Berita Terbaru :
Home » » Kita Tidak Bisa Menjadi Segalanya, Segalanya Tidak Bisa Menjadi Milik Kita

Kita Tidak Bisa Menjadi Segalanya, Segalanya Tidak Bisa Menjadi Milik Kita

Written By Odiyai Wuu on Minggu, 27 Maret 2016 | 09.16


(Catatan Renungan PASKAH 2016)

Adolf Hitler (20 April 1889 - 30 April 1945) adalah seorang politisi Jerman dan ketua Partai NAZI. Ia menjabat sebagai Kanselir Jerman (1933-1945) dan diktator Jerman (NAZI) dengan gelar “Fuhrer und Reichskanzler” (1934-1945). Hitler menjadi terkenal sampai sekarang karena ambisinya dan tindakan yang luar biasa selama beliau berkuasa. Dua tindakan yang luar biasa adalah (1) keterlibatan Jerman dalam Perang Dunia II di Eropa dan (2) Holocaust, pembantaian orang Yahudi di Jerman dan sekitarnya. Selain itu, Hitler juga mempunyai cita-cita yang mencegangkan untuk menguasai Eropa (bahkan dunia), dengan menjadikan bangsa Arya sebagai bangsa nomor satu di dunia dan menjadikan bangsa lain takluk dibawah kekuasaan mereka.

Apakah cita-cita Adolf Hitler tercapai? Walaupun beliau cukup berhasil melakukan berbagai tindakan untuk mewujudkan ambisi dan cita-citanya, tetapi tidak berhasil menaklukan dunia di bawah kendali bangsa Arya. Pada tanggal 30 April 1945 beliau dan istrinya bunuh diri agar tidak tertangkap oleh tentara Angkatan Darat Merah (angkatan bersenjata Uni Soviet) dan mayatnya dibakar. Tetapi sumber lain menyebutkan bahwa Hitler melarikan diri keluar dari Jerman dan disebut-sebut menetap dengan cara menyamar di Indonesia atau di Argentina. Kematian dan/atau (mungkin) kepergiannya akhirnya mengakiri kekuasaan NAZI dan ambisinya untuk menaklukan dan menguasai Eropa (dunia).

Saya sering membayangkan, andaikan saya berada di salah satu bintang di luar angkasa dan menyaksikan seluruh isi jagat raya, maka betapa tidak berartinya saya. Saya seperti sebutir debu di tengah luasnya jagat raya yang tak terhingga. Saya seperti makluk terasing di tengah kemegahan jagat raya yang spektakuler. Saya seperti manusia yang tak berarti apa-apa di tengah keagungan ciptaan Allah. Bumi yang dianggap luas dan istimewa pun tidak punya arti apa-apa. Seleuruh kehebatan dan kemegahan bumi tertelan dalam kemegahan dan keluasan jagat raya. Bumi hanya seperti sebutir pasir di tengah hamparan bintang-gemintang di jagat raya.

Banyak hal dapat kita pelajari dari kehidupan Adolf Hitler, terutama tindakan, ambisi, dan cita-citanya. Banyak hal pula dapat kita pelajari dari apa yang pernah saya bayangkan mengenai eksistensi jagat raya dan kehidupan.

Pelajaran pertama, bahwa sesunggunya tak ada yang abadi di dunia ini. Kita sedang hidup di dunia yang fana, dimana semua yang ada akhirnya akan menjadi tiada. Bumi hanya tempat persinggahan, dari tiada menuju tiada untuk mencapai “ke-ada-an” di akhirat dalam dimensi yang lain. 

Pelajaran kedua, setiap manusia tidak bisa menjadi segalanya, segalanya tidak bisa menjadi miliknya. Sehebat apapun manusia, dibatasi oleh ruang dan waktu kehidupan di dunia. Kita boleh mempunyai ambisi dan cita-cita yang hebat, tetapi kita tidak dapat menjadi segalanya dan segalanya tidak bisa menjadi milik kita. Kita hanya bisa menjadi diri kita sendiri apa adanya dan kita hanya bisa menguasai dan/atau memiliki bagian kecil dari kebesaran dinamika kehidupan.

Pelajaran ketiga, hanya Allah yang hebat dan abadi. Hanya Allah sajahlah yang menjadi segalanya dan segalanya menjadi milik-Nya. Kita hanya bagian terkecil dari milik-Nya, yang eksistensi kita tergantung belaskasihan-Nya. Dialalah yang mengatur segalanya, karena Dia adalah segalanya dalam keabadian.
Pelajaran keempat, dari kefanaan menuju keabadian. Kita sedang hidup di dunia yang fana, tetapi kita bisa menjadi abadi di akhirat atas kehendak Allah, Sang Abadi, dalam dimensi yang lain. Untuk itu, dalam usia hidup yang pendek di dunia, kita harus mempersiapkan diri memasuki keabadian di akhirat. Caranya, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Manusia sebagai satu-satunya makluk yang paling sempurna dari seluruh makluk yang diciptakan Allah, harus belajar dari eksistensi kehidupan. Belajar dari dirinya, belajar dari sesama manusianya, belajar dari makluk hidup lainnya, belajar dari benda mati, belajar dari jagat raya, dan akhirnya belajar dari Allah sendiri sebagai “yang menjadi segalanya dan segalanya menjadi milik-Nya”. Dengan belajar, kita akan tahu, kita akan paham, dan kita akan sadar untuk menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan begitu, kitapun kelak layak hidup dalam keabadian bersama Allah, Sang Abadi, di Nirwana.

Selamat Paskah.
(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI