Berita Terbaru :
Home » , » Mengenang “Surga Yang Hilang” dan Menghargai “Para Pencipta Surga”

Mengenang “Surga Yang Hilang” dan Menghargai “Para Pencipta Surga”

Written By Odiyai Wuu on Selasa, 29 Maret 2016 | 20.12

Heaven (Ilustrasi)
Ada banyak orang Kamuu dan Mapiha atau orang di luar kedua wilayah ini yang sering mengatakan, “Mowanemani bagus sekali sebelum pemekaran Kabupaten Dogiyai. Ibu kota kecamatan yang bersih, rapi, dan indah. Tapi setelah pemekaran Kabupaten Dogiyai semuanya berubah menjadi kotor dan kumuh. Kehidupan juga kacau balau. Banyak pemabukan, perjudian, dan pelacuran. Orang Iyowoya juga datang tambah banyak dan bikin kacau. Kehidupan ekonomi juga semakin susah. Sekarang semua hancur.” 
 
Pendapat ini juga sesungguhnya menggambarkan kondisi umum keseluruhan wilayah Kamuu dan Mapiha saat itu. Kampung-kampung di kedua wilayah ini sangat bersih, rapi, dan indah walaupun insfrastruktur dasar dan insfrastruktur umumnya sangat terbatas. Selain itu, keserasian dan keteraturan sosial pun terjaga dengan baik, dengan menjadikan nilai-nilai adat warisan leluhur sebagai pondasi kehidupan, selain nilai agama dan aturan perundang-undangan (nilai yang ditawarkan oleh negara, dimana yang terkenal adalah “nilai moral Pancasila”). Kondisi perekonomian pun cukup stabil. Sekalipun rata-rata warga masyarakat tergolong miskin (yang hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga dan berdagang secara terbatas), tetapi nuansa “kebahagiaan” (sebab tujuan hidup adalah “untuk bahagia”) sangat terasa, sebab mereka mampu mengelola sumberdaya alamnya dengan budaya “ekowai” (kerja) yang mereka anut secara turun-temurun dari keluhurnya.
 
Rasanya saat itu “surga hadir di bumi”. Sampai sekarang banyak orang Kamuu dan Mapiha yang merindukan kehidupan itu. Banyak orang yang pernah hidup pada zaman itu sering mengeluh, “Kita hidup seperti dulu boleh, waktu sebelum ada Kabupaten Dogiyai.” Ya, mau bagaimana lagi? Tak ada yang abadi di dunia ini, selain perubahan itu sendiri. Semuanya akan berubah, entah baik atau buruk. Itulah kehidupan.
 
Kalau wilayah Kamuu dan Mapiha sebelum pemekaran Kabupaten Dogiyai menjadi “surge di bumi”, apakah kondisi surga itu tercipta dengan sendirinya? Tak ada yang jatuh begitu saja dari langit. Ada orang yang menciptakannya atas kehendak dan pertolongan Allah. Mereka yang pernah menciptakan “surga” di wilayah Kamuu dan Mapiha itu adalah para guru, perawat (suster dan mantri), pegawai kecamatan, pegawai DPU, pegawai pertanian, pegawai peternakan, pegawai perikanan, agamawan/agamawati (pastor, pendeta, katekis, gembala, ketua majelis, ketua BPGS, diakon, dan biarawati), petugas/agen penerbangan (AMA, MAF, dan Merpati), karyawan YP5 Mowanemani (beserta peserta didiknya), petugas keamanan warga sipil (HANSIP, KAMRA, dan WANRA), kepala suku, kepala desa, mantan polisi/tentara Belanda, tokoh adat/tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan. Banyak dari mereka telah meninggal dan berpulang kepada Sang Khalik di Nirwana, tetapi mereka telah meninggalkan tiga warisan berharga, yakni (1) potret kehidupan “surge di bumi”; (2) keteladanan hidup; dan (2) anak dan cucu.
 
Bagaimana sekarang? Tergantung bagaimana kita menanggapinya. Menurut saya ada tiga hal yang penting.
Pertama, belajar dan contohi dari “para pencipta surga”. Fakta sejarah telah membuktikan bahwa mereka pada masanya (dengan segala dinamika kehidupannya) telah menciptkan kehidupan “surga di bumi” wilayah Kamuu dan Mapiha. Mereka berhasil karena (1) kecintaannya kepada sesamanya dan tanah airnya, (2) kecintaan kepada talenta dan pekerjaannya, dan (3) kecintaan kepada Tuhannya. Rasa cinta itulah yang mendorong mereka untuk tekun bekerja dengan berlandaskan pada nilai adat yang luhur, nilai agama, dan aturan perundang-undangan (nilai yang ditawarkan oleh negara, dimana yang terkenal adalah “nilai moral Pancasila”). Orang Kamuu dan Mapiha sekarang harus belajar dari mereka. Orang Kamuu dan Mapiha sekarang harus contohi mereka. Kecintaan dan ketekunan mereka dalam bekerja harus menjadi salah satu landasan hidup yang penting dalam berkarya menciptakan “surga di bumi” Kabupaten Dogiyai kedepan.
 
Kedua, menjadikan anak dan cucu “para pencipta surga” sebagai “pencipta surga baru” di Kabupaten Dogiyai. Ada sebuah peribahasa yang berbunyi, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Artinya, sifat anak tidak jauh berbeda dengan ayah atau ibunya. Rata-rata anak dan cucu dari “para pencipta surga” di wilayah Kamuu dan Mapiha pasti mewarisi sifat ayah dan ibunya (walaupun perlu diakui bahwa sebagiannya justru menjadi “korban zaman” karena sudah hidup tidak sesuai dengan ajaran dan keteladanan orang tuanya). 
 
Salah satu sifatnya yakni kecintaan dan ketekunan dalam bekerja yang dipelajari sejak kecil dari ayah dan ibunya. Karena itu, potensi besar yang dimiliki oleh anak cucu dari “para pencipta surga” ini harus dimanfaatkan dengan baik sekarang. Pemerintah Kabupaten Dogiyai harus memberi mereka ruang dan waktu secara maksimal untuk kekerja menciptakan “surga baru di bumi” Kabupaten Dogiyai, entah sebagai aparatur sipil negara (ASN), wiraswasta, atau pekerjaan apapun yang positif. Ini terkesan diskriminasi, tetapi inilah yang disebut sebagai “diskriminasi positif” untuk kebaikan bersama yang lebih besar.
 
Ketiga, menghargai dan menghormati “para pencipta surga di bumi”. Menghargai dan menghormati seseorang dan karyanya adalah tindakan yang mulia, walaupun tidak semua orang ingin dihargai atas kehebatan dan karyanya bagi banyak orang. Walaupun demikian, alangkah baiknya kita menghargai dan menghormati “para pencipta surga” di wilayah Kamuu dan Mapiha. Kepada mereka yang masih hidup, setidaknya pemerintah memberi pengharhargaan tertentu. Penghargaan tidak harus dalam bentuk barang, tetapi juga boleh dalam bentuk meminta pendapat atau nasehat untuk melayani dan membangun Kabupaten Dogiyai kedepan. Kepada mereka yang telah meninggal selain penghargaan diberikan kepada keluarganya, tetapi setidaknya juga namanya diabadikan. Misalnya dalam bentuk nama sarana insfrastruktur (nama jalan, nama gedung, nama lapangan terbang, nama terminal, nama pasar, dan lainnya), buku biografi, syair lagu, dan lainnya. Selain itu, mereka juga harus didoakan terus-menerus di mana saja atas karyanya. Ini wujud penghargaan dan penghormatan kepada mereka.
 
Mengakhiri tulisan ini, saya hendak mengutip kata-kata ayah saya, yang saya nilai sebagai salah satu dari sekian banyak “pencipta surge” di wilayah Kamuu dan Mapiha, sebab beliau menghabiskan setengah masa tugasnya di Apogomakida (Mapiha/Papisa/Pihaihe/Pisaise) dan setengah masa tugasnya di Mowanemani, Pugatadi, dan Idakebo (Kamuu) sebagai guru sekolah dasar, kemudian menjadi Kapala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk wilayah Kamuu, dan terakhir pensiun sebagai pengawas sekolah dasar di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Dogiyai. Beliau selalu mengatakan kepada saya begini, “Saya dilahirkan untuk menjadi guru, karena itu adalah latenta dan kehendak Tuhan Allah. Sebagai guru, saya sudah mendidik dan mengajar banyak orang Mapiha dan orang Kamuu. Sekarang mereka banyak yang sudah menjadi orang besar atau pejabat, entah dimana saja, termasuk di Kabupaten Dogiyai. Sebagai seorang guru yang pernah mendidik dan mengajar mereka, saya hanya berharap semoga mereka menjadi berkat bagi banyak orang. Mereka harus melayani dan membangun masyarakat dengan baik dan benar. Mereka harus hidup dan bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan Allah, karena nanti Tuhan Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada kita masing-masing atas talenta yang Dia berikan.” 
 
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI