Berita Terbaru :
Home » , » Bagaimana Kita Menilai Diri Kita Sendiri dan Orang Lain?

Bagaimana Kita Menilai Diri Kita Sendiri dan Orang Lain?

Written By Odiyai Wuu on Selasa, 29 Maret 2016 | 20.03

who am I and who are you (Ilustrasi)
Setiap orang secara alami mempunyai kebebasan untuk berasa, berpikir, berkata, dan berbuat. Kebebasan itu lahir satu paket dengan jasmani setiap orang di dunia. Bagaimana mungkin kita mau melarang perasaan orang? Bagaimana mungkin kita mau melarang pikiran orang? Bagaimana mungkin kita mau melarang perkataan orang? Bagaimana mungkin kita mau melarang perbuatan orang? Sekalipun karena kepentingan tertentu, kadangkala berbagai pihak selalu melarang orang lain untuk berasa, berpikir, berkata, dan berbuat hal-hal tertentu, tetapi hal itu tidak serta-merta dapat menghentikan perasaan, pikiran, perkataan, dan perbuatannya secara permanen. Ia ibarat membendung mata air; semakin dibendung, ia akan mencari jalan untuk merembes keluar.

Karena kebebasan alami itu, maka setiap orang juga mempunyai kebebasan untuk merespon kehidupan. Salah satu responnya adalah “menilai orang”. Dalam menilai orang, setiap orang mempunyai patokan atau standar tertentu untuk menentukan dua hal, yakni baik dan/atau buruk seseorang. Ada orang tertentu yang menjadikan perasaan orang lain sebagai patokan untuk menilai dan menentukan baik atau buruknya orang tersebut. Ada orang tertentu yang menjadikan pikiran orang lain sebagai patokan untuk menilai dan menentukan baik atau buruknya orang tersebut. Ada orang tertentu yang menjadikan perkataan orang lain sebagai patokan untuk menilai dan menentukan baik atau buruknya orang tersebut. Dan ada orang tertentu yang menjadikan perbuatan orang lain sebagai patokan untuk menilai dan menentukan baik atau buruknya orang tersebut. Tetapi ada juga orang tertentu yang menjadikan beberapa atau keseluruhan elemen tersebut sebagai patokan untuk menilai dan menentukan baik atau buruknya orang tersebut.

Patokan mana yang benar? Tergantung masing-masing orang. Tetapi ada dua kecenderungan menarik dalam menentukan patokan untuk menilai orang, yakni (1) kita menjadikan diri kita (kebiasaan dan kemampuan kita) sebagai patokan untuk menilai orang lain; dan (2) kita menjadikan pengalaman kita dengan orang lain sebagai patokan untuk menilai orang tersebut atau orang lain.

Jika kita menjadikan diri kita (kebiasaan dan kemampuan kita) sebagai patokan untuk menilai orang lain, maka kita cenderung menilai orang lain misalnya sebagai berikut: (1) kalau saya adalah orang yang suka menahan perasaan dan cenderung diam, maka saya akan menilai orang lain yang berperilaku seperti saya adalah orang baik, tetapi sebaliknya orang buruk; (2) kalau saya adalah orang yang cenderung banyak berpikir, maka saya akan menilai orang lain yang berperilaku seperti saya adalah orang baik, tetapi sebaliknya orang buruk; (3) kalau saya adalah orang yang cenderung banyak berbicara, maka saya akan menilai orang lain yang berperilaku seperti saya adalah orang baik, tetapi sebaliknya orang buruk; (4) kalau saya adalah orang yang cenderung banyak berbuat, maka saya akan menilai orang lain yang berperilaku seperti saya adalah orang baik, tetapi sebaliknya orang buruk.

Jika kita menjadikan pengalaman kita dengan orang lain sebagai patokan untuk menilai orang tersebut atau orang lain, maka penilaiannya tergantung bagaimana pengalaman kita. Jika kita punya pengalaman baik dengan orang lain, entah dalam berperasaan, berpikir, berkata, dan berbuat, maka kita akan menilai orang tersebut baik. Sebaliknya, jika kita punya pengalaman buruk dengan orang lain, entah dalam berperasaan, berpikir, berkata, dan berbuat, maka kita akan menilai orang tersebut buruk. Hal seperti inipun bisa kita jadikan sebagai patokan untuk menilai orang lain yang sesungguhnya tidak punya pengalaman langsung dengan kita. Dan penilaian seperti ini bisa berubah-ubah terhadap orang yang sama atau orang yang berbeda, tergantung dinamika dari pengalaman kita. 

Selain dua kecenderungan tersebut, masih ada “patokan aneh”, yakni menilai orang karena rasa amarah, benci, dendam, dan iri hati. Sebaik apapun orang lain, orang akan menilainya buruk. Perasaan, pikiran, perkataan, dan perbuatannya selalu dianggap buruk. Padahal orang yang menilai justru lebih buruk dari orang yang dinilainya. Ini penilaian munafik.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menilai baik dan buruknya diri kita sendiri dan orang lain? Ada empat hal penting. Pertama, kita harus mampu menilai diri kita sendiri dulu, apakah kita baik atau buruk, sebelum kita menilai orang lain. Kedua, kita harus menilai diri kita maupun orang lain dari keseluruhan (totalitasnya), baik perasaan, pikiran, perkataan, maupun perbuatan secara utuh, obyektif, dan rasional. Ketiga, kebaikan ataupun keburukan diri kita maupun orang lain itu relatif, tak selamanya baik dan tak selamanya buruk. Dan keempat, jangan menilai orang lain dengan berpatokan pada rasa amarah, benci, dendam, dan iri hati.

Tak ada manusia yang sempurna. Hanya Allah yang sempurna. Tetapi kita dapat berjuang terus-menerus untuk mendekati kesempurnaan. Marilah kita menggunakan kebebasan yang kita miliki untuk menilai diri kita sendiri dan orang lain secara keseluruhan, obyketif, dan rasional agar kita dapat memperbaiki diri kita sendiri dan orang lain untuk “kebaikan bersama” di dunia maupun akhirat.

(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI