Berita Terbaru :
Home » , » Dialog “Kemerdekaan” (Papua) dan “Pembangunan” (Indonesia)

Dialog “Kemerdekaan” (Papua) dan “Pembangunan” (Indonesia)

Written By Odiyai Wuu on Rabu, 02 Desember 2015 | 19.51

Masyarakat Papua Barat Merayakan Hari Kemerdekaan 1 Desember 1961 (Ilustrasi)
Seorang perwira menengah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang duduk bersebelahan dengan saya dalam sebuah acara seminar di Jakarta, pada akhir tahun lalu, mengatakan kepada saya, “Pak, sebagai pejabat negara, tugas kita adalah mempertahankan kedaulatan NKRI. Kita harus menyadarkan rakyat Papua supaya tidak memperjuangkan kemerdekaan. Kita ajak mereka untuk membangun diri dalam NKRI sajalah. Toh, kalau masih ngotot memperjuangkan kemerdekaan, akhirnya merugikan diri sendiri juga. Ya kan, pak?”

Kata saya menanggapinya, “Pak, menurut saya begini. Pertama, sebagai pejabat negara, tentu saja kewajiban kita adalah mempertahankan kedaulatan NKRI. Kedua, dalam konteks hak asasi manusia, selain kewajiban kita, orang lain juga mempunyai hak. Memperjuangkan kemerdekaan adalah hak rakyat Papua. Sebagai manusia, kita mempunyai kewajiban untuk menghargai hak mereka. Ketiga, gagasan dan aktivitas pembangunan negara Indonesia di Papua tidak dapat meniadakan hak rakyat Papua untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Pembangunan dan perjuangan kemerdekaan adalah dua hal berbeda, yang tidak bisa saling meniadakan. Pembangunan adalah kewajiban pemerintah sebagai konsekuensi atas kekuasaan di Papua. Tetapi memperjuangkan kemerdekaan Papua adalah hak rakyat Papua sebagai manusia. Keempat, bagi kebanyakan rakyat Papua yang pro-kemerdekaan, resiko apapun yang diterima dalam perjuangannya adalah konsekuensi logis untuk merdeka. Mereka tidak pernah merasa takut untuk mati. Dan kelima, kedaulatan negara memang penting, tetapi kedaulatan manusia jauh lebih penting dan lebih tinggi nilainya. Lebih baik kita menghargai kedaulatan manusia dari pada kedaulatan negara. Kedaulatan manusia tetap abadi, tetapi kedaulatan negara kapanpun bisa musnah.”

Sang tentara itu tak berkata apa-apa dan hanya menarik nafas panjang. Melihat reaksinya itu, saya berkata, “Mohon maaf pak, saya hanya menyampaikan pendapat saya. Saya tidak bermaksud mendukung rakyat Papua dan tidak bermaksud mengabaikan pemerintah Indonesia. Saya mau semuanya berjalan dalam keseimbangan. Akhir dari semuanya Tuhanlah yang akan menentukan. Dan ketentuan Tuhan adalah kebenaran mutlak.”

Sang tentara menepuk bahu saya sambil berkata, “Ya, sudahlah pak.”

Setelah istirahat makan siang, pada sesi seminar lanjutan, sang tentara rupanya pindah tempat duduk. Dia tidak duduk di samping saya sampai acara seminar berakhir. Barangkali dia tidak terima pendapat saya. Tetapi saya pun tidak peduli dengannya.
(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI