Berita Terbaru :
Home » , » Berbicara dan Menulis itu Penting dan Punya Pengaruh

Berbicara dan Menulis itu Penting dan Punya Pengaruh

Written By Odiyai Wuu on Minggu, 20 September 2015 | 10.19

Ilustrasi
Banyak orang selalu berpandangan, bahwa lebih baik banyak bekerja dari pada banyak berbicara atau banyak menulis. Bahkan orang-orang tersebut justru gemar melarang orang lain untuk “jangan banyak berbicara dan menulis”. Menurut mereka, berbicara dan menulis tidak ada manfaatnya. Menurut mereka, berbicara dan menulis bukan pekerjaan. Dan menurut mereka, berbicara dan menulis tidak menghasilkan apa-apa. 

Apakah benar berbicara dan menulis itu tidak penting dan tidak bermanfaat? Apakah benar berbicara dan menulis itu bukan “kerja”? Apakah benar hanya kerja tanpa berbicara dan menulis sajalah yang dapat menghasilkan sesuatu? Apa yang orang tertentu pahami tentang “berbicara”, “menulis”, dan “bekerja”?

Dua contoh betapa sangat pentingnya berbicara dan pengaruhnya. Pertama, pada saat terjadi Perang Dunia II, dimana Inggris sedang mengalami agresi militer yang luar biasa dari tentara Jerman dan sekutunya, Perdana Menteri Inggris saat itu, Sir Winston Churcill, menghadiri sebuah acara wisuda sebuah universitas di Inggris dan naik ke mimbar untuk berpidato. Ia memandang tajam para sarjana baru, lalu berkata, “Never give up, Never give up.” Setelah diam 30 detik, ia berkata lagi, “Never give up, Never give up.” Kesunyian kembali mencekam di seluruh ruangan acara wisuda sedang dilaksanakan. Sekali lagi, suara Churcill menggema, “Never give up, Never give up.” Pidatonya yang singkat ini akhirnya memberikan semangat juang yang tinggi kepada tentara Inggris yang sedang bertempur di medan perang. Akhirnya, sejak itu Inggris meraih kemenangan yang gemilang yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Kedua, pada tanggal 28 Agustus 1963, Martin Luther King Jr. menyampaikan pidatonya yang monumental berjudul “I Have A Dream”, di Lincoln Memorial Washington DC. Pidatonya ini kemudian menjadi inspirasi dan tonggak awal anti-rasisme di Amerika Serikat, sehingga kemudian rasisme dihapuskan dari aturan perundang-undangan dan prakteknya di Amerika Serikat.

Dua contoh betapa sangat pentingnya menulis dan pengaruhnya. Pertama, pujangga besar Perancis, Voltaire, yang terkenal karena kata-katanya, “Pena lebih tajam daripada pedang”, mempunyai andil besar dalam perubahan sistem perpolitikan Perancis melalui tulisannya. Melalui tulisan-tulisannya, seperti l’ingenue, Zadig, dan Lettres Philosophiques sur les Anglais dan melalui orang lain yang menjadi penulis akibat inspirasinya, seperti D’Anton, Marat, dan Robespierre, akhirnya berandil besar bagi Revolusi Prancis dan mengubah sistem politik Monarkhi (absolut) menjadi Republik (demokratis). Kedua, buku “Max Havelaar” karangan Multatuli merupakan salah satu karya klasik dalam kesusastraan Indonesia. Isi buku tersebut mengkritisi praktek tanam paksa oleh kolonial Belanda, yang akhirnya membuka kesadaran para borjuasi Eropa (terutama Belanda), bahwa kekayaan dan kemakmuran yang selama ini mereka nikmati adalah merupakan hasil darah dan keringat dari bangsa jajahan mereka. Akhirnya, buku tersebut menginspirasi para politisi Belanda untuk menggulirkan politik etis, dimana dilakukan semacam ‘balas jasa’ terhadap Indonesia, atas penjajahan yang mereka lalukan selama ini. Akses pendidikan tersebut justru dimanfaatkan oleh misalnya, Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, dan lainnya, sebagai bekal intelektual untuk melawan imperialisme Belanda. Dan akhirnya, Indonesia diproklamirkan sebagai negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Selain masing-masing dua contoh penting dan berpengaruhnya berbicara dan menulis tersebut, masih banyak contoh lainnya yang dapat dipelajari dan diambil manfaatnya. Dunia telah membuktikan bahwa berbicara dan menulis telah menghasilkan banyak perubahan yang luar biasa, yang pengaruhnya ke dalam hampir semua dimensi kehidupan manusia secara fundamental. Dengan berbicara dan menulis, banyak orang telah mengubah kehidupan dari kehidupan yang awalnya buruk dan salah menjadi kehidupan yang baik dan benar. 

Dengan adanya fakta seperti ini, lagi pula memang benar bahwa berbicara dan menulis itu penting dan punya pengaruh yang luar biasa bagi kebaikan dan kebenaran kehidupan, maka apabila ada orang tertentu yang merasa dan melarang orang lain untuk berbicara dan menulis, maka orang tersebut telah salah pikir, salah bicara, dan salah bertindak. Orang tersebut rupanya telah memahami kata dan hal “berbicara” dan “menulis” dari perspektif yang sempit dan dangkal. Orang tersebut pun rupanya telah memahami kata dan hal “kerja” dari “kacamata kuda”. Rupanya orang terebut tidak mehami bahwa berbicara dan menulis pun merupakan bagian dari pekerjaan yang punya pegaruh yang luar biasa.

Yang seharusnya dilarang adalah menulis dan berbicara untuk kepentingan negatif. Maksud “kepentingan negatif” adalah mengungkapkan dan/atau menuliskan kata-kata yang bertujuan untuk melawan kebaikan dan kebenaran hakiki dalam ruang dan waktu apapun. Hal seperti inilah yang harus dijadikan sebagai common enemy (musuh bersama) segenap umat manusia yang mencintai kebaikan dan kebenaran hakiki.
(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI