Berita Terbaru :
Home » , » Ketika Yang Sakral Diterobos Dan Dihancurkan

Ketika Yang Sakral Diterobos Dan Dihancurkan

Written By Odiyai Wuu on Selasa, 19 April 2016 | 23.06

Tanah Sakral (Ilustrasi)
Pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta di Papua (yang sebelumnya sudah dilakukan di wilayah Indonesia lainnya) sungguh-sungguh biadab. Apa masalahnya? Dari sekian banyak masalahnya, salah satunya karena pembangunan itu tak memperhatikan aspek “kesakralan” tempat dimana sebuah proyek pembangunan itu dilakukan. Lihat saja, hampir semua suku di Papua mempunyai tempat-tempat sakral di wilayahnya masing-masing, tetapi ketika proyek pembangunan infrastruktur dilakukan, tempat-tempat itu diterobos dan dihancukan. Dengan begitu nilai dan simbol kesakralannya hancur dan lenyap.

Oleh banyak pihak, terutama kaum modernis beranggapan bahwa tempat-tempat sakral justru menghambat pembangunan, sementara kaum agamawan (konservatif) dan penganut agama yang cenderung memahami agama secara tekstual Kitab Suci beranggapan bahwa tempat-tempat sakral itu adalah “kerajaan setan” (wujud penyembahan berhala). Anggapan-anggapan seperti ini yang semakin menyuburkan penerobosan dan penghancurkan tempat-tempat sakral. Semuanya itu, katanya, demi pembangunan (modernisasi) dan demi “penegakan” iman kepada Allah.

Jika demikian, sebagai anggota dari komunitas suku dan adat tertentu, apa yang harus dibanggakan lagi? Tempat mana lagi yang akan menjadi bukti dan simbol dari sejarah dan eksistensi suku tertentu di kemudian hari? Apakah pembangunan infrastruktur wajib hukumnya menghancurkan tempat-tempat sakral? Apakah percaya dan mengimani Tuhan harus dilakukan dengan menghancurkan tempat-tempat sakral? Apakah nilai sesakralan tempat tertentu tidak penting bagi manusia? Apakah benar Tuhan melarang dan memerintahkan untuk menerobos dan menghancurkan tempat-tempat sakral demi modernisasi dan “penegakan” iman? Bukankah penerobosan dan penghancuran tempat-tempat sakral justru berkontribusi dan mempercepat proses penghancuran kehidupan dan bumi?

Jika tempat-tempat sakral sudah dianggap tidak penting lagi, maka marilah kita menerobos dan menghancurkan tampat-tempat sakral lainnya juga. Menerobos dan menghancurkan monumen peringatan Pepera di APO, Jayapura. Menerobos dan menghancurkan patung Yos Sudarso di Taman Imbi, Jayapura. Menerobos dan mengahancurkan tugu peringatan Injil masuk di tanah Papua di pulau Mansinam, Manokwari. Menerobos dan mengahancurkan “hutan kota” yang baru dibangun di terminal lama (depan Kantor Pos), Jayapura. Dan menerobos dan mengancurkan tempat-tempat sakral lainnya. Bukankah semuanya ini juga tempat sakral?
(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI