Berita Terbaru :
Home » , , » Teologi Langit Atau Teologi Bumi?

Teologi Langit Atau Teologi Bumi?

Written By Odiyai Wuu on Selasa, 19 April 2016 | 22.57

Ilustrasi
Teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama. Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Para teolog berupaya menggunakan analisis dan argumen-argumen rasional untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajar dalam salah satu bidang dari topik-topik agama. Kegiatan paling lazim dalam menganalisa dan kemudian menyampaikan argumen tentang Tuhan adalah melalui “penyampaian firman Tuhan” atau kotbha oleh para teolog. 

Mayoritas Orang Asli Papua beragama Kristen (Protestan kemudian disusul Katolik). Buku yang paling lengkap mengulas tentang Tuhan adalah Alkitab yang menjadi Kitab Suci agama Protestan dan Katolik. Karena itu ilmu tentang Tuhan paling lengkap dipelajari dari Alkitab. Para teolog Protestan (pendeta dan jajarannya) dan para teolog Katolik (pastor dan jajarannya) menafsirkan dan mengajarkan umatnya tentang Tuhan dan kehidupan yang sesuai dengan sabda Tuhan dengan merujuk kepada Alkitab sebagai landasannya.

Yang menjadi persoalan dalam penyebaran sabda Tuhan adalah penafsiran isi Alkitab yang kemudian disampaikan kepada umat oleh para teolog. Jika dicermati dengan seksama, maka kebanyakan teolog di Papua lebih suka mengajarkan umatnya untuk mengejar kehidupan di akhirat tanpa banyak menghiraukan kehidupan di bumi. Mereka mewartakan bahwa kehidupan di bumi tidak penting, yang penting adalah kehidupan di surga. Karena itu wajar saja jika kebanyakan Orang Asli Papua tidak peduli dengan kenyataan hidupnya di bumi. Mereka tidak peduli dengan penindasan dan diskriminasi yang menimpanya. Mereka tidak peduli dengan perampasan tanahnya. Mereka tidak peduli dengan perampokan kekayaan alamnya. Mereka pasif dalam membangun dan memberdayakan dirinya sendiri. Mereka tidak peduli ketika sanak-saudaranya dibantai. Pokoknya mereka tidak peduli dengan penderitaan hidup mereka dan membiarkan orang lain menjajah mereka. 

Mengapa begitu? Karena mereka dipaksa untuk percaya dengan penafsiran Alkitab yang dangkal oleh para teolog bahwa, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu,” “bersukacita dan bergembiralah, sebab upahmu besar di surga”, “tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya,” dan teks-teks Alkitab lainnya. Teologi model ini yang oleh George Junus Aditjondro dikritik sebagai “teologi awan-awan” (teologi langit) yang tak menghargai dan menghiraukan pentingnya hidup di bumi, yang cenderung diterapkan di Papua. Oleh para “teolog awan-awan” di Papua, umat dipaksa untuk apatis dengan kehidupan di bumi dan diajak secara membabi-buta dan dangkal untuk mengharapkan segala sesuatu dari dan ke langit.

Dari sekian banyak teolog di Papua, hanya beberapa pastor dari agama Katolik dan beberapa pendeta dari agama Protestan saja yang menonjol dan susah payah mengajarkan dan mewartakan “teologi kontekstual” (teologi yang membumi atau mengakar pada realita sosial). Teologi ini mirip dengan Teologi Pembebasan di Amerika Latin, dimana ajaran Alkitab berperan dalam ruang lingkup lingkungan sosial atau kontekstualisasi ajaran-ajaran dan nilai keagamaan pada masalah konkrit di sekitarnya. Isi Alkitab harus dipahami dan dipraktekan di Papua untuk menolong Orang Asli Papua mencintai kehidupannya, membangun dirinya, menentang dan melepaskan dirinya dari penindas, melawan dan melepaskan diri dari diskriminasi, memanfaatkan kekayaan alamnya sebagai anugerah Tuhan, belajar yang tekun untuk membangun diri dan sesamanya, menjaga kesehatan tubuhnya dan menghindari tindakan-tindakan yang mencelakakan tubuh, dan kebaikan-kebaikan lainnya untuk menjawab masalah-masalah konkrit di sekitarnya. Harus dipahami bahwa semuanya ini sebagai wujud merintis jalan ke surga. Tuhan memberi manusia hidup di bumi karena kehidupan di bumi sama penting dengan kehidupan di surga.

Adalah fakta bahwa sedang terjadi pertarungan antara Teologi Langit dan Teologi Bumi di Papua yang diperankan oleh para teolog agama Protestan maupun Katolik dengan mengandalkan Alkitab sebagai senjatanya. Kita tunggu saja, Teologi Langit atau Teologi Bumi yang akan membumi di Tanah Papua.
(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI