Berita Terbaru :
Home » , , » Penderitaan Rakyat, Bukti Kebenaran Teori Konspirasi

Penderitaan Rakyat, Bukti Kebenaran Teori Konspirasi

Written By Odiyai Wuu on Minggu, 10 April 2016 | 22.13

Indonesia mempunyai segala sumberdaya alam yang melimpah, yang menyebabkan banyak bangsa di dunia pada masa sebelum kemerdekaan berlomba-lomba menjajah Indonesia. Bangsa Spanyol, Purtugis, Balanda, Inggris dan Jepang secara bergantian dalam kurun waktu tertentu menjajah Indonesia. Mereka mengeksploitasi segala sumberdaya alam yang ada. Dan untuk memuluskan perampokannya, mereka tak segan-segan menggunakan kekerasan bersenjata untuk menindas rakyat Indonesia. Penjajahan klasik akhirnya berhenti dengan diproklamasikannya Negara Indonesia dan makin eksisnya Indonesia sebagai negara merdeka di kanca perpolitikan internasional, yang ditandai dengan adanya pengakuan dan dukungan sejumlah negara terhadap Negara Indonesia yang baru merdeka.

Seharusnya ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya, maka sejak itu sedikit demi sedikit rakyatnya mulai sejahtera. Tetapi sampai sekarang nampaknya kesejahteraan itu hanya masih menjadi cita-cita, yang tak kunjung terealisasikan dengan baik. Hanya sedikit dan kelompok tertentu saja yang menjadi sejahtera, sementara mayoritas orang Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Padahal negara ini mempunyai kekayaan alam yang melimpah. Sangat tidak masuk akal negara yang mempunyai kekayaan alam yang melimpah, tetapi justru kemiskinannya juga melimpah. Padahal jika kekayaan alam itu dikelola dan digunakan secara maksimal untuk kepentingan rakyat, maka sudah pasti sebagian besar rakyat Indonesia hidup berkecukupan (walaupun tidak sesejahtera mungkin).

Di zaman kemerdekaan ini, kemelaratan rakyat Papua barangkali bisa menjadi contoh yang menarik juga. Tanah Papua menyimpan segala jenis kekayaan alam, sementara penduduk aslinya sangat sedikit (tidak melewati jumlah dua juta orang). Dana Otonomi Khusus juga banyak, sementara penduduk asli yang dana itu diperuntukan sangat sedikit. Para pemimpin politik dan pemerintahan mayoritas adalah Orang Asli Papua, tetapi tidak ada keberpihakan yang berarti. Sementara di sisi lain segala kekayaan alamnya dieskploitasi secara besar-besaran.

Indonesia sudah merdeka dan negara kaya, tetapi mayoritas rakyatnya miskin. Tanah Papua mempunyai banyak kekayaan alam, dana Otonomi Khusus melimpah, dan para pejabat politik dan pemerintahan mayoritas Orang Asli Papua. Pertanyaanya, mengapa rakyat Indonesia masih miskin dan kesejahteraan masih jauh untuk dicapai? Mengapa penduduk asli Papua menderita di tanah airnya sendiri? Untuk menjawabnya, marilah kita mengaitkannya dengan Conspiracy Theory (Teori Konspirasi atau Teori Persekongkolan).

Teori Konspirasi atau Teori Persekongkolan adalah teori-teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh. Banyak teori konspirasi yang mengklaim bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah telah didominasi oleh para konspirator belakang layar yang memanipulasi kejadian-kejadian politik. Teori ini ada di seputaran gerak dunia global dan merambah hampir kesemua ranah kehidupan manusia. Dari urusan politik sampai makanan. Bagi orang yang tidak percaya selalu menganggap semua hanya olok-olok, mengada-ada, menyia-nyiakan waktu, kurang kerjaan, dan sebagainya. Bagi para penganutnya teori itu tidak serta-merta muncul mendunia tanpa ada yang menciptakan polanya.

Saya adalah satu diantara sejumlah orang yang percaya bahwa faktor penyebab utama kemelaratan rakyat Indonesia pasca-kemerdekaan dan masih menderitanya Orang Asli Papua pasca-diberlakukannya Otonomi Khusus disebabkan oleh adanya konspirasi atau persekongkolan tingkat tinggi yang dimainkan oleh sejumlah aktor dengan sejumlah kepentingannya sendiri. Singkatnya begini. Indonesia telah merdeka dari penjajahan klasik, yaitu penjajahan yang mengandalkan kekuatan fisik (biasanya senjata) untuk mengalahkan pihak-pihak yang dijajah. Tetapi kemudian Indonesia justru masuk ke dalam penjajahan modern, yang sering disebut sebagai neokolonialisme dan neoliberalisme. Penjajahan sebenarnya masiha ada, hanya saja berubah bentuk. Penjajahan ini sebenarnya jauh lebih kejam dari penjajahn klasik. 

Dalam penjajahan modern, selalu terjadi konspirasi atau persekongkolan yang klasik, yaitu antara perusahaan (umumnya milik negara penjajah), negara (pemerintah) tujuan penjajahan, dan militer. Biasanya oleh perusahaan (negara penjajah), pemerintah di negara tujuan dijebak masuk ke dalam kepentingan mereka, kemudian pemerintah negara tujuan membuat sejumlah aturan dan izin untuk memuluskan aksi penjajahan, dan akhirnya militer dilibatkan utuk mengamankan kepentingan (aset) milik negara penjajah. Biasanya negara tujuan penjajahan dan militernya disogok untuk tetap mempertahankan eksistensi penjajahannya, yaitu untuk terus mengeruk kekayaan alam negara tujuan. 

Hal inilah yang juga terjadi di Indonesia. Pemerintah dan militer Indonesia diperalat oleh kapitalis (negara dan perusahaan penjajah) untuk memuluskan aksi perampokan kekayaan alam Indonesia. Sayangnya, rakyat Indonesia menjadi korban, karena penjajah modern tidak peduli dengan kepentingan rakyat di suatu negara. Dalam kasus Papua kurang lebih sama seperti itu. Tetapi ada beberapa perbedaan, terutama berkaitan dengan dana Otonomi Khusus. Yang bertindak sebagai aktor penjajah adalah para elit politik dan aparat pemerintahan di daerah, yang kemudian bersekongkol dengan sejumlah oknum pemerintah pusat, TNI dan POLRI, dan sejumlah pengusaha. Dana Otonomi Khusus yang melimpah hanya berputar di kalangan ini saja, sehingga rakyat Papua tidak mendapatkan apa-apa. 

Jadi wajar saja jika rakyat Indonesia tidak sejahtera walaupun sudah merdeka lepas dari penjajahan klasik. Wajar juga Orang Asli Papua melarat di negerinya sendiri walaupun sudah diberi peluang untuk maju dan berkembang lewat Otonomi Khusus dengan dana yang melimpah. Intinya, konspirasi atau persekongkolan menjadi alat jitu untuk melestarikan penjajahan di Indonesia dan di Papua. Dan oleh karena itu, penjajahan masih ada! 

(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI