Berita Terbaru :
Home » » Menulis Untuk Menjalankan Kehendak Allah

Menulis Untuk Menjalankan Kehendak Allah

Written By Odiyai Wuu on Sabtu, 15 Agustus 2015 | 21.03

Ilustrasi

Suatu ketika, seorang sahabat saya pernah bertanya, “Sobat, tidak bosan menulis teruskah? Tiap hari menulis, kapan berhenti?” 

Dengan maksud bersendau gurau, saya menjawabnya, “Bagaimana mungkin saya mau berhenti menulis, bapak saya seorang guru, jadi saya belajar menulis dari beliau. Saat saya masih kecil di kampung Apogomakida, ketika bapak saya mengajar di kelas di SD YPPK Apogomakida, saya selalu masuk ke ruang kelasnya, merampas kapur tulis dari tangannya dan mencoret-coretnya di papan tulis. Kadang bapak saya dan murid-muridnya terganggu, sehingga bapak saya selalu memukul saya dan mengeluarkan saya dari kelas, tetapi saya tetap mencari jalan untuk masuk lagi ke kelas dan mencoret-coret di papan tulis lagi. Kalau bapak saya menutup pintu, maka saya pasti memukul-memukul pintu dengan batu atau melempar-melempar lumpur ke dalam ruang kelas melalui jendela. Jadi namanya menulis itu sudah tumbuh dan berkembang dengan kenakalan saya sejak kecil. Jadi begitulah nasib anak guru, jadi penulis yang nakal.”

Setelah kami tertawa terbahak-bahak, sahabat saya ini berkata, “Iyo, tapi kalau bisa menulis itu yang baik saja to.” 

Saya bertanya kepadanya, “Menulis yang baik itu yang bagaimana?” Ia pun tersenyum dan menjawabnya, “Ya, pokoknya jangan yang keras to. Tulis itu jangan yang menyinggung perasaan orang lain, menyinggung pemerintah, menyinggung agama. Pokoknya yang jenis-jenis begitu sudah.” 

Mendengar itu, saya diam sejenak dan menjawabnya, “Berarti orang tua saya salah. Pastor, diakon, bruder, suster, dan frater salah. Guru-guru saya salah. Pembina-pembina asrama saya salah. Dosen-dosen saya salah.”

Mendengar kata-kata saya, sahabat saya terlihat bingung dan bertanya, “Bah, kenapa ko bilang begitu?”
Jawab saya, “Karena dari dorang semua saya belajar tentang kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan keburukan. Mereka selalu mengatakan, katakan benar jika benar dan katanya salah jika salah. Mereka juga selalu mengatakan, kebenaran dan kebaikan harus dilakukan dan dibela sampai titik darah penghabisan. Kesalahan dan keburukan harus dijauhi dan dihancurkan sampai titik darah penghabisan. Jadi, kalau saya tidak berhenti menulis untuk membela kekenaran dan kebaikan, serta mengecam dan menghancurkan kesalahan dan keburukan, maka saya menjalankan kehendak Allah yang saya belajar dari orang-orang yang saya sebut tadi.”

Mendengar itu, sahabat saya bertanya dengan serius, “Tapi…, kamu tidak takut matikah?”
Jawab saya santai, “Kalau mau membunuh saya itu gampang. Bunuhlah dulu Allah yang menciptakan saya, barulah bunuh saya. Jika orang tidak mampu membunuh Allah, maka mereka pun tidak akan pernah mampu membunuh saya. Allah tidak akan pernah membiarkan saya mati sia-sia di tangan orang-orang jahat ketika saya membela kebenaran dan kebaikan menurut kehendak-Nya. Saya akan mati atas kehendak Allah, bukan atas kehendak orang-orang jahat. Itu keyakinan yang saya pegang sampai kapanpun.”

(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI