Berita Terbaru :
Home » , » Pelajaran “Pasar Tautefa”: Potensi Kerawanan Dan Konflik Masa Depan Di Papua

Pelajaran “Pasar Tautefa”: Potensi Kerawanan Dan Konflik Masa Depan Di Papua

Written By Odiyai Wuu on Jumat, 14 Agustus 2015 | 06.07

Ilustrasi
Kami hanya cari makan di sini, kami tidak pusing dengan kalian. Kalau mau menderita, silakan kalian menderita sendiri. Yang penting jangan ganggu kami, jangan ganggu usaha kami. Ini Indonesia. Kami sudah banyak di Papua, kalian tidak akan merdeka.” Begitulah kata-kata yang dilontarkan oleh seorang pedagang kaki lima berdialeg Bugis-Makasar di emperan pasar Yautefa kepada dua orang asli Papua kemarin sore. Tak tahu apa alasan orang tersebut mengatakan demikian. Tak tahan dibilang demikian, seorang asli Papua meninju orang tersebut hingga jatuh tersungkur ke tanah. Mendengar teriakan meminta tolong, kedua orang asli Papua inipun akhirnya melarikan diri ke arah jalan baru.

Apapun masalahnya dan apa penyebabnya, yang menarik perhatian saya adalah ungkapan pedagang asal Bugis-Makasar ini. Ada empat hal yang menarik.

Pertama, kalimat “Kami hanya cari makan di sini, kami tidak pusing dengan kalian.” Memang benar, untuk kepentingan cari makan, maka para migran ilegal (pendatang liar) dari luar Papua telah datang ke Papua dan membentuk perkampungan kumuh, kios kumuh, warung kumuh, dan pasar kumuh. Dalam pembentukan “komplek perkumuhan” tersebut, mereka mengabaikan etika dan moral, mengabaikan aturan perundang-undangan, dan mengabaikan orang asli Papua yang mempunyai tanah yang mereka duduki.

Kedua, kalimat “Kalau mau menderita, silakan kalian menderita sendiri.” Hal ini mengandung pesan bahwa para migran ilegal (pendatang liar) dari luar Papua sama sekali tidak peduli dengan kondisi penderitaan orang Papua. Mereka memposisikan dirinya sebagai “penjajah” yang sama sekali tidak peduli dengan mereka yang dijajah. Bahkan penderitaan mereka yang dijajah dianggap sebagai sebuah keharusan atau kewajaran yang perlu diterimanya. Dan oleh karenanya, para migran ilegal (pendatang liar) dari luar Papua merasa senang dengan penderitaan orang asli Papua (sebagai pihak yang mereka jajah).

Ketiga, kalimat “Yang penting jangan ganggu kami, jangan ganggu usaha kami.” Stabiltas keamanan dan kenyamanan dalam berusaha (mencari makan) bagi para migran ilegal (pendatang liar) dari luar Papua sangat penting, agar mereka dengan laluasa dapat meraub keuntungan ekonomi yang mereka impikan. Jika terjadi kekacauan atau ketidakstabilan keamanan di Papua, maka pihak pertama yang merasa panik dan merasa sangat rugi adalah para migran ilegal (pendatang liar) dari luar Papua.

Keempat, kalimat “Ini Indonesia. Kami sudah banyak di Papua, kalian tidak akan merdeka.” Hal ini menegaskan dua hal; (1) pandangan para migran ilegal (pendatang liar) dari luar Papua mengenai status wilayah Papua dalam NKRI, bahwa Papua adalah bagian dari wilayah kekuasaan NKRI dan oleh karenanya mereka merasa berhak berada di Papua (dan melakukan apapun yang mereka mau sesukanya, termasuk membentuk “komplek perkumuhan”); dan (2) kemayoritasan para migran ilegal (pendatang liar) dari luar Papua di Papua tidak akan memungkinkan Papua merdeka lepas dari kekuasaan NKRI, karena mereka hendak menjadi “garda terdepan” dalam mempertahankan kedaulatan NKRI atas wilayah Papua.

Menurut saya, empat hal tersebut mengandung potensi kerawanan dan konflik di masa depan, antara orang asli Papua dan para migran ilegal (pendatang liar) dari luar Papua di Papua. Kata-kata pedagang asal Bugis-Makasar tersebut menunjukan potensi tersebut. Sekarang tergantung semua pihak hendak mengelolah Papua ini seperti apa. Yang jelas, “kebenaran apapun bentuknya selalu menang, walau kadang kebenaran itu datang terlambat”.

(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI