Berita Terbaru :
Home » , , » Masalah dan Solusi Kepemimpinan di Kabupaten Dogiyai

Masalah dan Solusi Kepemimpinan di Kabupaten Dogiyai

Written By Odiyai Wuu on Rabu, 27 April 2016 | 20.42

Yakobus Odiyaipai Dumupa
Mencermati kondisi pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai, banyak kalangan berpendapat mengenai dua hal. Pertama, kondisi pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai tidak berjalan dengan baik dan benar, bahkan terindikasi mengalami kegagalan. Dan kedua, kondisi pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat yang demikian disebabkan oleh krisis kepemimpinan dalam Pemerintahan Kabupaten Dogiyai. Apakah kedua pendapat ini benar? Saya yakin mayoritas orang Dogiyai akan mengakui kebenaran kedua pendapat ini. Dan saya sendiri berpendapat bahwa ini benar.

Jika prinsip-prisip pelayanan publik (masyarakat) prima dijadikan patokan untuk menilai bagaimana proses pelayanan pemerintahan di Kabupaten Dogiyai, maka hal itu jauh dari harapan sebagaimana mestinya. Proses pelayanan pemerintahan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan terkesan berjalan, tetapi justru menyimpang dari prinsip-prinsip pelayanan publik (masyarakat) yang prima tersebut. Begitu pula proses pembangunan masyarakat. Proses pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai dijalankan tanpa ada arah ideologi, rujukan, dan model yang jelas, baik dan benar. Pembangunan masyarakat berjalan secara parsial dengan mengedepankan hal-hal yang bersifat “tradisi teknis-adminitratif” dan mengabaikan hal-hal yang substansi-esensial. Lebih ironisnya lagi, baik proses pelayanan pemerintahan maupun pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai dilakukan semata-mata untuk “menyerap anggaran” (menghabiskan uang) yang dianggarkan selama satu tahun. Jadi tujuannya menghabiskan uang, bukan melayani dan membangun masyarakat.


Mengapa hal semacam ini terjadi? Ada dua penyebab utama. Pertama, ketidakpahaman. Harus diakui secara jujur bahwa banyak penyelenggara politik dan pemerintahan di Kabupaten Dogiyai yang tidak paham mengenai prinsip pelayanan prima dan proses pembangunan masyarakat. Kedua, ketidakmampuan memimpin. Perlu diakui secara jujur pula bahwa banyak penyelenggara politik dan pemerintahan di Kabupaten Dogiyai yang tidak punya kemampuan yang memadai untuk memimpin masyarakatnya. Kedua hal ini saling melengkapi dan menghasilkan kegagalan proses pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai selama ini.


Bagaimana solusinya? Banyak orang selalu menyampaikan berbagai usulan solusi selama ini. Semua usulan itu baik, tetapi tidak mendasar dan cenderung parsial. Saya berpendapat, solusinya adalah “potong generasi”. Masalah utama adalah “krisis kepemimpinan”, karena itu generasi pemimpin yang telah gagal memimpin Dogiyai harus dipotong dan digantikan oleh generasi yang baru, yani generasi muda yang lebih rasional dan progresif. Proses kepemimpinan dalam pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai harus diambilalih oleh anak muda. Saya yakin banyak anak muda Dogiyai yang telah mempunyai kemampuan yang memadai untuk memimpin proses pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai, hanya saja belum mendapat kesempatan untuk memimpin.

Sejak Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Dogiyai periode pertama hingga mau memasuki periode kedua ini, saya masih berpendapat dan berprinsip bahwa “Bupati Dogiyai harus anak muda”. Pendapat dan prinsip saya ini berasal dari iman dan keyakinan saya bahwa anak muda jauh lebih baik dibanding generasi tua dalam memimpin proses pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat di Kabupaten Dogiyai. Saya berharap seraya berdoa kepada Tuhan, semoga momentum Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Dogiyai tahun 2017 melahirkan “pemimpin muda” Dogiyai yang hebat, yang dikehendaki oleh Tuhan.

(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI