Berita Terbaru :
Home » » Ratapan Tanah Sorga : Tragedi Penderitaan Seorang Pemuda Papua Dalam Bayang-Bayang Penjajahan

Ratapan Tanah Sorga : Tragedi Penderitaan Seorang Pemuda Papua Dalam Bayang-Bayang Penjajahan

Written By Odiyai Wuu on Kamis, 04 Desember 2014 | 00.05

Ratapan Tanah Sorga:
Tragedi Penderitaan Seorang Pemuda Papua Dalam Bayang-Bayang Penjajahan

 

Judul : 
Ratapan Tanah Sorga: Tragedi Penderitaan Seorang Pemuda Papua dalam Bayang-bayang   Penjajahan

Penulis : 
Yakobus Odiyaipai Dumupa

Penerbit :
Paradise Press

Tahun terbit : 
2008

Sekilas Isi Buku :
Novel ini adalah kisah nyata semua bentuk penjajahan Indonesia di Papua. Dalam kisah ini, saya menempatkan diri dalam dua posisi sekaligus, yaitu sebagai korban dan sebagai saksi. Saya menjadi korban dengan dua alasan. Pertama, karena saya mengalaminya sendiri. Kedua, karena dialami pula oleh nenek moyang dan saudara-saudari sebangsa saya yang antara mereka dan saya terikat oleh “darah” biologis dan kebangsaan. Saya menjadi saksi karena semuanya terjadi di depan mata saya dan diceritakan secara turun-temurun oleh orang tua saya dan nenek moyang kami sebelumnya.

Beban sebagai korban dan saksi tidak dapat saya pendam. Ya, ibaratnya bom waktu yang hanya menunggu waktunya untuk meledak. Ketidakmampuan saya sebagai manusia untuk meredam semuanya, akhirnya meledak dalam novel ini, walau saya sadari bahwa saya – sebagaimana semua orang Papua – dipaksa untuk meredam semua duka nestapa itu dalam dekapan bedil, sepatu lars, pisau sangkur dan api dan berbagai cemoohan konyol lainnya. Saya tidak perduli sama sekali dan malas tahu dengan bentuk pertanggung jawaban yang diminta oleh negara ini kepada saya jika dianggap “pemberontak” atau “separatis” atau “subversi” dengan menceritakan kisah penderitaan saya dan bangsa saya.

Saya menceritakan semua duka nestapa yang saya alami dan saya saksikan sesuai dengan perjalanan waktu sejak saya dilahirkan dengan identias saya sendiri hingga sekarang ini. Semua kekerasan dan cemoohan yang sering berakhir pada kematian “atas nama” kedaulatan negara  dan kesatuan bangsa dapat dibaca dalam setiap penggal novel ini.
Sialnya, “kedaulatan manusia” sama sekali dibuat “tak bernilai”. Tapi itulah kenyataannya!

Yakobus Odiyaipai Dumupa
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI