Berita Terbaru :
Home » , , » Surga di Negara Atheis, Neraka di Negara Beragama

Surga di Negara Atheis, Neraka di Negara Beragama

Written By Odiyai Wuu on Sabtu, 26 Desember 2015 | 09.37


Surga dan Neraga (Ilustrasi)

Swedia merupakan negara “surga” di Eropa. Sebutan surga ini sepertinya berlebihan, tetapi negara yang terhimpit antara Finlandia dan Norwegia ini faktanya mempunyai kehidupan yang aman, tentram, teleran, makmur, dan pemerintahan yang bebas korupsi. Selain itu, kehebatan negara tersebut antara lain dapat dilihat dari kebijakan pemberian tunjangan pendididikan bagi setiap anak setiap bulan, perlindungan maksimal bagi anak dari berbagai bentuk kekerasan, pendidikan gratis bagi mahasiswa asing, mengimpor sampah dari Norwegia untuk diolah menjadi sumber energi listrik, menggratiskan biaya hak paten bagi sealbelt yang awalnya digunakan oleh mobil Volvo (produk Swedia) untuk kemudian digunakan oleh merek mobil lainnya, dan pernah menyelamatkan warga Yahudi Denmark dari ancaman pembantaian yang dilakukan oleh rezim NAZI Jerman (Adolf Hitler). Kehidupan surgawi telah tercipta di negara ini, tetapi anehnya, moyoritas penduduknya adalah atheis atau tidak mempercayai eksistensi Tuhan.

Apakah negara atau orang yang atheis atau tidak mempercayai eksistensi Tuhan dapat berbuat baik dan benar dan menciptakan kehidupan “surgawi” di dunia? Bagaimana dengan kondisi negara-negara yang mengakui dirinya sebagai “negara beragama”? Atau contohnya, bagaimana dengan negara Indonesia yang gemar mengakui dirinya sebagai negara yang berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa? Apakah kehidupan “surgawi” telah tercipta di negara Indonesia?

Di negara Indonesia, eksistensi Tuhan sungguh mendapatkan perhatian dan pengakuan yang sangat serius. Hal itu dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain, pengakuan Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila sebagai ideologi negara, pembentukan dan keberadaan Kementerian Agama, pengakuan negara terhadap keberadaan 6 (enam) agama resmi, pendidikan agama di berbagai jenjeng pendidikan, maraknya ritual dan perayaan keagamaan dimana-mana, pendirian rumah ibadah dan situs keagamaan dimana-mana, kegemaran menggunakan gelar keagamaan dalam penyebutan dan penulisan nama, maraknya penyiaran ajaran keagamaan dengan berbagai cara, dan lainnya. Bahkan lebih dari itu, sejumlah kalangan menghendaki agar negara Indonesia berlandaskan pada ajaran agama Islam atau menjadi “Negara Agama” (Islam) karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Dilihat dari indikato-indikator ini, sepertinya pemerintah dan warga negara Indonesia telah menciptakan “kehidupan surgawi” di negara ini. Tetapi apakah memang demikian?

Di negara yang mempercayai eksistensi Tuhan dengan berbagai cara ini, nampaknya kehidupan surgawi sulit terwujud. Bahkan ajaran agama dan kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan hanya dijadikan sebagai “simbol” kesombongan, “rutinitas” atau/atau “seremonial” belaka, dan “kedok” kejahatan, sebab yang berhasil diwujudkan adalah “kehidupan nerakawi”. Lihat saja contohnya. Maraknya pelanggaran hak asasi manusia dengan berbagai cara, tingginya tindakan korupsi secara sistematis di berbagai tingkatan pemerintahan, apatis terhadap penderitaan kaum miskin, pelarangan pendirian rumah ibadah agama minoritas oleh pemerintah dan umat beragama mayoritas, penyebaran ajaran agama tertentu dengan cara kekerasan, maraknya berbagai praktek maksiat, pelanggaran terhadap hukum dan aturan perundang-undangan secara sengaja dan sistematis, maraknya tindakan asusila yang dilakukan oleh pejabat negara dan pejabat agama, meraknya kerusukan sosial dimana-mana, dan lainnya.

Contoh-contoh ini menjadi indikator adanya kesenjangan yang serius dan mengkhawatirkan antara klaim Indonesia sebagai “negara beragama” dan kondisi nyata kehidupan bernegara, beragama, dan bermasyarakat di Indonesia. Rupanya negara yang mempercayai eksistensi Tuhan dan mengakui dirinya sebagai “negara beragama” ini tidak mampu menciptakan kehidupan surgawi di negaranya. Justru yang berhasil diciptakan dan dinikmati adalah “kehidupan nerakawi”. Jika demikian faktanya, apa gunanya mempercayai eksistensi Tuhan? Apa gunanya mengklaim sebagai negara “Ketuhanan Yang Maha Esa”? Apa gunanya mengakui 6 (enam) agama sebagai agama resmi negara? Dan apa gunanya mengakui diri sebagai umat beragama?
 
Sesungguhnya, berpikir dan berbuat baik dan benar serta menciptakan “kehidupan surgawi” di bumi bukan tergantung apakah orang atheis atau beragama. Banyak fakta dalam sejarah hidup manusia telah membuktikan bahwa orang atheis yang tidak mempercayai eksistensi Tuhan telah banyak berbuat baik dan benar dan menciptakan kehidupan surgawi dalam hidupnya dan memberikan manfaat bagi sesamanya. Begitu pula sebaliknya, banyak fakta sejarah hidup manusia telah membuktikan bahwa orang beragama yang mempercayai eksistensi Tuhan telah banyak berbuat buruk dan salah dan menciptakan kehidupan nerakawi dalam hidupnya dan memberikan dampak buruk bagi sesamanya.

Jika demikian, bagaimana sebaiknya? Pertama, sebaiknya menjadi orang atheis yang tidak mempercayai eksistensi Tuhan, tetapi mampu dan gemar berbuat baik dan benar dan menciptakan kehidupan surgawi di bumi, sebab sesungguhnya mereka berpeluang hidup di surga kelak. Dan kedua, sebaiknya menjadi orang beragama yang mempercayai eksistensi Tuhan dan mampu dan gemar berbuat baik dan benar dan menciptakan kehidupan surgawi di bumi, sebab sesungguhnya mereka berpeluang hidup di surga kelak. Tergantung siapa memilih apa dan bertindak bagaimana. Yang penting jangan menjadi “orang beragama dan mempercayai eksistensi Tuhan, tetapi gemar berbuat buruk dan salah (dosa) dan menciptakan kehidupan nerakawi” seperti yang diciptakan di negara Indonesia oleh mereka yang “katanya beragama” dan mempercayai eksistensi Tuhan.
(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI