Berita Terbaru :
Home » » Apakah Manusia Berhak Membunuh Manusia?

Apakah Manusia Berhak Membunuh Manusia?

Written By Odiyai Wuu on Sabtu, 29 Agustus 2015 | 00.10

Korban Penembakan yang dilakukan oleh Anggota TNI Terhadap Pemuda Gereja Katolik di Timika
Setiap manusia yang lahir di dunia ini (kecuali Allah Yesus) berawal dari hubungan seksual antara pria dan wanita. Pertemuan antara sperma dan sel telur melalui hubungan perkawinan menghasilkan embrio yang berkembang menjadi seorang anak manusia yang akhirnya dilahirkan. Walaupun manusia tercipta dan terlahir melalui prose alamiah tersebut, namum semua umat beragama meyakini bahwa semuanya itu berasal dari Allah, Sang Pencipta. Dalam keyakinan seperti itu, maka yang berhak menciptakan manusia sesungguhnya adalah Allah. Manusia (melalui hubungan perkawinan) hanya menjadi sarana untuk menerima ciptaan Allah itu dalam wujud manusia baru.

Jika diyakini bahwa yang menciptakan manusia adalah Allah, pertanyaanya, mengapa manusialah yang merasa berhak membunuh manusia? Untuk membenarkan tindakan pembunuhannya, manusia selalu memunculkan banyak alasan. Alasan-alasan itu pada intinya “membenarkan dan mensahkan bahwa manusia layak dibunuh”. Ada yang alasan pembenarannya berlandaskan pada teks Kitab Suci agama tertentu. Ada yang alasan pembenarannya berlandaskan pada doktrin agama tertentu. Ada yang alasan pembenarannya berlandaskan pada hukum tertentu. Ada yang alasan pembenarannya berlandaskan pada sejarah tertentu. Ada yang alasan pembenarannya berlandaskan pada kondisi psikologis tertentu. Dan alasan-alasan pembenaran lainnya. Karena alasan-alasan itu, maka pembunuhan terhadap manusia tertentu dianggap “benar” dan “sah”.

Berbagai alasan pembenaran itu tentu saja menimbulkan pro dan kontra sampai sekarang. Sebagian orang masih berkeyakinan bahwa dengan alasan tertentu manusia tertentu “boleh dibunuh”. Sebagian orang lainnya masih berkeyakinan bahwa dengan alasan apapun manusia “tidak boleh dibunuh”. Tetapi biasanya pilihan pro dan kontra ini selalu berdasarkan pada cara pandang dan kepentingan setiap orang atau kelompok.

Menurut saya, ada lima hal yang perlu dipahami mengenai hal ini. Pertama, sebagai orang beragama setiap orang hendaknya mengakui dan menghargai “kedaulatan Allah”, bahwa hanya Allahlah yang berhak menciptakan manusia. Manusia dan hubungan perkawinan hanyalah sarana penciptaan manusia itu. Kedua, setiap orang apapun cara pandang dan kepentingannya, harus menyadari bahwa setiap manusia berhak untuk hidup. Sebagaimana kehidupan penting untuk kita, maka kita pun harus mengakui kehidupan itu penting bagi orang lain. Ketiga, apabila seseorang atau sekelompok orang dianggap bermasalah dan/atau melakukan kesalahan, maka sebaiknya jangan dibunuh tetapi dicari solusi pemecahannya dengan damai atau diberi jenis hukuman yang lainnya. Keempat, manusia hendaknya jangan menafsirkan dan/atau menciptakan alasan-alasan tertentu untuk membenarkan dan mensahkan pembunuhan. Kelima, sebagai orang beragama setiap orang hendaknya mengakui dan menghargai “kedaulatan Allah”, bahwa hanya Allahlah yang berhak mengakhiri hidup manusia. Biarkanlah Allah mengakhiri hidup setiap manusia dengan kehendak dan cara-Nya sendiri.

(Dumupa Odiyaipai)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI