Berita Terbaru :
Home » » Mengenang Kembali Buku ”Kontroversi Dogiyai: Pro dan Kontra Pemekaran Kabupaten Dogiyai dalam Fenomena Politik dan Ekonomi Global, Indonesia, dan Papua Barat”

Mengenang Kembali Buku ”Kontroversi Dogiyai: Pro dan Kontra Pemekaran Kabupaten Dogiyai dalam Fenomena Politik dan Ekonomi Global, Indonesia, dan Papua Barat”

Written By Odiyai Wuu on Senin, 14 September 2015 | 04.27

Cover Buku - Kontrovesi Dogiyai
Catatan

Setelah mengikuti proses perkembangan Kabupaten Dogiyai sejak pembentukannya hingga sekarang (2008-2015) dengan segala dinamikanya, saya teringat dengan sejumlah gagasan, analisa, dan prediksi yang pernah saya tulis mengenai proses pembentukan kabupaten tersebut dan keberadaannya kedepan, dalam buku berjudul ”Kontroversi Dogiyai: Pro dan Kontra Pemekaran Kabupaten Dogiyai dalam Fenomena Politik dan Ekonomi Global, Indonesia dan Papua Barat.” Ini merupakan buku pertama mengenai ”Kabupaten Dogiyai” yang terbit sebelum pembentukan kabupaten tersebut dan saya adalah penulis pertamanya.

Sejumlah gagasan, analisa, dan prediksi saya mengenai ”Kabupaten Dogiyai” yang saya tulis saat itu dalam buku tersebut rupanya sedang terbukti. Tentu saja, saya tidak ingin mengulas kembali kesemuanya itu. Dan untuk sekedar mengenang kembali, berikut saya hanya menyajikan kata pengantar buku tersebut.

***

Pengantar Penulis

”Kalau saya mati, saya pasti masuk sorga. Tetapi kalau saya lihat orang Indonesia di sana biar satu orang saja, saya akan lari tinggalkan sorga. Kalau malaikat Tuhan tanya saya mengapa lari, nanti saya jawab, ah saya takut orang Indonesia menjajah kami orang Papua di sorga juga.” (Theys Hiyo Eluay, Ketua Presidium Dewan Papua).

“Enyahkan kami, agar kalian bisa mengambil dan menguasai semua yang kami miliki: tanah kami, gunung kami dan setiap penggal sumber daya kami. Pegang parang ini, ambil dan bunuh saya, sebab saya sudah tidak tahan lagi melihat masalah-masalah yang  menyakitkan ini.” (Tuarek Narkime, Kepala Suku Amungme).

Dua pernyataan yang dikemukakan oleh kedua pemimpin rakyat Papua Barat di atas ini menggambarkan dua bentuk penjajahan yang menimpa rakyat Papua Barat. Pernyataan Theys mewakili aksi Neo-kolonialisme Negara Indonesia, sementara pernyataan Tuarek mewakili aksi Neo-liberalisme Negara-negara Kapitalis. Yang jelas, Neo-kolonialisme Negara Indonesia dan Neo-liberalisme Negara-negara Kapitalis sama-sama menjajah rakyat Papua Barat. Theys maupun Tuarek sebagai pemimpin rakyat Papua Barat sangat menyadari bahwa dirinya dan rakyatnya benar-benar terjajah oleh kedua bentuk penjajahan tersebut. Mereka juga sadar bahwa dalam aksinya, kedua bentuk penjajahan tersebut diperkuat oleh militer.

Pendidikan politik lewat pengalaman hidup rakyat Papua Barat telah mengajarkan dan menyadarkan mereka untuk mengenal musuh mereka, yaitu pihak yang telah, sedang dan akan terus mejajah. Mereka dengan jelas – sebagaimana tergambar dalam pernyataan Theys dan Tuarek – memetahkan pihak-pihak yang menjajah mereka. Telah terbangun pemahaman bersama bahwa yang telah, sedang dan akan menjajah Papua Barat adalah Negara Indonesia dan Negara-negara Kapitalis, yang didukung dengan kekuatan militer.

Negara Indonesia mempunyai kepentingan ”integrasi bangsa” atas wilayah Papua Barat. Sedangkan Negara-negara Kapitalis mempunyai kepentingan ”cari makan” atas wilayah Papua Barat. Dan keduanya diperkuat oleh militer sebagai ”penjaga integrasi” dan – meminjam istilah Richard Robison – ”anjing penjaga lalulintas modal”.

Pemekaran Kabupaten Dogiyai, baik pewacanaan hingga perjuangan realisasi yang berujung dan pro dan kontra pun tidak lepas dari fenomena politik dan ekonomi. Fenomena tersebut semakin menarik untuk dikaji, apalagi jika hal itu terjadi di wilayah Papua Barat. Soalnya, wilayah ini boleh dikatakan sebuah sebuah ”lahan pertarungan” berbagai kepentingan. Di satu sisi orang Melanesia di wilayah ini ”susah-payah” mempertahankan tanah seluhur dan hidupnya, sementara di sisi lain para ”penjajah” merajalela di atas tanah dan di tengah orang Melanesia tersebut. Hal itu menyebabkan rakyat Papua Barat terus berjuang untuk merdeka dari penjajahan Negara Neo-kolonialis Indonesia dan Kapitalis Internasional.
   
Selain karena takut dengan adanya kepentingan politik dan ekonomo Negara Indonesia dan Kapitalis Internasional, buku dengan gaya bahasa subyektif ini saya tulis karena muak dengan beberapa alasan, yaitu; adanya kepentingan politik dan ekonomi para elit politik lokal Indonesia (elit politik asal Lembah Kamuu dan Pegunungan Mapiha/Mapisa), adanya sikap dan tindakan yang busuk (amoral) dari Tim Sukses Pemekaran Kabupaten Dogiyai, adanya sikap dan tindakan kelompok kontra Pemekaran Kabupaten Dogiyai yang cenderung hanyut dalam ”angin politik”, adanya tuduhan menerima Pemekaran Kabupaten Dogiyai oleh kelompok kontra Pemekaran Kabupaten Dogiyai di tanah Jawa kepada diri saya (yang ditandai dengan tuduhan menerima ”uang sogok” dari kelompok pro Pemekaran Kabupaten Dogiyai), dan adanya caci-maki dan pengkhianatan secara ”kekeluargaan” terhadap diri saya karena masalah Pemekaran Kabupaten Dogiyai.

Semua pihak inilah yang saya gugat dalam buku ini, yang boleh dikatakan sebagai sebuah buku pembelaan terhadap diri saya secara prbadi, keluarga, kelompok (sebagai bagian orang Lembah Kamuu dan Pegunungan Mapiha/Mapisa), warga bangsa Papua Barat, sebagai orang yang berkewarga-negaraan Indonesia, dan sebagai bagian dari manusia semesta. Saya menempatkan posisi saya dalam kedudukan seperi itu, karena kedudukan itu sebuah kenyataan yang tidak dapat saya sangkal dengan cara apapun.

Karena itu, saya berharap mereka yang saya ”tembak” dalam buku ini, baik yang saya sebutkan namanya secara terus-terang, disebutkan secara kelompok, atau sebagai bangsa dan/atau negara, disinggung secara ideologi, atau dengan cara apa saja agar dapat menerima buku ini dengan rasional. Saya yakin, pasti banyak pihak yang tidak akan menerima isi buku ini, dan bahkan akan merasa nama baiknya dicemarkan, tetapi bagi saya itu tidak penting. Karena yang penting adalah menjaga nama baik mereka yang terjajah secara ekonomi dan politik, mereka yang hidup dan masa depannya dimusnahkan, dan mereka yang tak berdaya di atas tanah airnya sendiri karena kehilangan kemerdekaan (pribadi dan kebangsan). Dalam situasi demikian, saya berada di pihak mereka yang ”terjajah” ini, karena kanyataannya memang demikian”.
   
Dengan modal dan kekuatan suara hati nurani saya yang selalu berbisik bahwa ”penjajahan harus dihapuskan” dan ”orang terjajah harus dibela”, maka saya merasa berani untuk menulis uku ini, bahkan saya berhasil menyelesaikan penulisannya dalam waktu tiga hari. Kalau memang saya harus mempertanggungjawabkan isi buku ini, entah dengan cara digugat ke pengadilan, dicaci-maki, dimusuhi, dicap sebagai ”separatis” atau ”anti-pembangunan” atau cap apa saja, diteror dan diintimidasi, bahkan sampai harus dibunuh, saya sudah siap untuk menerimanya. Ini resiko dari berkata dan berbuat tentang ”kebenaran” yang mutlak, yaitu keberan yang berasal dari Sang Pencipta.

Ingin saya tegaskan bahwa, buku ini saya tulis bukan untuk mendukung atau menolak Pemekaran Kabupaten Dogiyai, bukan pula untuk memaksa orang untuk menerima atau menolaknya. Bagi saya, menerima atau menolak pemekaran tersebut adalah urusan rakyat sesuai dengan hati nuraninya, karena kedaulatan ada di tengan mereka. Buku ini juga saya tulis tanpa mewakili siapa-siapa; entah keluarga, kelompok pro dan kelompok kontra Pemekaran Kabupaten Dogiyai, atau yang lainnya, tetapi karena merasa mempunyai tanggungjawab secara pribadi sebagai manusia yang ingin merdeka (secara pribadi maupun bangsa).

Akhirnya, saya siap menerima semua bentuk kritik dan saran atas penulisan buku ini. Bagi saya kiritik dan saran adalah bagian dari ”bunga-bunga” demokrasi yang sesungguhnya, yaitu saling mendengarkan dan memahami dengan tulus, kemudian melaksanakan berdasarkan nilai kebenaran, keadilan dan kejujuran yang sesungguhnya pula.

Koya ebatiyake ikikeda gai.

Lereng Gunung Merapi, 7 Februari 2008

(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI