Berita Terbaru :
Home » , , » Orang Asli Papua Musnah, Tanah Adat Papua Hilang

Orang Asli Papua Musnah, Tanah Adat Papua Hilang

Written By Odiyai Wuu on Jumat, 06 Februari 2015 | 10.26

Orang Asli Papua Musnah, Tanah Adat Papua Hilang (Foto.Ilustrasi)
Dari sekian banyak masalah yang dihadapi oleh orang asli Papua, ada dua masalah fundamental yang mengancam eksistensi orang asli Papua. Pertama, masalah kepunahan orang asli Papua. Kedua, masalah kehilangan penguasaan dan kepemilikan tanah.

Kepunahan orang asli Papua disebabkan oleh dua faktor. Pertama, pertumbuhan orang asli Papua yang sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh, misalnya, angka kelahiran yang sangat rendah, keselamatan ibu dan/atau bayi saat melahirkan sangat rendah, tingkat kemandulan yang meningkat tajam, kematian akibat mengidap sejumlah penyakit kronis, kematian akibat kekerasan militer yang sangat tinggi, kematian akibat konflik sosial yang tinggi, dan penyebab lainnya. Kedua, tingginya tingkat migrasi ilegal (perpindahan orang non-asli Papua dari luar Papua ke Papua). Migrasi ilegal ini terjadi secara berkala setiap minggu, melalui jalur laut maupun udara. Semua kapal penumpang yang memasuki wilayah Papua selama seminggu, selalu dipenuhi dengan ribuan migran ilegal baru yang selalu turun di semua pelabuhan yang disinggahi oleh kapal penumpang. Begitu pula dengan pesawat yang memasuki semua bandara udara di Papua setiap hari selalu menurunkan ratusan migran ilegal baru. Oleh sejumlah pihak, migrasi ilegal di Papua ini disebut-sebut sebagai migrasi ilegal tertinggi di dunia. Dua faktor ini saling mendukung dalam proses depopulasi (pengurangan jumlah penduduk) orang asli Papua. Sejumlah pihak memperkirakan jumlah penduduk orang asli Papua pada tahun 2050 tersisa 30 persen, sedangkan orang non-asli Papua berkembang menjadi 70 persen.

Ada dua contoh bukti kepunahan orang asli Papua ini. Contoh pertama, menurut sejumlah sumber terpercaya, jumlah orang asli Papua di Kota Jayapura (orang Numbay) hanya tersisa 3.000 jiwa. Contoh kedua, lagi-lagi menurut sumber terpercaya, jumlah orang Marind di Kabupaten Merauke hanya tersisa 40 persen dari seluruh poupulasi yang ada di kabupaten tersebut. Tentu saja hal yang sama juga dialami oleh dan/atau mengancam beberapa suku lainnya. Bahkan diperkirakan kurang dari 10 suku di Papua telah punah dan lebih dari 100 marga di Papua telah punah.

Orang asli Papua juga sedang mengalami kehilangan penguasaan dan kepemilikan tanah adatnya. Hal ini disebabkan oleh dua faktor. Pertama, tanah sengaja dijual kepada pihak lain. Secara umum tanah dijual tanpa mempertimbangkan proses pelepasan yang semestinya, kepatutan harga, dan konsekuensi masa depannya. Ironisnya lagi, dalam sejumlah kasus kebanyakan tanah dijual dengan harga yang sangat murah, bahkan hanya dengan mie instant, ikan sarden, rokok, minuman keras, jasa seks (perempuan), dan bahan “kebutuhan” lainnya. Kedua, tanah dicaplok/dirampok oleh penguasa (TNI, POLRI, dan pemerintah) dan pengusaha (investor multinasional, investor nasional, maupun pengusaha kelompok/perseorangan). Dalam seluruh prosesnya ini, selalu ada manipulasi legitimasi atau pengesahan oleh pemerintah, misalnya melalui rekayasa penerbitan sertifikat tanah oleh Badan Pertanahan Nasional dan proses persidangan di pengadilan yang merugikan orang asli Papua sebagai penguasa dan pemilik asli tanah adat.

Ada tiga contoh bukti kehilangan penguasaan dan kepemilikan tanah ini. Pertama, pencaplokan 1,2 juta hektar tanah di Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, dan Kabupaten Mappi oleh penguasa dan pengusaha untuk kepentingan program MIFFE. Kedua, penguasaan sebagian besar tanah di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura (tentu saja termasuk kabupaten lainnya di Papua) oleh PT Bintang Mas melalui anak perusahaan PT Skyline Kurnia (kami selalu menyebutnya “Ondoafi China”). Ketiga, penguasaan sebagian besar tanah di Kabupaten Biak Numfor oleh TNI AD, TNI AU, dan TNI AL (kami selalu menyebutnya “tiga Ondoafi besar”).

Jika ini yang terjadi, pertanyaannya, apa arti pembangunan? Atau dengan pertanyaan lain, pembangunan di Papua untuk siapa? Sehebat apapun cita-cita tentang pembangunan dan kesejahteraan, sama sekali tidak berguna kalau orang asli Papua semakin punah dan kehilangan penguasaan dan kepemilihan tanah adatnya.

Oleh : Yakobus Odiyaipai Dumupa
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI