Berita Terbaru :
Home » , » Masih Adakah Rasa “Cinta Tanah Air” Indonesia?

Masih Adakah Rasa “Cinta Tanah Air” Indonesia?

Written By Odiyai Wuu on Senin, 07 September 2015 | 18.15

Ilustrasi
Beberapa waktu lalu, sekitar pukul 22.00 malam, saya mampir di sebuah warung angkringan di Jalan Godean, Yogyakarta, untuk menimum teh panas. Tak ada orang lain, selain saya dan penjaga warung angkringan yang saya perkirakan berusia 60-tahun. Untuk menghibur diri, penjaga warung angkringan tersebut mendengarkan siaran sebuah radio swasta di Yogyakarta. Ketika hendak menghabiskan teh yang saya minum, tiba-tiba radio swasta tersebut menyiarkan semacam seruan untuk “Cinta Tanah Air”. Tak lama berselang, penjaga warung angkringan setelah menarik nafas dalam-dalam berkata, “Wah, orang hidup susah kok dipaksa cinta tanah air. Emangnya orang lapar mau mencintai tanah air. Ga mungkin. Pemerintah aja ga becus ngurus rakyat, kok dipaksa-paksa mencintai tanah air. Lagian mau mencintai tanah air yang mana, wong semuanya udah terjual habis sama orang asing.”

Saya hanya tersenyum saja. Kebetulan pula saya teringat dengan sebuah lirik lagu dari para pengamen di Terminal Jombor, Yogyakarta, yang beberapa kali saya dengar belasan tahun yang lalu. Lirik lagunya begini, “Indonesia tanah airku, tanah beli, air juga beli. Indonesia terbagi-bagi, ada indomie, ada indomilk, ada indocement, ada indomobil. Nesianya di mana?”

Di tengah gemar-gemarnya Pemerintah Indonesia dan pihak tertentu mengkampanyekan pentingnya “Cinta Tanah Air (Indonesia)”, apakah mereka pernah bertanya kepada rakyatnya, misalnya kepada orang seperti penjaga warung angkringan dan para pengamen tersebut mengenai “pentingnya cinta tanah air”?

Apa itu cinta tanah air? Tentu saja banyak definisi dan penafsirannya. Tetapi pada intinya perasaan cinta sebenarnya mengandung unsur kasih dan sayang terhadap sesuatu. Selanjutnya, dalam diri akan tumbuh suatu kemauan untuk merawat, memelihara dan melindunginya dari segala bahaya yang mengancam. Cinta tanah air berarti rela berkorban untuk tanah air dan membela dari berbagai macam ancaman dan gangguan yang datang dari manapun.

Berangkat dari definisi tersebut, ada empat catatan penting mengenai “Cinta Tanah Air (Indonesia)”.
Pertama, pada umumnya setiap negara mempunyai kewajiban untuk menjaga kedaulatan negaranya. Salah satu caranya adalah dengan menanamkan rasa cinta tanah airnya kepada warga negaranya dan terus mengajaknya untuk melestarikannya. Hal ini merupakan kewajiban pemerintah atau pihak berkompeten lainnya. Dalam konteks ini, dengan adanya kampanye dan penanaman nilai-nilai cinta tanah air Indonesia, maka Pemerintah Indonesia atau pihak berkompeten lainnya telah melakukan kewajibannya sebagaimana mestinya.

Kedua, cinta tanah air haruslah muncul dari hati secara sukarela. Walaupun Pemerintah Indonesia dan pihak berkompeten lainnya gemar mengkapanyekan dan menanamkan pentingnya nilai cinta tanah air Indonesia, tetapi tidak serta-merta warga negaranya mencintai tanah airnya secara membabi-buta. Cinta itu harus muncul secara sukarela dari setiap warga negara. Dan kesukarelaan itu sendiri muncul karena kesadaran memiliki tanah air Indonesia secara sadar.

Ketiga, secara sukarela merasa memiliki tanah air harus disertai dengan rasa cinta pemerintah terhadap warga negaranya. Pemerintah Indonesia sebagai penyelenggara negara Indonesia, apabila hendak mengajak warga negaranya mencintai tanah air Indonesia, maka Pemerintah Indonesia terlebih dahulu harus menunjukan cintanya kepada rakyatnya dengan cara memberi dan memenuhi keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Tanpa pemberian dan pemenuhan kebutuhan akan keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan, tidak mungkin rakyat Indonesia mau mencintai tanah airnya. Sekalipun ada rasa mencintai tanah air Indonesia, tetapi itupun mungkin secara terpaksa atau tidak sepenuh hati.

Keempat, rasa cinta tanah air merupakan sebuah perasaan dan tindakan yang dinamis. Sebagaimana kata bijak, “tiada yang abadi, kecuali perubahan”, maka perasaan dan tindakan orang selalu mengalami perubahan mengikuti dinamika kehidupan. Dalam konteks cinta tanah air pun demikian. Dinamika kehidupan negara Indonesia akan selalu menentukan kondisi rasa cinta air warga negaranya. Semakin negara Indonesia menjadi “milik rakyat”, maka cinta terhadapnya pun akan semakin besar. Sebaliknya, semakin negara Indonesia “milik orang lain” (dalam pengertian tidak menguntungkan rakyatnya), maka cinta terhadapnya pun akan semakin kecil dan bisa pudar seutuhnya.
(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI