Berita Terbaru :
Home » , » Apakah Injil Sudah Masuk Di Tanah Papua?

Apakah Injil Sudah Masuk Di Tanah Papua?

Written By Odiyai Wuu on Sabtu, 06 Februari 2016 | 03.10

Foto : Salib Mansinam (Manokwari) Papua Barat
Sebagaimana sudah menjadi tradisi, hari ini pulau Mansinam, Manokwari dipadati oleh ratusan hingga ribuan orang. Mereka berdatangan dari sejumlah wilayah di Papua, maupun dari luar Papua dan sebagiannya dari mancanegara. Tujuan mereka hanya satu; merayakan Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua. Sesuai catatan sejarah, pada 5 Februari 1855, dua orang misionaris; C.W. Ottow dan J.G. Gaissler tiba di pulau Mansinam, Tanah Papua. Tanggal tibanya mereka di pulau Mansinam inilah yang sering diperingati sebagai Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua atau Hari Masuknya Injil di Tanah Papua setiap tahun.

Di tengah hiruk-pikuk perayaan Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua ini, jika saya mengajukan pertanyaan; apakah Injil sudah masuk di Papua? Pasti ada dua jawaban. Pertama, sebagian orang akan menjawab bahwa Injil memang sudah masuk di Papua, buktinya kini hampir semua orang Papua telah menganut agama Kristen (Protestan dan Katolik) dan pada hari ini momentumnya masuknya Injil di Tanah Papua itu sedang diperingati. Kedua, sebagian orang akan mengatakan bahwa pertanyaan seperti ini pertanyaan yang tak masuk akal; saya pasti akan dianggap bodoh atau gila, karena saya (dianggap) sudah tahu tetapi pura-pura tidak tahu dan bertanya (seperti orang gila dan bodoh). Apapun jawaban orang, saya sengaja mengajukan pertanyaan ini sebagai pertanyaan refreksi atas peringatan 161 tahun Injil masuk di Papua, yang diperingati pada hari ini.

Injil memang sudah di Papua 161 tahun yang lalu. Tetapi apakah Injil telah masuk ke dalam hati nurani orang Papua? Apakah kehidupan orang Papua (yang telah beragama Protestan dan Katolik) sudah sesuai dengan ajaran Injil? Apakah orang Papua cukup beragama Protestan dan Katolik saja, sementara hidupnya tidak sesuai dengan ajaran Injil? Apakah orang dan kehidupan seperti ini pantas disebut orang Kristen dan kehidupan Kristiani? Mari kita lihat tiga fakta yang menarik.

Fakta pertama, masalah kelembagaan agama. Kebanyakan lembaga-lembaga agama Kristen (terutama Protestan) di Papua mengalami masalah yang serius, terutama perpecahan sinode sejumlah dedominasi gereja. Masing-masing kelompok, suku dan komunitas tertentu ramai-ramai memekarkan sinode yang ada dan membentuk sinode yang baru. Dalam sejumlah kasus, perpecahan itu bermaksud positif untuk lebih “mempapuakan” lembaga gereja, seperti yang dilakukan oleh Kingmi Papua, tetapi sebagian besar lainnya cenderung karena perebutan “jabatan” dan “finansial”. Akibatnya, jemaatnya bingung dan terpecah-pecah mengikuti perpecahan para elit gereja. Sementara di kalangan agama Katolik terjadi dominasi kelompok tertentu dalam lembaga gereja (Keuskupan), seperti dominasi orang Key, Timor, Manado, dan Jawa (mulai uskup sampai tukang sapu).

Fakta kedua, masalah maraknya dosa. Kebanyakan orang Kristen (Protestan maupun Katolik) di Papua sebenarnya tidak hidup sesuai dengan ajaran Injil. Walaupun mereka menganut agama Protestan dan Katolik tetapi kehidupan sehari-harinya tidak menggambarkan dirinya sebagai orang beragama. Memang sebagai manusia berbuat dosa adalah hal yang wajar, tetapi yang menjadi masalah adalah jika manusia membenarkan perbuatan (dosanya) dengan berlindung di balik ajaran Injil. Banyak orang Kristiani yang gemar beribadah, mengadakan kegiatan keagamaan, dan dimana-mana mengaku-ngaku diri sebagai orang Kristen, tetapi pada saat yang sama mereka gemar melakukan tindakan korupsi, mabuk-mabukan, pelacuran, penindasan dan pembunuhan, dan dosa-dosa lainnya.

Fakta ketiga, masalah tokoh agama. Kebanyakan tokoh agama sekarang cenderung tidak konsisten dan tidak mencerminkan dirinya sebagai “hamba Tuhan” (sebagaimana mereka gemar menyebut dirinya seperti itu). Kebanyakan hamba Tuhan cenderung menjadi “hamba kekuasaan” dengan gemar melakukan persekongkolan dengan pihak-pihak penguasa lainnya seperti pemerintah, TNI, POLRI, pengusaha, dan pihak lainnya. Dengan titelnya sebagai “hamba Tuhan” mereka gemar merayu dan menipu umatnya agar para penguasa dengan leluasa menjalankan tindakan bejatnya yang sebenarnya tidak diperbolehkan oleh Injil.

Dengan adanya tiga fakta ini, maka wajar saja jika saya (dan tentu sejumlah orang lainnya) merasa perlu untuk mengajukan pertanyaan (yang mungkin dianggap tak masuk akal), apakah Injil sudah masuk di Papua? Memang Injil sudah masuk di Papua 161 tahun yang lalu, tetapi sayangnya sepanjang itu kebanyakan orang Papua belum menjadi “orang Kristen sejati”. Kebanyakan orang Papua hanyalah “Kristen KTP”. Jadi, sekali lagi, apakah Injil sudah masuk di Tanah Papua? Tra tahu, gelap jadi.
(Dumupa Odiyaipai)


Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI