Berita Terbaru :
Home » , » Om, Om Tuhan Yesuskah?

Om, Om Tuhan Yesuskah?

Written By Odiyai Wuu on Kamis, 14 April 2016 | 20.34

Ilustreasi
Setiap pagi seorang anak kecil menjual pisang goreng keliling kampung, tempat dimana dia dan orang tuanya tinggal. Suatu pagi, dia bertemu dengan sekelompok orang yang sedang mabuk. Mereka mabuk sejak sore hingga pagi, sehingga mereka sedang dalam suasana kelaparan. Tiba-tiba seorang pemabuk mengambil paksa bakul pisang goreng yang ada di tangan anak kecil itu dan memakannya hingga habis. Anak itu menangis, karena sudah pasti orang tuanya akan memarahinya. 

Ketika sedang menangis, datanglah seorang pemuda dan bertanya kepada anak itu, “Kenapa kamu menangis?” 
 Jawab anak itu, “Orang-orang mabuk ambil pisang goreng yang saya jual dan mereka memakannya. Kalau saya pulang ke rumah nanti bapak dan mama marah saya. Saya takut.”
“Harga pisang goreng semuanya berapa?” tanya pemuda itu.
“Harganya dua puluh ribu, om,” jawab anak itu.
Pemuda itu mengambil uang Rp 20.000 dari sakunya dan menyerahkan kepada anak itu sambil berkata, “Sudah, jangan menangis. Ambil uang ini dan nanti kasih sama bapak dan mama di rumah.”

Anak itu kaget karena tak membayangkan akan diberi uang sebanyak itu, apalagi dari orang yang tidak dia kenal. Tetapi sambil mengusap air mata dan mengambil uang itu anak itu bertanya, “Om, om Tuhan Yesuskah?”
Jawab pemuda itu, “Ah, tidak. Saya hanya teman Tuhan Yesus.”

Anak itu pada saat yang sama menghadapi dua sikap manusia yang berbeda dan sangat kontras satu sama lain. Pertama dia menghadapi jenis manusia yang jahat, yang memenderitakan dia. Sehingga kemudian dia terancam untuk dapat marah dari kedua orang tuanya setelah pulang ke rumah. Tetapi tidak lama kemudian dia menjumpai jenis manusia yang baik, yang menolong dia dari penderitaan dan kesusahan yang sedang dialaminya. Dia diselamatkan dari amarah orang tuanya yang kemungkinan akan dihadapinya setelah pulang ke rumah.

Zaman sekarang sangat susah untuk menjumpai orang yang baik. Makin lama dunia ini makin banyak orang jahat dan makin sedikit orang baik. Sekarang jarang ada orang yang peduli dengan penderitaan orang lain. Bahkan orang justru gemar merampas segala hak asasi orang lain. Kejahatan semakin hari menjadi sebuah kebiasaan yang dianggap wajar. Orang yang gemar melakukan kejahatan pun dianggap wajar sebagai manusia normal, dengan alasan “manusia punya kelemahan”. Sehingga dimana-mana kejahatan merajalela.

Dalam situasi seperti itu, jika masih ada orang-orang baik yang menunjukkan kebaikannya melalui tindakan-tindakan kemanusiaan, maka dianggap sebagai sebuah tindakan yang luar biasa. Dan tentu orang yang dibantu pun akan merasa sebuah keanehan seperti anak kecil tadi. Makanya tak heran jika ada orang-orang baik di zaman sekarang justru dianggap sebagai “Tuhan Yesus”, karena zaman sekarang memang sangat susah menemukan orang yang baik. Bagi orang-orang yang susah dan menderita, orang-orang yang bertindak baik kepadanya ibarat jelmahan Tuhan Yesus di dunia ini, karena Tuhan Yesus sendirilah yang dianggap hadir dalam suasana kejahatan yang merajalela di dunia ini. 

(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI