Berita Terbaru :
Home » » Notas De Timor-Leste: Eu Tinha Um Amigo, Jack Dumupa

Notas De Timor-Leste: Eu Tinha Um Amigo, Jack Dumupa

Written By Odiyai Wuu on Sabtu, 22 Agustus 2015 | 23.01

Foto : Ilustrasi
Ketika saya diminta untuk menulis sedikit catatan saya mengenai Yakobus Dumupa, untuk diposting di website pribadinya www.odiyaiwuu.com, saya langsung menerima dengan senang hati. Alasannya, dari sekian banyak sahabat saya dari Papua di Yogyakarta yang pernah saya kenal saat saya kuliah (2002-2007), Jack adalah yang paling akrab dengan saya. Selain sebagai mahasiswa Ilmu Politik dan Pemerintahan di STPMD “APMD” Yogyakarta, Jack adalah aktivis mahasiswa Papua yang mempunyai jaringan sangat luas dengan aktivis pro-demokrasi di Yogyakarta dan Jakarta, bahkan beberapa kota besar di Jawa dan Papua. Jack adalah aktivis yang cerdas, sederhana, semangat, pantang menyerah, humoris, dan pandai menyusun strategi. Fokus gerakan perjuangannya adalah hak asasi manusia rakyat Papua, termasuk hak menentukan nasib sendiri. Bahkan tak jarang Jack juga menyuarakan hak kaum miskin dan tertindas di Indonesia.

Ada lima hal menarik yang menurut saya pantas untuk saya kenang mengenai sahabat saya, Jack Dumupa.

Pertama, kemampuan dan keberanian menulis. Jack pernah menulis dan menerbitkan buku berjudul “Berburu Keadilan di Papua: Mengungkap Dosa-dosa Politik Indonesia di Papua Barat”. Buku ini Jack tulis dan terbitkan saat masih menjadi mahasiswa. Isi bukunya luar biasa karena dua alasan: (1) Jack berani dan jujur mengungkan hal-hal yang dianggap “berbahaya” bagi Pemerintah Indonesia dan (2) saat itu Jack masih mahasiswa tetapi “kecerdasan” dan “pengetahuan” tentang Papua, Indonesia, dan global sangat luar biasa. Melalui buku ini Jack berusaha mengurai permasalahan di Papua dengan menarik hubungan dengan negara Indonesia dan dunia global.

Kedua, “korban demonstrasi”. Saya pernah menjadi korban peluru karet gara-gara Jack memaksa saya dan Zakheus (orang Dayak dari Nunukan, Kalimantan Timur) mengikuti aksi demonstrasi mulai dari Bundaran UGM sampai Kantor Pos Malioboro. Begitu terjadi gesekan antara demonstran dan polisi, saya dan Zakheus terkena peluru karet. Saya terkena di dada dan Zakheus di leher. Setelah pulang ke rumah kost, dengan santai Jack mengatakan, “Kamu dua tenang saja nikmati hasil peluru karet itu, sebab upahmu besar di surga”.

Ketiga, merintis buletin tentang Papua. Atas desakan dan inisiatif saya, kami sempat merintis sebuah buletin untuk mengulas segala hal yang berkaitan dengan Papua. Jack menjadi pimpinan redaksi dan saya menjadi sekretarisnya. Tapi rencana ini kandas karena “kemiskinan” kami yang tidak mampu membiayai kelanjutan penerbitan buletin ini. Saya ingat kata-kata Jack saat itu, “Kami gagal karena kami miskin, tetapi kami punya otak kaya. Saya akan melampiaskan semua rasa kecewa ini dengan menulis banyak buku tentang Papua”. Rupanya kata-kata ini terbukti. Satu tahun kemudian Jack menulis dan menerbitkan dua buku sekaligus. Dan sekarang pun Jack terus menulis dan menerbitkan banyak buku.

Keempat, skripsi paling tebal di STPMD “APMD” Yogyakarta. Dalam sejarah STPMD “APMD” Jack menulis skripsi yang paling tebal. Kalau tidak salah kurang lebih 700-an halaman dengan 11 Bab. Kalau saya tidak salah ingat skripsi ini membahas “Konspirasi Pemekaran Provinsi di Papua”. Dan yang lebih mengagumkan lagi adalah Jack menulis skripsi ini hanya dalam waktu 9 hari. Dosen penguji pun bingung bagaimana mengujinya, akhirnya diluluskan saja.

Kelima, saat berjabat tangan dan berpelukan setelah selesai acara wisuda, Jack berkata kepada saya, “Saudaraku, sahabatku, sekarang saatnya kita akan berpisah ke negeri kita masing-masing. Saya akan ke West Papua, kamu akan ke Timor Leste. Syukur-syukur kalau kita nanti bertemu lagi. Tapi kalau tidak, percaya saya, kita akan selalu bertemu di alam kemerdekaan.” Kata-kata ini sungguh mengharukan. Setelah saya meneteskan air mata, Jack pun ikut meneteskan air mata. Kami pun berpelukan dan saling menangisi.

Saya sekarang telah bekerja di Kementerian Dalam Negeri Timor Leste. Saya sudah menikmati kemerdekaan Timor Leste dan hidup merdeka di negeri leluhur kami. Saya percaya, kehendak baik Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus akan terwujud di negeri West Papua. Jack, sahabatku, saya berharap dan berkeyakinan suatu saat kita akan berjumpa, entah dimana, untuk melepas rindu.

Eu, em nome do povo de Timor-Leste para transmitir saudações e fraterna homenagem ao povo de Papua Ocidental. Acreditamos as pessoas ganhar nesta vida.
Saudações de Timor-Leste,

Azalla de Araujo
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI