Berita Terbaru :
Home » , , » Cita-Cita“Berdikari” Yang Tak Kunjung Terwujud

Cita-Cita“Berdikari” Yang Tak Kunjung Terwujud

Written By Odiyai Wuu on Minggu, 10 April 2016 | 22.05

Akhir-akhir ini Pemerintah gemar mengklaim dan mengkampanyekan bahwa perekonomian Indonesia berkembang dengan pesat. Indikator yang sering digunakan adalah “angka” pertumbuhan ekonomi yang menurut Pemerintah terus meningkat dari tahun ke tahun. Angka-angka pertumbuhan ekonomi yang gemar dipamerkan oleh Pemerintah ini membuat banyak orang di Indonesia dan sejumlah pihak internasional terkesima. Mereka berkesimpulan bahwa rakyat Indonesia semakin sejahtera. 

Pertanyaannya, apakah benar angka-angka pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat ini menjadi indikator meningkatnya kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia? Jawaban atas pertanyaan ini perlu diperdebatkan. Tetapi secara kasat mata jika melihat fakta kondisi perekonomian rakyat Indonesia, jawabannya adalah pertumbuhan ekonomi sesungguhnya bukan indikasi makin meningkatnya kesejahteraan rakyat Indonesia. Alasannya sederhana saja, yaitu sebagian besar aset dan pendapat ekonomi hanya dinikmati segelintir orang. Sementara mayoritas rakyat tidak punya aset dan akses terhadap sumber daya ekonomi. Akhirnya, terjadilah fenomena: 1 persen warga negara makin makmur, sementara 99 persen warga negara hidup pas-pasan bahkan berkekurangan.

Dalam pidato peringatan HUT RI 17 Agustus 1965, Soekarno pernah mendengungkan, bahwa bangsa Indonesia harus “berdikari” (berdiri di atas kaki sendiri) dalam bidang ekonomi. Sementara Mohammad Hatta pernah mengatakan bahwa, “Dalam suatu Indonesia Merdeka yang dituju, yang alamnya kaya dan tanahnya subur, semestinya tidak ada kemiskinan. …Kemerdekaan nasional tidak ada artinya, apabila pemerintahannya hanya duduk sebagai biduanda dari kapital asing.” Kedua proklamator kemerdekaan Indonesia ini punya cita-cita yang yang luhur, yaitu kehidupan yang sejahtera untuk seluruh rakyat Indonesia dengan tidak menggantungkan diri kepada pihak lain, yakni kapitali(me) yang mereka tentang semasa hidupnya sebagai pihak yang mengekspolitasi (dengan rakus) kekayaan alam negara lain dan memiskinkan rakyatnya.

Cita-cita mulia kedua proklamator ini nampaknya tak kunjung terwujud hingga sekarang. Buktinya, masih banyak rakyat Indonesia yang hingga hari ini hidup di bawah garis kemiskinan, pembangunan yang tidak merata, dominasi penguasaan sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomi yang strategis oleh asing, kemakmuran yang hanya dinikmati oleh segelintir orang, pengangguran yang makin meningkat dari waktu ke waktu, dan banyak hal lainnya. Terhadap semuanya ini pemerintah terkesan apatis dan membiarkan rakyatnya makin menderita, sementara di sisi lain membiarkan kapitalis(me) menguasai dan mengendalikan perekonomian Indonesia. Segala potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia untuk dikelola dan/atau memacu peningkatan kesejahteraan rakyatnya seperti kekayaan alam yang melimpah, letak geopolitik yang strategis, sumberdaya manusia yang cukup unggul dan tersedia, dan berbudaya luhur nampaknya sia-sia belaka.

Walaupun Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara merdeka dengan cita-cita yang mulia oleh kedua proklamator, yang salah satunya adalah “berdikari di bidang ekonomi”, tetapi faktanya bangsa ini masih berada di dalam penjajahan kapitalis(me). Bangsa ini tidak lagi berdiri di atas kaki sendiri, tetapi justru berdiri di kaki pihak asing walaupun di negaranya sendiri. Bangsa ini tak berdaya mengelola segala potensinya sendiri, tetapi justru mengemis dan diberi makan oleh bangsa lain atau kapitalis(me). Lalu kapan kesialan, kemalangan, ketidakberdayaan dan penderitaan ini akan berakhir? 

(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI