedangkan hukum positif adalah hukum yang berlaku saat ini.

“Eksistensi hukum adat dalam hukum positif Indonesia selalu ada dan tidak akan mati. Hukum adat dan hukum positif menjadi suatu yang saling melengkapi antara satu dengan lainnya. Hukum adat akan bergerak elastis dan dinamis menyesuaikan kehidupan dalam masyarakat,” lanjut Tandiyono.

Oleh karena itu, bila hukum adat bertentangan dengan hukum positif, hukum adat tersebut tidak akan bisa eksis sehingga bila dipandang tak sesuai dengan kehidupan masyarakat, hukum adat berganti dengan sendirinya sesuai dengan kehidupan masyarakat.

“Apabila hukum adat bertentangan dengan hukum positif dalam negara, maka hukum adat seharusnya dapat menyesuaikan dengan hukum negara,” jelasnya.

Pihaknya berharap agar setelah mengikuti kegiatan penyuluhan hukum positif ini, masyarakat adat suku Damal paham tentang materi dan muatan yang terkandung dalam suatu peraturan perundang-undangan.

Dengan demikian, hal ini menyadarkan masyarakat adat suku Damal tergerak menghargai, patuh, dan taat pada aturan dan hukum yang berlaku. (Ansel Deri/Odiyaiwuu.com)

Tinggalkan Komentar Anda :