Berita Terbaru :
Home » , » “Tidak Berdaya” Di Negeri Sendiri

“Tidak Berdaya” Di Negeri Sendiri

Written By Odiyai Wuu on Selasa, 19 April 2016 | 22.53

Ilustrasi
Sudah banyak kali Pemerintah mengklaim bahwa angka kemiskinan di Indonesia semakin menurun dari tahun ke tahun. Hal itu dianggap sebagai prestasi bagi Pemerintah dan partai politik yang sedang berkuasa. Di tengah klaim dan kebanggaan Pemerintah dan partai penguasa tersebut, kita dapat menyaksikan sejumlah kenyataan kemiskinan dan kemelaratan jutaan rakyat Indonesia. Mereka punya negara ini dan mencintai negara ini tetapi mereka tidak mampu membeli makan (mencari nafkah), tak mampu membiayai sekolah anak-anaknya, tak mampu membayar biaya kesehatan, tak mampu mendirikan rumah yang layak huni, tak mampu membeli pakaian yang layak pakai, dan ketidakmampuan-ketidakmampuan kronis lainnya.

Dalam kondisi seperti itu, wajar saja jika banyak orang menjadi pengemis, banyak orang menjadi pelacur, banyak orang menjadi perampok, banyak orang menjadi preman dan gelandangan, dan masih banyak “profesi aneh” lainnya. Tentu profesi-profesi aneh ini tidak diinginkan oleh siapapun, tetapi apa boleh buat kemiskinan dan kemelaratan hidup telah menciptakan hal itu. 

Di negara yang kaya-raya seperti Indonesia ini seharusnya tidak boleh ada (atau setidaknya sedikit jumlahnya) pelacur, perampok, preman dan gelandangan jika Pemerintah bijaksana mengelola seluruh kekayaan alam negara ini. Undang-Undang Dasar 1945 dengan jelas mengamatkan bahwa kekayaan alam Indonesia sebesar-besarnya dikelola untuk kepentingan rakyat. Tetapi uniknya, yang terjadi adalah sebaliknya; kekayaan alam Indone
sia sebesar-besarnya dikelola untuk kepentingan asing (kapitalis).

Lalu dimanakah keberpihakan Pemerintah terhadap rakyat Indonesia? Semudah itukah kekayaan alam Indonesia dikuras oleh pihak asing (kapitalis)? Selemah itukah Pemerintah Indonesia takluk di depan para kapitalis? Dimanakah wibawa dan kehormatan negara ini?

Kini waktunya bagi rakyat untuk bangkit menegakan wibawa dan harga dirinya sebagai pemilik Indonesia. Kini waktunya bagi rakyat untuk memilih pemimpin negara yang berani melawan kapitalis(me). Kini waktunya bagi rakyat untuk hidup aman, damai, dan sejahtera di tanah tumpah darahnya sendiri.
(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI